Monthly ArchiveApril 2008
17tahun &Cerita Dewasa 29 Apr 2008 07:01 am
Gairah siswi PKL
Dulu aku sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang automotive di daerah Bekasi. Ditempat itu, sebut saja PT. BT, jumlah karyawannya cukup banyak. Tapi bukan itu yang menyebabkan aku menurunkan tulisan ini. Selain karyawan, disana terdapat beberapa siswi yang sedang melakukan PKL. Diantara siswi tersebut, salah satu diantaranya, telah membuat aku seperti kembali merasakan cinta (yang dulu pernah hilang bersama Galuh).
Siswi tersebut, kita sebut saja namanya Muti, diperbantukan di departemen Personalia, sedangkan aku, bekerja di departemen PPIC. Sebenernya ruang kerja kami agak berjauhan, tetapi karena sama-sama mengerjakan jenis pekerjaan yang menyangkut dengan data, maka setiap hari, kami selalu bertemu ditempat foto copy.
Awalnya sih, aku hanya sekedar mengagumi kecantikannya, karena dengan hidung yang bangir, bentuk bibir yang sensual, dihiasi lesung pipit di kedua pipinya, membuat semua yang ada didirinya terlihat sempurna. Hari demi hari kami terlihat semakin akrab, bahkan banyak teman-temanku yang menyangka kalau aku sedang PDKT dengannya. Semua anggapan temanku, tidak terlalu aku pikirkan, karena aku merasa, Muti disini sedang belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolahnya, dan sebagai seorang karyawan di PT. BT, aku hanya sekedar membimbing dan membantu, jika seandainya ada sesuatu hal yang dia belum mengerti. Hampir dua minggu aku mengenalnya, ternyata sikap dan kelakuannya semakin membuat aku terpesona.
Ketika aku mendengar gurauan salah seorang temanku, yang mengatakan kalau dia berani memberi Rp. 500.000,- kepada Muti, jika Muti mau menemaninya selama 2 jam, perasaanku malah semakin care sama si Muti. Timbul perasaaan cemburu ketika mendengar gurauan itu. Namun aku tidak berani untuk mengungkapkannya, karena saat itu diantara aku dan Muti, tidak mempunyai hubungan yang terlalu istimewa. Akupun merasa wajar, jika temanku berkata demikian, karena dengan wajah secantik itu, jika memang Muti memanfaatkan tubuhnya, mungkin harganya bisa diatas Rp. 350.000, per dua jam (harga tersebut diatas, adalah harga rata-rata seorang massage girl yang sudah dianggap cantik).
Suatu ketika, bersama seorang temannya yang bernama Emma, Muti menuju meja kerjaku, awalnya sih bertanya tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan keperluannya, mungkin karena merasa sudah akrab, Muti juga bertanya tentang no. HP ku, alasannya sih biar gampang saja, kalau nanti dia mau nanya sesuatu. Sambil tetap memperhatikan monitor, aku menyebutkan satu persatu nomernya. Ketika mereka ikut memperhatikan cara kerjaku, tiba-tiba, “buukkk..” tanpa sengaja, tangan Emma menyenggol buku yang aku simpan disisi meja. Aku langsung mengambil bukunya dengan cara berjongkok.
Alamak.. ketika berjongkok, tanpa sengaja sudut mataku melihat sesuatu yang sangat indah, dua pasang paha mulus terpampang didepan wajahku. Bukan hanya itu, karena posisi kaki Muti ketika duduk, agak mengangkang, maka ketika ku perhatikan, dipangkal pahanya terlihat pemandangan yang cukup menggelitik kelelakianku. Ku lihat dia memakai CD berwarna Pink, dengan hiasan renda di sisinya. Mungkin karena mereka terlalu fokus memperhatikan hasil pekerjaanku, mereka tidak menyadari (atau memang sengaja?) kalau di bawah meja, aku sedang menikmati apa yang seharusnya mereka tutupi.
Karena takut mengundang kecurigaan dari teman sekerjaku, terpaksa aku kembali duduk dan menerangkan tentang cara kerja di PT. BT kepada Muti dan Emma. Namun kejadian yang baru saja aku alami, tetap mengganggu pikiranku. Mungkin karena aku tidak konsentrasi dengan apa yang sedang kami bicarakan, Muti bertanya.
“Pak, kok kadang-kadang ngejelasinnya tidak nyambung sih..”.
Sebenarnya aku malu mendapat pernyataan seperti itu, namun karena merasa sudah akrab, aku berbisik kepada Muti dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Bukannya malu, Muti malah tersenyum mendengarnya.
“Kenapa tidak disentuh saja Pak, biar tidak penasaran”, goda Muti.
Emma yang tidak tahu apa-apa, hanya bengong mendengar pembicaraan kami. Sebagai seorang lelaki, mendengar penawaran Muti, aku malah berpikir yang tidak-tidak, dan membayangkan apa yang ada dibalik CD nya itu. Namun semuanya berusaha aku redam, karena walau bagaimanapun, di PT. BT ini, aku harus JAIM (Jaga Imej), agar aku tidak mendapatkan masalah.
Bel istirahatpun berbunyi, dan kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Baru saja aku selesai makan, Muti mendekatiku dan berbisik “besok Bapak saya tunggu di Hero sekitar jam 09.00 pagi, ada yang ingin saya bicarakan, saya tunggu didepan ATM”. Walau singkat, tapi tetap membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa-yang akan dibicarakan? Mengapa waktunya hari sabtu, padahal kan setiap hari sabtu PT. BT libur. Mengapa dia berbisik sangat pelan kepadaku, apa takut terdengar yang lainnya?.
Besoknya, dengan tetap berpakaian rapi (seperti jika mau berangkat kerja), aku mengeluarkan motorku dan beralasan lembur kepada kedua orang tuaku. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan, karena sampai di Hero, jam baru menunjukkan angka 07.30, Setelah mencari sarapan, sambil ngerokok, aku iseng-iseng ikut ngantri ATM, padahal cuma mau liat saldo doang, karena uang yang ada di dompetku, masih ada sekitar Rp. 400.000,-.
Dari jauh, aku sudah tahu kalau gadis yang menuju kearahku adalah si Muti, dan pagi ini, dia terlihat sangat sexy, karena Muti hanya mengenakan kaos dan celana jeans ketat.
“Udah lama ya Pak? Kan Muti janjinya jam 09.00, sekarang baru jam 08.45, Muti tidak salah khan?”,
“Jangan panggil aku Bapak dech Mut, aku kan belum nikah, dan ini bukan di kantor, panggil namaku saja dech, biar bisa lebih akrab”.
“Ok deh Pak, eh Fik”, sambil tersenyum Muti langsung menggandeng tanganku.
“Fik, enaknya kita ke mana yach”, tanya Muti.
“Terserah, emang mau ngomongin apaan, kayaknya pribadi banget”.
“Ngga juga, Muti seneng saja kalau deket ama Fik, kenapa ya?”
“Mau tahu jawabannya”, candaku.
“Ngga usah Fik, Muti juga udah tahu, Muti rasa Muti menyukai Fik”, jawab Muti polos.
Tanpa disadari, mungkin karena saking senengnya, aku yang sejak awal memang mengagumi Muti, langsung memeluknya. Mendapat perlakuan begitu, Muti mencoba melepaskannya, dan mengingatkan, kalau kita masih ada dilokasi umum, tidak enak terlihat banyak orang. Akhirnya kami memutuskan mencari tempat yang cocok untuk berduaan. Tapi karena yang aku tahu cuma hotel tempat satu-satunya yang cocok untuk berduaan tanpa takut terlihat orang lain, walau terlihat agak ragu, Muti akhirnya menyanggupinya.
Sekitar jam 09.30, kami sudah sampai di front office hotel BI, dan mengambil sebuah kamar dengan fasilitas TV dan AC. Dengan agak ragu Muti memasuki pintu kamar (mungkin karena baru pertama kalinya), dan dia agak terkejut melihat fasilitas yang terdapat di dalamnya. Apalagi ketika dia melihat kamar mandinya.
“Enak juga ya Fik, kita bisa ngobrol berduaan disini, tanpa takut akan terdengar atau terlihat oleh orang lain”.
Muti langsung merebahkan badannya ke ranjang, dan mencari siaran TV yang khusus menyiarkan acara musik. Kebetulan banget lagunya adalah lagu-lagu romantis, yang secara tidak langsung, ikut mempengaruhi suasana hati kami.
Lewat aiphone, aku memesan makanan dan soft drink. Ketika aku menyalakan rokok, terdengar suara room boy mengetuk pintu dan mengantarkan pesananku. Aku mendekati Muti yang sedang rebahan, maksudnya sih mau nawarin makanan, tapi Muti langsung bangun dan bertanya.
“Fik, apakah Muti salah bila Muti mencintai Fik, Muti sebenernya malu mengakuinya, tapi bila tidak diungkapkan, Muti takut kalau Fik tidak mengetahui apa sebenernya yang Muti harapkan. Maafin Muti yach, Muti udah ngerepotin Fik, padahal kan sekarang waktunya libur dan istirahat, tapi Muti malah meminta Fik menemui Muti”.
Aku terharu juga mendengar kejujuran dan kepolosannya, akhirnya setelah mendengarkan semua tentang apa yang ada dihatinya, sambil membelai rambutnya (agar perasaannya menjadi lebih tenang), aku pun berusaha meyakinkannya, bahwa semua yang dialami, adalah wajar, jika seseorang mencintai lawan jenisnya, dan tidak ada yang namanya salah, jika sudah menyangkut perasaan hati.
Ketika dia menatapku dengan tatapan yang tajam, secara perlahan aku mencium keningnya. Tapi ternyata, yang kulakukan itu malah membuat Muti berani untuk membalas ciumanku. Dia langsung melumat bibirku, dan seperti seseorang yang tidak mau kehilangan sesuatu, dia memelukku dengan erat sekali. Sambil terus menikmati bibirku, tangannya terus mengelus dan mengusap seluruh bagian tubuhku. Mungkin beginilah cara dia mengungkapkan rasa sayangnya terhadap diriku. Tapi sekarang aku yang bingung, karena dengan melihatnya bentuk tubuhnya saja (waktu di kantor), bisa membuat aku “konak”, sekarang seluruh tubuhnya sudah melekat erat ditubuhku (walau masih memakai pakaian lengkap).
Kedua payudaranya terasa makin mengeras, akhirnya kuputuskan untuk menikmati keadaan ini, karena jujur saja, kadang-kadang, dulu akupun sering menghayalkan betapa nikmatnya jika bercumbu dengan si Muti, apalagi jika berjalan di belakangnya, goyangan pantatnya ngajakin kita jual tanah (maksudnya ntar duitnya buat ngebayarin pantatnya, he.. he.. he..). tanganku mulai berusaha membuka kaosnya, karena aku tidak mau pandanganku yang tertuju kepada kedua payudaranya, terhalang oleh kaos yang ia kenakan.
Pelan namun pasti, akhirnya bukan hanya kaosnya yang berhasil aku buka, BH nya pun sudah aku lepaskan. Sejenak aku terpana melihat keindahan bentuk payudaranya itu, namun hanya sebentar, karena aku ingin segera menikmati dan merasakan keindahan itu, kuremas kedua susunya, dengan mesra aku mulai menghisap putingnya yang sudah agak mengeras dan berwarna kecoklatan. Kucium dan kujilati bagian tubuhnya, mulai dari leher, terus bergerak turun dan menuju putingnya kembali.
“Yaa.. hisap terus sayaangg.. aacchh.. ennaakk banget Fik.. geli.. tapi nick..maaattt.. teeeruuus.. aaccchhh..”
Muti terus meracau menikmatinya. Aku terus merangsangnya, dan mencoba membuka celana jeans yang dipakainya, lantaran jeans yang dikenakannya sangat ketat, aku kesulitan untuk membukanya, untungnya Muti mengerti, dengan agak mengangkat pantatnya, dia mulai mencoba menurunkan jeansnya sendiri. Dengan sabar, aku menunggu dan terus mempermainkan susunya. Setelah jeansnya terlepas, tangan Muti berusaha untuk membuka semua yang aku kenakan. Satu persatu jari tangannya membuka kancing kemejaku, dan setelah berhasil membuka baju dan celana yang aku pakai, Muti hanya menyisakan CD saja yang masih melekat ditubuhku.
Mungkin dia masih ragu untuk membukanya, karena diapun masih mengenakan CD. Walau diwajahnya terlihat, kalau dia sedang diamuk birahi, namun dia masih bisa menguasai pikirannya, aku yakin dia merasa takut di cap sebagai cewe yang agresif dan takut jika aku tidak menyukai tindakannya. Namun aku tetap menikmati suasana yang terjadi di dalam kamar hotel ini. Aku terus merangsang birahinya, ciumanku aku arahkan kedaerah perutnya, terus kebawah menyusuri lubang pusarnya, dan kedua tanganku, bergerak untuk membuka CD yang masih melekat ditubuhnya. Secara perlahan aku mencoba membuka CD nya, sambil terus mencumbunya, aku menciumi setiap daerah yang baru telihat ketika CD nya mulai bergerak turun. Muti sangat menikmati semua sentuhan yang aku berikan, bahkan ketika CD nya telah terlepas, dan aku mulai menjilati memeknya, dia terus mendesah dan malah membuka pahanya lebar-lebar agar lidahku bisa menjilati bagian dalam memeknya.
Dengan keharuman yang khas, memek itu telah membuat aku betah berlama-lama mencumbuinya. Aku terus menjilati, dan dengan jari telunjukku, aku coba merangsang dia dengan memainkan kelentitnya. Semakin aku percepat memainkan jari telunjukku, semakin cepat pula dia menggoyangkan pantatnya. Muti terus mendesah dan meracau tak karuan.
“Aacchhhh.. terus sayang.. nikmatnya.. teruzzsss.. lebih ke dalam lagi Fik.. teruuzzss.. yacchhh.. benar.. jilati terus yang.. itu.. sayang.. accchhh”.
Karena rangsangan yang dia terima makin hebat, pantatnya bukan hanya digoyang-goyangkan, tapi malah diangkat-angkat ke atas, mungkin tujuannya agar lubang memeknya yang lebih dalam ikut tersentuh oleh lidahku. Dengan bantuan jari-jariku, aku terus mengaduk-aduk isi memek Muti, aku sentuh G-Spotnya secara perlahan, dia langsung menggelinjang, lalu kuelus G-Spotnya nya dengan jari tengahku, Muti makin liar, seperti orang yang sedang ngigau, dia meracau tak karuan, tak jelas suara apa yang keluar dari mulutnya, karena yang aku tahu, lubang memeknya sudah sangat basah oleh cairan kemaluannya, seluruh tubuhnya seperti menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya langsung terdiam dan tergolek dengan lemas.
Melihat Muti sudah mencapai orgasme, aku berusaha untuk tenang, tetapi kontolku sudah sangat tegang (walau masih tertutup oleh CD) dan ingin segera merasakan nikmatnya memek Muti. Aku segera mencium dan menjilati “lubang surga” itu, agar Muti bisa merasakan apa yang namanya multi orgasme. Usahaku ternyata berhasil, karena hanya dalam beberapa menit, tubuhnya kembali bergetar dan menegang. Diiringi desahannya yang sangat menggairahkan, Muti kembali merasakan kenikmatan itu.
Karena beberapa kali mengalami orgasme, Muti terlihat sangat lelah, meski tak dikemukakan, terlihat jelas bahwa dia sangat puas dengan oral yang aku lakukan. Dengan tersenyum, dia mencoba untuk melepaskan CD yang masih melekat ditubuhku. Tanpa ragu, dia mulai menjilat dan mengulum kontolku. Mendapat perlakuan seperti itu, aku yang semula mendominasi permainan, hanya diam saja menikmati permainan Muti. Dengan bibir indahnya, dia mengulum dan mengeluar masukan kontolku ke dalam mulutnya, dan sesekali, dengan menggunakan kelembutan lidahnya, dia mengusap dan menjilat kepala kontolku.
Gila.. ternyata Muti bukan hanya indah buat dilihat, ternyata Muti mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam merangsang dan memanjakan kita dalam permainan seksnya. Aku berusaha agar tidak sampai kebobolan ketika dia melakukan oral terhadapku, namun kenyataannya, semua spermaku telah memenuhi mulutnya, ketika secara reflek, aku menjambak rambut dan menarik kepalanya sambil mendesah menahan kenikmatan saat spermaku akan keluar. Tanpa perasaan jijik, Muti menelan semua sperma yang ada di dalam mulutnya, seperti tidak puas, dia menjilati kontolku yang masih ada sisa-sisa spermanya.
“Fik, enak juga ya rasa sperma lo, gurih-gurih gimana gitu..”, kata Muti memuji.
Aku hanya tertawa sebentar mendengarnya, karena bola mataku tetap memandang lekuk-lekuk tubuh Muti yang telanjang tanpa sehelai benangpun menutupinya. Kuperhatikan lagi “lembah” yang dihiasi oleh bulu-bulu halus itu, ternyata, warnanya agak memerah, mungkin karena tergesek oleh lidah dan jari-jariku.
“Makasih ya Mut..”, kataku sambil menciumi memeknya.
“Fik, boleh tidak kalau Muti minta memek Muti di jilatin lagi, abis enak banget sih..”, tanya Muti sambil memohon.
“Boleh saja sih, tapi boleh tidak kalau Fik ngentot Muti, soalnya kontol Fik udah tidak kuat nich, pengen buru-buru berada di dalam memek Muti. Boleh yach?”
“Muti takut Fik, kata temen-temen Muti, rasanya sakit banget, tidak mau ah.. ntar kalau sakit gimana?”, tolak Muti.
“Pokoknya Muti rasain saja nanti, Fik apa temen Muti yang salah”, kataku sambil mulai menjilati memek Muti.
Dengan melebarkan pahanya, dan mempergunakan kedua tangannya, Muti membantu melebarkan memeknya agar mempermudah ku di dalam mencumbui memeknya. Kujilati klitnya hingga dia menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat yang dia terima.
Sengaja aku terus menjilati klitnya, agar dia diamuk oleh gairahnya sendiri, ketika kulihat tubuhnya mulai menegang, dan mengalami orgasme, entah untuk yang keberapa kali, aku langsung memindahkan cumbuanku kedaerah putingnya yang sudah sangat kencang. Kuciumi bagian bawah susunya, kusedot dan kumainkan lidahku di daerah tersebut.
“Fik.. enak sekali sayang.. acchhh.. ooohhhh..”
Muti menggelepar menahan birahinya yang semakin besar. Kulihat jari lentik Muti mulai bermain dibibir kemaluannya sendiri, dia terus mengelus, dan sekali-sekali memasukan jarinya ke dalam lubang memeknya yang sudah sangat basah karena banyaknya cairan pelicin yang keluar dari dalam memeknya memeknya. Sambil tetap membenamkan wajahku diantara dua gunungnya, tanganku secara perlahan menarik tangan Muti yang sedang asik mengeluar masukan jarinya. Awalnya dia menolak, tapi ketika aku bimbing jarinya kearah kontolku, Muti langsung menggenggam dan mengocoknya.
Setelah agak lama, aku meminta Muti agar dia berada diatas tubuhku yang sudah dalam posisi berbaring. Dengan perlahan, dia menaiki tubuhku. Sengaja aku menggesek-gesekan kontolku diantara lubang memeknya, ternyata benar, apa yang aku lakukan telah membuat kenikmatan yang dirasakan oleh Muti makin menjadi-jadi, diapun mulai bergerak menggesekan kontolku ke bagian luar memeknya. Akhirnya, walau dengan posisi berada di bawah, tanpa sepengetahuan Muti, aku berusaha mengarahkan kontolku agar bisa memasuki lubang memeknya. Muti terus menggerakkan dan menggesekan memeknya, dan tanpa disadarinya, ternyata kepala kontolku mulai bergerak memasuki memeknya ketika dia menggerakan pantatnya dari atas ke bawah.
Terasa lembut sekali ketika kepala kontolku menyentuh bagian dalam dari lubang surganya, ada perasaan nikmat yang sulit untuk diungkapkan, dan tanpa terasa, sudah seluruh bagian kontolku berada di dalamnya. Seperti kesetanan, Muti terus menggoyangkan pantatnya, sesekali terdengar rintihan dan erangannya. Akupun terus mengeluar masukan kontolku ke dalam lubang memeknya (walau agak sulit karena posisiku berada di bawah).
Secara reflek Muti langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuhku ketika dia sudah mencapai orgasmenya. Namun karena aku belum orgasme, aku langsung membalikan badannya agar berada di bawah tubuhku. Dengan sedikit santai, aku terus menggerakan “junior”ku, namun karena tubuh Muti yang bersih dan terawat, birahiku tidak bisa mengerti jika aku ingin lebih lama menikmati kemulusan tubuhnya. Akhirnya spermaku keluar di dalam kehangatan lubang memeknya.
17tahun &video bokep 29 Apr 2008 01:05 am
Mau Bercinta koq malah bobo?
“Sayang.. bangun.. bangun.. ayolah bangun.. kan kita mau bercinta? koq sayang malahan bobo sih?? uhhh sebel deh… aq godain ya? tak ubek2 memekmu ya syang..”
Begitulah video bokep yang ada di bawah ini, si cowok mau ngajak ml ehh si cewek malahan bo2.. hehehe..
Download disini gih
Postingan sebelumnya :
- Ritual Bercinta di mulai dari?
- Guru wali kelas anakku
- Teman baikku bernama Yuni
- Memperawani Gadis Tomboy
- Perawanku telah direnggut..
17tahun &video bokep 27 Apr 2008 07:27 am
Ritual Bercinta di mulai dari?
Bagi bro bro semua yang sering bercinta, sudah pasti tahu urutannya kalau ingin bercinta, ya kan ? mulai dari lepas baju, celana, celana dalam, cium2 sampai ke tahap yang paling ditunggu2.. tapi bagi bro-bro yang belum tahu urutannya? atau bagi yang pengen ngeliat bagaimana video bokep tentang bercinta di bawah ini?
Download disini.
Postingan sebelumnya :
- Guru wali kelas anakku
- Teman baikku bernama Yuni
- Memperawani Gadis Tomboy
- Perawanku telah direnggut..
- Anjritt.. cewek ini di perkosa
17tahun &Cerita Dewasa 25 Apr 2008 08:21 am
Guru wali kelas anakku
Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.
Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku.
Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Diana dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Diana. Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.
Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama-sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku itu.
Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap-siap untuk menyambutnya. Setelah guru Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.
Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiap-siap, aku menyuruh Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.
Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku.
Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai “Seatbelt”, dia langsung jatuh kedalam pelukanku. Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh. Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan ‘bisnis’nya.
Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak.
“Bu.. ada apa?” aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu. Tapi tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku. Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan-pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya.
Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku, “Kamu akan merasakan seperti di surga.” Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu.
“Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?”
“Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu.”
Gile sudah direncanaka!
Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku. “Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno.”
Diana mulai mengisap-isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya). “Aaarghh.. argh..” aku baru sekali senikmat itu. “Kamu mulai bergairah kan, Sayang?” Baru kali itu dia memanggilku sayang. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu. “Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh… ahhh” Diana mulai mengerang-ngerang. Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi puting susunya yang berwarna pink. “Aahhh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali.” Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat. Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah. “Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih perawan.”
Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan-pelan, sempit sekali. Benar-benar masih perawan, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua. “Aaakkhhh…” lagi-lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya. “Ngghhh.. Rickkk.. gede banget.. aanggghh.. indah sekali rasanya.”
Kemudian kami mengganti posisi nungging. “Plok.. plok.. plok..” suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya sendiri. “Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!” Tidak lama kemudian akupun keluar juga.
Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya kembali. “Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama.” Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.
Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya, “Diana, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry..” Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi.
Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana langsung berkata kepadaku, “Ricky, aku juga ingin memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa bersama-sama mendidik Jerry.” Setelah kejadian itu, Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.
17tahun &Cerita Dewasa 25 Apr 2008 08:17 am
Teman baikku bernama Yuni
Aku telah melakukan kegiatan seks dgn beberapa wanita lain. Berkat bimbingan Mbak Wulan aku jadi lumayan ahli dlm hal seks untuk anak seumurku (20 thn-an) pada waktu itu. Aku pun jadi percaya diri dlm berhubungan dgn wanita.
Setelah berhubungan seks dgn bbrp wanita aku jadi menarik kesimpulan bahwa ada dua jenis manusia dlm urusan syahwat ini. Yg pertama adalah yg menurut istilahku sendiri aku sebut “pelahap seks” dan yg kedua adalah “penikmat seks”.
Pelahap seks dan penikmat seks sebetulnya adalah sangat mirip, keduanya sama² sangat menyukai seks. Bedanya, pelahap seks biasanya melakukan kegiatan seks hanya untuk memenuhi birahinya saja. Ibarat orang makan itu tujuan utamanya adalah mencari kenyang, kurang mementingkan rasa dari apa yg dia makan. Jangan salah, pelahap seks tidak harus orang yg hyper-sex, nafsu birahi dia bisa biasa² saja.
Sebaliknya, seorang penikmat seks melakukan kegiatan seks dgn tujuan utama menikmati seks itu sendiri. Ibarat orang makan itu dia lebih mementingkan cita rasa makanannya. Kadang sekalipun dia tidak makan kenyang tapi bisa menikmati apa yg dia makan. Agak susah memang menerangkan hal ini, tapi itu lah yg aku simpulkan.
Mbak Wulan (dan aku) adalah para penikmat seks. Kami sangat menikmati apa yg kami lakukan tanpa harus berbuat berlebihan.
Berbeda dgn para wanita lain yg pernah berhubungan seks dgnku, mereka semua masuk kategori pelahap seks. Memang selama melakukan kegiatan seks dgn mereka aku selalu “kenyang” tapi hampir² tidak bisa menikmatinya secara lahir bathin. Semuanya berlalu tanpa kesan. Aku sampai agak pesimis apakah aku akan menjumpai seorang wanita penikmat seks seperti Mbak Wulan. Sampai satu saat aku bercinta dgn Yuni.
Maaf kepada para pembaca kalau pendahuluanku terlampau panjang dan berlarut. Se-mata² aku hanya ingin memberikan gambaran bathin apa yg aku rasakan sehingga para pembaca bisa lebih memahami apa yg aku rasakan dalam cerita pengalaman nyataku berikut ini.
Hubunganku dgn Yuni sebetulnya cukup dekat. Kami adalah teman kuliah satu angkatan dan satu jurusan. Jadi hampir setiap hari kami bertemu. Kami sering mengerjakan tugas² bersama. Saling menceritakan kehidupan pribadi kami bukan hal yg asing antara aku dan Yuni. Kami sudah menjadi sahabat yg cukup akrab. Aku juga tahu bahwa Yuni sudah punya pacar sejak SMA dan mereka sudah merencanakan untuk menikah setelah Yuni lulus nanti. Saat itu kami masih di semester 6.
Secara fisik Yuni cukup menarik. Wajahnya berbentuk oval dan manis. Tidak terlalu cantik tapi jelas tidak bisa dikatakan jelek. Tingginya sekitar 160 cm, beratnya seimbang. Rambutnya dipotong pendek dgn poni di dahinya. Kulitnya cukup putih untuk ukuran orang Indonesia. Pokoknya tidak memalukan lah kalau kita ajak jalan dia di tempat umum. Sayang ada satu kekurangannya, Yuni kurang bisa bersolek, kesannya malah agak tomboy. Ke-mana² dia hampir selalu pakai celana jeans dgn kemeja agak longgar. Padahal perilakunya sangat feminin, jadi agak kontras dan kurang cocok.
Sore itu aku sedang mengerjakan tugas di perpustakaan kampus. Yuni juga kebetulan ada disana, tapi dia di meja lain dgn beberapa teman. Aku asyik mengerjakan tugasku sendiri sehingga aku tidak memperhatikannya. Tiba² ada orang yg duduk di seberang meja. Aku lihat ternyata Yuni.
“Ngerjain apa Ben? Kok asyik banget”
“Eh … ini tugas makalah metodologi. Kamu udah selesai Yun?”
“Yuni mah udah kelar kemarin².”
“Enak dong udah bisa santai, aku juga udah hampir selesai kok.”
“Ben ke kantin yuk … haus nih.”
Aku bereskan kertas² tugasku lalu aku kembalikan buku² referensi ke raknya. Kami berdua berjalan bareng ke kantin. Obrolan kami lanjutkan di kantin sambil minum.
“Yun, aku kok udah lama ndak liat kamu sama Mas Robby. Kemana dia?”
Mas Robby adalah pacar Yuni. Dia sudah bekerja tapi biasanya suka menjemput Yuni di kampus. Aku tidak terlalu kenal dia cuman sebatas “say hello” saja.
Mendengar pertanyaanku tadi Yuni cuma menghela napas panjang. Wajahnya yg manis tiba² tampak muram. Dgn agak lirih dia menjawab,
“Kami sudah putus Ben.”
“Oh … sorry Yun. Kalau boleh tahu, kenapa Yun?”
Yuni kembali menghela napas panjang. Aku tahu mereka sudah pacaran cukup lama, mungkin ada lebih dari 3 thn. Jadi aku tahu bagaimana perasaan Yuni saat itu. Pasti berat buat dia.
Akhirnya Yuni bercerita kalau Mas Robby ternyata dekat dgn wanita lain. Ketika Yuni minta penjelasan dari dia ternyata Mas Robby malah marah². Akhirnya dua minggu yg lalu Yuni tidak mau lagi ketemu dgn dia. Sungguh malang nasib Yuni, padahal mereka sudah begitu dekat dan mereka sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Secara eksplisit memang Yuni tdk pernah bicara ttg hal ini kepadaku, tapi dari gelagatnya aku yakin itu.
Pembicaraan kami sore itu jadi melankolis dan kelabu. Seperti mendung kelabu yg menggelayut di langit. Satu hal yg aku kagumi dari Yuni, dia begitu tegar menerima kenyataan ini. Tak ada setitik air mata pun yg mengambang di matanya saat menceritakan perpisahannya dgn Mas Robby.
Langit sudah agak gelap pertanda datangnya senja ketika kami keluar dari kantin untuk pulang. Aku tawarkan Yuni untuk mengantarnya pulang dan dia setuju. Dalam perjalanan pulang, Yuni yg duduk di boncengan motorku tak berkata sepatah pun. Kami pun sampai di rumah Yuni.
“Masuk dulu yuk Ben,” ajak Yuni sambil membuka kunci pintu rumahnya.
Beberapa kali aku pernah mengantar pulang Yuni tapi aku tidak pernah mampir ke rumah Yuni. Kali ini kebetulan aku kebelet kencing, jadi aku mau diajak masuk rumahnya.
“Aku mau numpang ke kamar mandi Yun.”
“Disitu Ben,” Yuni menunjuk ke salah satu pintu.
Aku segera menuntaskan urusanku di kamar mandi. Rumah Yuni sangat sederhana tapi sangat bersih dan tertata rapi. Keluarga Yuni memang bukan golongan orang yg berada. Senja itu suasana rumah Yuni sepi² saja.
“Kok ndak ada orang Yun. Orangtuamu kemana?”
“Sudah 2 hari di rumah Mbak Dewi di Solo. Dia kan baru saja melahirkan anak pertama.”
Yuni pernah cerita kalau dia hanya dua bersaudara. Kakaknya, Mbak Dewi, sudah menikah dan tinggal di Solo. Jadi saat itu Yuni sendirian di rumah.
Aku baru saja hendak berpamitan dgn Yuni ketika tiba² mendung tebal yg sedari tadi menggantung di langit turun menjadi hujan yg cukup lebat.
“Pulang ntar aja Ben, Hujan tuh. Yuni bikinin kopi ya.”
Tanpa menunggu jawabanku Yuni segera ke dapur dan aku dengar detingan cangkir beradu dgn sendok. Aku duduk di sofa di ruang tamu yg sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga itu. Tak berapa lama Yuni muncul dgn secangkir kopi yg masih mengebul di tangannya.
“Kamu ngopi dulu Ben. Yuni mau mandi dulu bentar.”
Yuni kembali ke dalam dan sejenak kemudian aku dengar deburan air di kamar mandi. Aku duduk santai sambil menghirup kopi hangat yg dibuatkan Yuni. Di luar hujan semakin bertambah lebat sambil sesekali terdengar bunyi guruh di kejauhan. Suasana sudah bertambah gelap, apalagi lampu rumah belum dihidupkan.
Tiba² lampu jadi hidup terang benderang menerangi ruang tamu itu. Ternyata Yuni yg telah selesai mandi menghidupkan lampu. Aku menatap Yuni dgn pangling. Sekarang dia mengenakan kaos ketat berwarna biru tua dipadu dgn celana pendek yg sewarna. Aku melihat Yuni yg lain dari yg aku kenal. Kaos ketatnya memperlihatkan lekuk tubuhnya yg nyaris sempurna yg biasanya tersembunyi di balik kemeja longgarnya. Kulit pahanya yg putih mulus biasanya terbungkus celana jeans. Tanpa aku sadari dari mulutku terlontar kata,
“Kamu cakep dan seksi sekali Yun.”
Yuni tampak tersipu mendengar kata²ku. Dia sedikit tersenyum, guratan kepedihan sudah tak tampak lagi di wajahnya.
“Ngerayu apa ngerayu nih …,” Yuni mencoba menutupi ketersipuannya dgn canda.
“Bener kok Yun … kamu cakep banget.”
Yuni duduk di sofa di ujung yg lain. Kebetulan aku duduk di ujung sofa yg dekat dgn bagian dalam rumah, sedang Yuni di ujung satunya yg dekat pintu. Kami duduk ngobrol sambil mataku tak hentinya mengagumi kemolekan tubuh Yuni. Yuni pun kayaknya suka aku perhatikan seperti itu. Entah sengaja atau tidak, kakinya disilangkan sehingga pahanya yg mulus makin tampak jelas.
Kami masih ngobrol ngalor ngidul ketika kami dikagetkan dgn bunyi guntur yg begitu keras. Seketika itu pula suasana jadi gelap gulita. Ternyata listrik mati. Secara reflek aku berdiri. Aku beranjak ke pintu hendak menyalakan lampu motorku yg aku parkir di teras untuk menerangi sementara. Belum selangkah aku beranjak, aku merasakan tubrukan dgn tubuh Yuni yg ternyata juga sudah berdiri hendak masuk ke dalam.
Tubrukan itu pelan saja sebenarnya, tapi krn terkejut Yuni jatuh tertelentang di sofa dgn kakinya menjuntai ke lantai. Aku pun kehilangan keseimbangan dan menindih tubuh Yuni. Untung siku kiriku masih sempat berjaga di sandaran sofa sehingga Yuni tidak tertindih seluruh berat tubuhku.
Aku rasakan tubuh hangat Yuni menempel di tubuhku. Tanpa sadar dan semuanya terjadi begitu tiba², aku peluk Yuni sambil kukecup keningnya dgn lembut. Yuni tidak bereaksi menolak, dia malah melingkarkan kedua lengannya ke leherku. Aku cium lembut pipi kiri Yuni, dia pun membalas mencium pipi kananku tak kalah lembutnya. Dalam gelap gulita itu, secara alami dan terjadi begitu saja, bibir kami saling bertemu.
Aku cium bibir Yuni dgn sangat lembut. Tidak ada penolakan dari Yuni, dia malah membalas mengulum bibirku. Bibir kami saling berpautan dan melepaskan kemesraan. Aku mulai berinisiatif menjulurkan lidahku dan membelai gigi seri Yuni. Yuni pun membuka mulutnya lebih lebar dan menjulurkan lidahnya saling beradu dgn lidahku. Kami terus berciuman dalam gelap. Petir yg me-nyambar² sudah tidak kami hiraukan lagi. Lidah Yuni yg masih menjulur ke mulutku aku kulum dgn mesra. Sesaat ganti Yuni yg mengulum lidahku.
Entah berapa lama kami saling menikmati ciuman mesra itu. Rasanya aku sangat ingin kejadian itu berlangsung selamanya. Perlahan aku alihkan sasaran ciumanku. Aku mulai menciumi bagian bawah dagu Yuni. Kemudian secara sangat perlahan ciumanku mengarah ke lehernya yg jenjang itu. Aku tidak bisa melihat reaksi Yuni karena gelap, yg aku rasakan hanya belaian lembut di rambutku. Belakang telinga kanan Yuni aku ciumi dgn mesra sambil sesekali aku gigit lembut daun telinganya. Yuni sedikit meronta kegelian.
Dia bereaksi dgn mendengus pelan di dekat telinga kananku. Hembusan nafasnya membuat aku kegelian. Lalu aku rasakan benda lembut yg hangat menggelitik lubang telingaku. Ternyata itu lidah Yuni. Sungguh geli rasanya tapi sangat menggairahkan. Bagi yg belum pernah mengalaminya sendiri tentu susah menggambarkannya. Kami masih saling menggelitik telinga dgn lidah.
Aku agak mengangkat tubuh sedikit ketika tangan Yuni aku rasakan mencari ruang untuk membuka kancing kemejaku. Dalam posisi sulit dan gelap seperti itu Yuni berhasil membuka dua kancing kemejaku yg paling atas. Dia agak merubah posisi sehingga kepalanya tepat berada di bawah dadaku yg sudah terbuka sebagian. Dgn lembut Yuni mulai menciumi dadaku. Tangannya sambil beraksi membuka semua kancing kemejaku. Sekarang dadaku sudah terbuka lebar tanpa terhalang kemeja yg masih aku pakai. Jari² lembut Yuni mulai menggerayangi punggungku. Bibirnya masih menciumi seluruh permukaan dadaku.
Aku agak meronta kegelian ketika kedua bibir Yuni mengulum puting kiriku. Aku belum pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita manapun. Biasanya aku yg melakukan ini terhadap wanita. Sensasinya sungguh sulit di gambarkan. Birahiku mulai bangkit. Tangan kananku mulai meremas lembut payudara kiri Yuni dari luar kaosnya. Buah dada Yuni terasa sangat kenyal dan padat.
Yuni terus menciumi, menjilati dan mengulum kedua putingku, menghantarkan kegelian dan rangsangan ke seluruh tubuhku. Aku masih me-remas² buah dada Yuni. Waktu terus berlalu tanpa kami sadari.
Tiba² mata kami dibutakan oleh terang yg menerpa retina kami. Ternyata listrik telah hidup kembali. Secara reflek kami melepaskan diri satu sama lain. Sambil mengerjapkan mata aku berdiri dan melihat Yuni masih dalam posisi seperti tadi, telentang di sofa dgn kaki menjuntai di lantai. Yuni menatapku dgn penuh kemesraan, tatapan yg belum pernah aku lihat di mata Yuni ditujukan kepadaku. Untuk sesaat aku tak tahu harus berbuat apa.
“Di kamarku aja yuk Ben.” Suara Yuni memecah kebuntuanku.
Yuni bangkit menutup pintu depan dan kami berjalan bergandengan tangan masuk kamar Yuni. Yuni mematikan lampu utama kamarnya lalu ke meja riasnya dan menghidupkan lampu kecil disana. Suasana jadi agak temaram dan makin syahdu.
Kali ini aku ambil inisiatif. Aku peluk Yuni dari depan, aku cium lembut bibirnya. Tanganku memeluk punggungnya. Dengan ibu jari dan jari tengah tangan kananku aku pegang kaitan BH Yuni dari luar kaosnya, dgn gerakan sedikit mengatup dan memelintir lepaslah kaitan BH Yuni. Sepertinya Yuni cukup terkesan dgn “keahlianku”, dia makin mempererat pelukannya sambil mulut kami masih saling berpagut.
Dengan lembut tangan kiriku aku selipkan di balik tepi bawah kaos Yuni lalu aku raba punggungnya. Aku belai² punggung Yuni yg rata, aku nikmati kehalusan kulitnya yg seperti sutera itu. Yuni sedikit meronta sehingga aku melepaskan pelukanku. Kesempatan itu digunakannya untuk melepas kemejaku dgn kedua tangannya. Tak ku sia² peluang itu, aku pun menggamit tepi bawah kaos Yuni menariknya ke atas bersama dgn BH hitam yg sudah lepas kaitannya. Sedetik kemudian kami berdua sudah bertelanjang dada.
Apa yg aku lihat di hadapanku sungguh luar biasa. Sepasang payudara yg benar² indah bentuknya. Penerangan lampu yg redup makin memepertegas silhouette dari buah dada yg padat berisi. Putingnya yg kecil dan bulat menyembul di puncak bukit yg menantang itu. Harus aku akui bahwa sampai saat itu payudara Yuni adalah yg terindah yg pernah aku lihat. Ukurannya tidak terlalu besar meskipun tidak bisa dikatakan kecil. Tapi bentuknya sungguh luar biasa. Seperti sepasang mangkuk yg ditangkupkan di dada tanpa ada kesan melorot sedikit pun.
Rupanya Yuni sadar kalau aku sedang mengagumi payudaranya. Tanpa canggung dia menyangga buah dada kanannya dgn telapak kirinya sambil lengannya menyangga yg kakan. Dgn jari² yg menangkup di dekatkannya kedua bukit indahnya. Tangan kanannya terangkat diletakkan di belakang lehernya. Tubuhnya sedikit meliuk ke belakang. Gerakan ini makin mempertegas keindahan bentuk buah dadanya. Ditambah terpaan sinar lampu lembut dari arah samping, sungguh pemandangan yg tidak pernah aku lupakan sampai hari ini. Tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut Yuni, tapi aku tahu dalam hati dia pasti berkata: “Nikmatilah pemandangan indah buah dadaku Ben.”
Sebenarnya aku masih ingin terus menikmati pemandangan itu, tapi aku tahu aku harus mulai berbuat sesuatu. Aku duduk di tepi ranjang Yuni, aku tarik Yuni mendekat sehingga dadanya tepat ada di hadapanku. Aku ciumi buah dada Yuni secara bergantian. Kadang aku katupkan kedua bibirku di putingnya dan aku pelintir dgn gerakan bibirku ke kiri dan kanan. Yuni menggelinjang penuh kenikmatan. Tangannya me-remas² rambut di kepalaku. Dadanya semakin dibusungkan tanda dia menikmati apa yg aku lakukan.
Aku perhatikan ternyata Yuni bukan orang yg “ribut” kala bercinta. Mulutnya tidak bersuara apa² kecuali desahan lembut nafasnya yg semakin cepat.
“sssssshhhhh …. sssshhhhh …. ssssshhhhhh”
Kedua tanganku me-remas² kedua buah dada Yuni dan mulutku masih sibuk dgn putingnya. Liukan tubuh Yuni semakin menggila tanda rangsanganku semakin tak bisa ditahannya. Sambil masih mengulum putingnya, tanganku menggapai kancing celana pendeknya. Tanpa banyak kesulitan aku berhasil membuka kancing itu krn Yuni juga membantu dgn mengecilkan perutnya sehingga tugasku semakin mudah. Perlahan aku turunkan ritsleting celananya terus aku tarik ke bawah sampai celana pendek Yuni terlepas dan tersangkut di kedua lututnya.
Ternyata Yuni mengenakan CD model mini berwarna hitam, semakin mempertegas warna putih mulus paha dan perutnya. Aku raba lembut bagian depan CD nya, rasanya sudah sangat lembab dgn lendir yg pasti sudah membanjir di kemaluannya. Aku bukan type orang yg ter-buru². Masih dari luar CD nya, aku belai lembut bukit kecil yg menggelembung di dalamnya. Aku tekan² bagian tengahnya dgn jariku. Yuni semakin menggelinjang tanpa mengeluarkan suara apa pun. Hanya desah nafasnya semakin keras dan kuat.
“SSSSHHHHHH …. SSSSSSHHHHHHH …. SSHHHHHHHH …”
Rupa²nya Yuni sudah tidak tahan lagi atas rangsanganku. Dengan kedua tangannya dia renggut CD nya, lalu dia pelorotkan bersama dengan celana pendeknya. Kedua kakinya melangkah bergantian melepaskan kain terakhir yg menutupi tubuh indahnya. Yuni sudah berdiri bugil di hadapanku. Dalam keremangan cahaya, aku lihat bukit kemaluan Yuni yg padat menggembung tanpa sehelai bulu pun disana! Satu lagi pemandangan nan indah yg belum pernah aku lihat sebelumnya.
Secara naluri, tanganku segera membelai lembut kewanitaan Yuni. Kemudian jari²ku mulai menggelitik sekitar lubang kemaluannya. Di sana sudah basah dgn lendir licin tanda Yuni sudah sangat terangsang. Sekali lagi aku tak mau ter-buru². Perlahan aku pegang mata kaki kiri Yuni dan aku bimbing untuk di naikkan ke tepi ranjang. Sekarang Yuni dalam posisi berdiri mengangkang dgn kaki kiri terangkat di tepi ranjang. Perlahan aku berlutut di hadapan Yuni. Dgn tangan kananku masih membelai kewanitaan Yuni, aku mulai menciumi bagian dalam paha kanan Yuni pelan² ke arah atas sampai ke selangkangannya.
Aku ulangi lagi dari mulai sekitar lutut terus ke atas sampai pangkal pahanya. Kadang² kulit paha Yuni yg mulus itu aku gigit lembut sehingga Yuni terjingkat kaget.
“Iiiiihh …. ssssshhhhhh …. sssssshhhhhh …”
Tanganku masih terus membelai bukit kemaluannya sambil sedikit aku tekan dgn gerakan memutar. Yuni sudah menggelinjang tidak teratur. Kemudian aku ganti dgn pahanya yg kiri yg terangkat di tepi tempat tidur itu. Seluruh permukaan paha Yuni bagian dalam tak ada satu inci pun yg luput dari ciuman dan jilatanku.
“ssshhhhhh …. shhhhhh …. ssssssshhhhhhhhh …..”
Aku singkirkan tanganku dari kemaluan Yuni. Sekarang terlihat bibir bawah Yuni sudah merekah memperlihatkan liang kenikmatannya yg berwarna merah jambu itu. Aku dekatkan bibirku lalu aku mulai menciumi sekitar kemaluan Yuni. Baunya sungguh harum, bau sabun mandi yg dipakainya. Lidahku mulai menjalankan tugasnya. Lendir licin yg sudah menyelimuti sekitar liang senggama Yuni semakin mempermudah tugasku. Lidahku mulai menjulur masuk keluar lubang kewanitaannya sambil tanganku me-remas² pantatnya. Sesekali aku ganti variasi dgn menjilat dan mengulum klitoris Yuni yg terlihat membesar melebihi proporsinya. Desahan nafas Yuni semakin keras dan kadang berubah menjadi erangan. Goyangan tubuh Yuni semakin tak terkendali.
“SSSSHHHHHH … SSSSSSSSSSHHHH …. GGGGGGHHHHHHH …. GGGGGHHHHHH …”
Dari pengalamanku dgn berbagai wanita, aku tahu sudah saatnya melangkah ke jenjang selanjutnya. Aku tidak mau menyiksa Yuni lebih lama. Dgn gerakan tangan aku minta Yuni naik ke tempat tidurnya. Aku pun segera melepas celanaku. Batang kejantananku yg memang sudah berontak sedari tadi langsung bangkit berdiri. Aku lihat Yuni sudah telentang di tengah ranjang, kedua kakinya membuka lebar dan lututnya terangkat. Liang kenikmatannya terlihat mengkilap dengan lendir dan air liurku.
Aku segera naik ke ranjang. Sambil posisi merangkak aku bertumpu pada tangan kiriku dan kedua lututku. Tubuhku aku turunkan pelan² sampai batang kemaluanku persis di atas selangkangan Yuni. Dengan tangan kananku aku pegang batang penisku lalu dgn lembut kepalanya aku gosok² ke klitoris Yuni yg sudah membengkak itu. Yuni kembali mendesah dan mengerang.
“Sssssssshhhhh … eeeeeeegggghhhh … sssshhhhhhhh …”
Aku tahu Yuni sudah mendekati klimaksnya. Dari pengalamanku dalam kondisi seperti ini, sedikit gesekan pada dinding liang senggama pasti akan memicu orgasme yg penuh kenikmatan. Dgn sangat perlahan aku dekatkan kepala penisku ke lubang kewanitaan Yuni dan aku turunkan tubuhku sehingga batang kejantananku mulai menerobos masuk organ kenikmatannya. Aku benamkan seluruh senjataku ke dalam gua Yuni yg sudah sangat basah itu. Kehangatan segera menyambut batang penisku. Perlahan aku pompa dgn gerakan naik turun yg teratur.
Tak sampai setengah menit aku rasakan tubuh Yuni mulai menegang. Pelukan tanggannya di punggungku semakin menguat. Aku memompa semakin cepat dan sesekali aku miringkan tubuhku sehingga kepala penisku semakin menggesek dinding liang senggama Yuni. Ternyata dugaanku tak keliru. Pertahanan Yuni ambrol saat itu juga, aku rasakan cairan hangat membasahi batang kemaluanku yg masih di dalam tubuh Yuni.
“Nikmati saja Yun … terus Yun .. jangan ditahan .. nikmati Yun …,” aku bisikan dgn mesra di telinga Yuni.
‘SSSSSsssssssssssssssshhhhhhhhhhhhhhhhh ….” Yuni menjawab dgn desahan panjang.
Batang penisku aku benamkan seluruhnya ke dalam lubang kenikmatan Yuni. Aku sudah berhenti memompa naik turun, sebagai gantinya pantatku aku putar beberapa kali. Aku bisa rasakan kepala penisku mengorek seluruh dinding liang kewanitaan Yuni. Mulut Yuni terbuka tanpa mengeluarkan suara apa pun. Matanya terpejam rapat dan tubuhnya menggigil hebat. Kami dalam kondisi demikian sampai beberapa saat.
Kemudian berangsur Yuni membuka matanya. Dari dekat dipandangnya aku, ada sedikit senyum tersungging di bibirnya yg manis itu. Di kecupnya pipi kiriku dgn mesra, di dekat telingaku dia berbisik,
“Ben … sorry aku duluan … ndak tahan aku Ben … makasih ..”
Saat itu juga aku rasakan kenikmatan bathin yg tak terperikan. Ungkapan kepuasan tulus dari Yuni merupakan kenikmatan bagi aku. Dan kenikmatan bathin ini memicu birahiku semakin kuat.
Aku cium mesra bibir Yuni dgn perasaan lega luar biasa.
“Kamu belum keluar ya Ben … keluarin dong …. tapi jangan di dalam ya ..”
Yuni tak perlu menjelaskan lebih lanjut, aku sangat mengerti kemana arah pembicaraannya. Pelan² aku cabut penisku yg semakin menegang dari tubuhnya. Tangan Yuni segera menyambutnya. dibelainya batang penisku dgn lembut. Pelan² mulai di kocoknya. Aku sudah berubah posisi. Aku berlutut sambil duduk dgn ringan di atas perut Yuni. Berat badanku aku topangkan di kedua lututku supaya tidak memberati Yuni.
Yuni terus mengocok lembut batang kejantananku. Aku makin terhanyut dalam permainan tangan Yuni. Aku bantu sedikit dengan memajumundurkan pantatku. Entah berapa lama kami dalam posisi ini. Klimaksku aku rasakan semakin mendekat. Nafasku semakin memburu, rupanya Yuni juga bukan orang awam dlm permaian seks. Dia bisa membaca tanda² seorang lelaki yg mau mencapai orgasme.
Tangannya membimbing batang penis ke arah lembah di antara kedua bukit dadanya. aku harus memajukan posisiku beberapa inci. Ketika batang penisku sudah tepat berada di tengah kedua buah dadanya, kedua tangan Yuni mengatupkan kedua bukitnya yg indah sehingga batang penisku terjepit. Aku tahu apa yg dikehendaki Yuni. Aku pun segera mengayun pantatku maju mundur. Batang kejantananku ter-gesek² kulit buah dada Yuni yg padat itu. Sensasi yg aku rasakan tak bisa digambarkan dgn kata². Yuni mengimbangi dgn remasan² dan himpitan pada kedua payudaranya.
Gerakan pantatku semakin kuat. Aku tahu dlm beberapa detik ke depan aku akan mengalami kenikmatan yg tiada taranya. Pantatku terus maju mundur. Penisku terus meng-gesek² buah dada Yuni. Mata Yuni terus memperhatikan kepala penisku yg hilang timbul dari antara himpitan buah dadanya. Mulut Yuni terbuka dan lidahnya sudah terjulur menanti air kenikmatanku. Akhirnya datang juga klimaksku.
“Aaaaaaaarrrrrrgggghhhh …. crotttt croooot crooot”
Air maniku menyembur kuat membasahi wajah Yuni, sebagian masuk ke dalam mulutnya yg memang menganga lebar, sebagian menetes di lidahnya yg masih terjulur dan sisanya meleleh di leher dan dada Yuni. Aku merasakan kenikmatan dan sensasi yg luar biasa. Dgn perlahan aku turun dari atas perut Yuni. Aku lihat Yuni sedang menjilati bibirnya membersihkan air maniku dgn lidahnya. Tampak beberapa kali Yuni menelan sesuatu. Matanya terpejam penuh kepuasan. Rupanya dia sangat senang bisa membahagiakan aku.
Aku kecup kening Yuni sambil aku berbaring di sisinya.
“Yun …. aku puas sekali … makasih …”
Yuni hanya membalas dgn pandangan mesra dan senyuman tersungging di bibirnya. Beberapa tetes air maniku masih menghisasi hidung dan pipi Yuni semakin menambah kecantikannya.
Kami masuk kamar mandi bersama dalam kondisi bugil. Kami saling membersihkan diri dgn air yg terasa sangat dingin dan sabun. Yuni dgn telaten dan lembut menggosokkan sabun ke seluruh tubuhku. Aku pun melakukan hal yg sama terhadap Yuni. Di bawah sinar terang lampu kamar mandi, aku semakin bisa menikmati tubuh putih mulus Yuni yg betul² indah. Putingnya yg sudah tak sekeras tadi ternyata berwarna coklat muda, lingkaran gelap yg biasa ada di sekitar puting wanita hampir tak terlihat karena sewarna dgn kulitnya yg putih. Mungkin inilah payudara terindah yg pernah aku jamah.
Kemaluan Yuni yg tidak ditumbuhi selembar rambut pun semakin terlihat menggairahkan dlm cahaya terang itu. Saat menggosok bagian ini dgn sabun sengaja aku agak ber-lama². Gairah kami kembali timbul di kamar mandi itu. Sayang hawa dan air mandi yg sangat dingin membuat kami mengurungkan niat untuk bercinta disitu. Kami segera membersihkan diri dan mengeringkan badan kami dgn handuk yg dibawa Yuni.
Dalam kamar Yuni kami mengenakan kembali pakaian kami. Aku dipinjami T-shirt longgar oleh Yuni.
“Pakai ini aja Ben … bajumu kan sudah kotor dipakai seharian.”
Yuni kembali mengenakan kaos ketatnya yg tadi, kali ini dia tdk memakai BH. Bentuk tubuhnya semakin tampak sempurna.
“Ben … laper nih … Yuni gorengin telur ya, kita makan bareng.”
Tanpa menunggu persetujuanku Yuni sudah berkelebat keluar kamar. Aku segera menyusul Yuni ke dapur. Yuni menggoreng telur mata sapi sambil aku rangkul dan rambutnya aku ciumi. Kami duduk berhimpitan di satu kursi dan makan bersama dari satu piring. Kalau ingat kejadian itu aku suka tertawa sendiri. Abisnya mirip lagu dangdut “Sepiring Berdua”. Kami saling suap, atau lebih tepatnya Yuni menyuapi aku. Suasananya sungguh romantis. Sesekali kami saling kecup di pipi.
Selesai makan kami duduk² di sofa sambil berdekapan. Kami saling ngobrol membicarakan pengalaman indah yg baru kami alami bersama. Dlm hal seks Yuni orangnya cukup terbuka, dia sama sekali tdk canggung membicarakan apa yg dia sukai saat bercinta. Rupanya kami sama² penikmat seks, bukan sekedar pelahap seks. Bagi kami seks bukan sekedar palampiasan birahi tapi lebih kepada sesuatu yg untuk dinikmati. Mungkin ada sekitar setengah jam kami ngobrol kemudian Yuni mengajak berbaring di kamarnya.
Kami meneruskan obrolan kami sambil berbaring berdampingan. Semuanya berjalan begitu alami dan apa adanya. Tanpa terasa kami sudah saling berpelukan dan berciuman. Sangat lembut dan mesra jauh dari gelora gejolak birahi. Tanpa kami sadari kami berdua sudah kembali telanjang bulat sambil masih berpelukan dan bercumbu.
Tubuh Yuni berbaring tengkurap, punggung dan pantatnya yg padat berisi dan mulus, membentuk bayangan yg sangat indah di temaram lampu kecil itu. Aku mulai menciumi punggung Yuni. Aku mulai dari tengkuknya, lidahku terus menari ke bawah menuju puncak bukit pantatnya. Begitu terus aku lakukan ber-ulang² sampai seluruh permukaan punggung dan pantat Yuni tak ada yg tak terjamah cimuanku. Sesekali aku gigit lembut bukit pantat Yuni yg merangsang itu.
“Sssssshhhh …… shhhhhh ….. shhhhhh …”
Desahan lembut Yuni mulai kembali terdengar. Tanpa teriakan dan lenguhan histeris justru menambah romantisnya suasana saat itu.
Kemudian aku agak merubah strategi. Kali ini aku ciumi betis belakang Yuni terus naik ke pantatnya. Ini aku lakukan ber-kali² di kedua kakinya. Desahan Yuni menjadi sedikit lebih kuat diiringi gerakan meronta manja.
Dgn dorongan lembut tanganku aku minta Yuni berbaring telentang. Aku kembali menciumi seluruh
tubuh Yuni kali ini dari depan. Mulai dari lehernya yg jenjang, turun ke dadanya, aku berhenti sejenak di kedua putingnya untuk melakukan hisapan lembut, terus turun lagi ke perutnya sampai daerah kemaluannya. Begitu seterusnya. di beberapa bagian Yuni tampak menggelinjang kegelian.
Aku berlutut di kasur di sisi kanan Yuni, jari kananku mulai aku gosok²kan ke organ kewanitaannya yg sudah mulai licin berlendir. Tangan kiriku mulai meraba dan meremas buah dada Yuni yg kembali sudah menegang. Yuni kembali menggelinjang penuh kenikmatan. Mulutnya sedikit terbuka dan desahan erotis kembali terdengar.
“Ssssshhh … sssshhhhh … ssshhhh …”
Kemudian tangan kanan Yuni mulai me-raba² mencari batang kemaluanku yg juga sudah kaku. Dibelainya dgn lembut dan dikocoknya perlahan. Kedua tanganku masih aktif di kemaluan dan buah dadanya. Tangan Yuni menggamit pantatku dan menariknya ke dekat mukanya. Aku beringsut sedikit sehingga selangkanganku tepat di kanan wajah Yuni.
Mulut Yuni mendekat dan langsung mencium dan mengulum penisku. Perlahan dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya sambil dihisapnya lembut. Kemudian dgn lidahnya yg lincah dia mulai menggelitik kepala penisku. Sudah banyak wanita yg pernah menghisap penisku dan masing² punya gaya tersendiri. Apa yg Yuni lakukan merupakan hal baru buatku. Entah bagaimana caranya, lidahnya bisa melakukan gerakan melingkari leher penisku. Dia laukkan terus menerus dan ber-ulang² sambil disedotnya lembut. Apa yg Yuni lakukan merupakan hal yg unik dan sensasinya sungguh luar biasa. Kepala dan leher penisku yg paling sensitif se-akan² berada dlm pusaran air yg berputar lambat² dan teratur.
“Yun ….. oh … nikmat … Yun …”
Sementara itu aku pegang tangan kiri Yuni, aku arahkan jarinya yg lentik ke arah kemaluannya. Sambil aku pegang, aku bimbing jari kiri Yuni untuk meng-gosok² klitorisnya sendiri. Beberapa detik Yuni tampak mencoba menarik tangan kirinya, tapi setelah dia rasakan nikmatnya gesekan jarinya di klitorisnya akhirnya tanpa bimbingan lagi dia bisa menikmatinya sendiri. Tangan kananku sekarang bebas untuk meremas payudara Yuni dan memelintir putingnya.
Beberapa saat kami dalam posisi ini. Tangan kiri Yuni melakukan masturbasi di kemaluannya, tangan kanannya meremas lembut kantong bijiku dan mulutnya sibuk melayani penisku. Tangan kiriku mengelus rambut Yuni dan tangan kananku masih beraksi di buah dada Yuni kiri kanan bergantian. Tubuh Yuni aku rasakan semakin menegang, tandanya dia sudah siap untuk melangkah lebih jauh.
Aku cabut penisku dari mulut Yuni. Dia dgn enggan melepaskannya dari hisapannya. Aku bangkit berdiri dan mengambil dompet dari saku celanaku. Aku comot sebungkus kondom dari sana dan aku sobek bungkusnya. Aku lihat Yuni masih menikmati masturbasinya sendiri dia tidak begitu memperhatikan apa yg aku lakukan.
“Aku pakai ini ya Yun …”
Yuni hanya mengangguk lemah sambil matanya sedikit terpejam menahan nikmat dari gesekan jarinya sendiri. Aku pakaikan kondom ke penisku yg sudah menegang sampai ukuran maksimalnya.
Dgn kedua tanganku aku balikkan badan Yuni sehingga dia sekarang telungkup. Jari² kirinya tak lepas dari klitorisnya, rupanya dia sangat menikmati itu. Perlahan aku angkat sedikit pantat Yuni sehingga dia di posisi agak nungging. Dari belakang dgn lembut aku arahkan penisku ke liang kewanitaannya. kemudian aku benamkan seluruh senjataku ke dalamnya. Perlahan aku turunkan badanku menindih punggung Yuni. Aku tekan selangkanganku ke pantat Yuni yg padat berisi itu. Dari balik karet kondom yg tipis aku bisa rasakan kepala penisku menyodok dinding liang senggama Yuni.
“Arrrghhhh … shhh … shhhh shhhhh …”
Yuni sedikit mengerang, membuatku agak kaget krn ini pertama kali Yuni bersuara cukup keras selama kami bercinta.
“Sakit Yun?”
Aku lihat kepala Yuni yg sudah bertumpu d bantal menggeleng lemah sambil nafasnya kembali mendesah. Aku merasa lega, ternyata tadi erangan nikmat dari Yuni. Sekarang dgn lebih santai aku tindih punggung Yuni, Kepala Yuni menengok ke kanan, pipinya menempel pada bantal. Aku cium belakang telinga Yuni sambil aku gigit sedikit daun telinganya. Selangkanganku aku tempelkan ketat ke pantat Yuni dan aku diamkan seperti itu. Aku rasakan gosokan jari Yuni di klitorisnya semakin menguat dan cepat. Aku tahu Yuni sudah hampir mencapai klimaksnya. Dgn mesra aku bisikan di telinganya.
“Terus Yun … nikmati Yun …. ndak usah tunggu aku … jangan di tahan Yun .. nikmati saja .. semua ini untuk kamu Yun …”
Yuni hanya menjawab dgn desahan
“Ssssshhh … shhhhhh…. shhhhh …”
Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur, otomatis batang kemaluanku pun bergerak menggesek dinding liang kenikmatan Yuni. Aku tahu pertahanan Yuni sudah hampir ambrol. Dugaanku tak keliru. Beberapa detik kemudian aku rasakan tubuh Yuni menegang, jarinya yg menggosok klitorisnya sendiri pun sudah diam seperti patung. Kedua kakinya mengatup keras, aku semakin membenamkan senjataku ke tubuh Yuni dan ….
“Ben! … Ohhhhhhhh …. shhhh …. shhhhh .. shhhhh …”
Karet kondom yg aku gunakan menghalangi aku untuk merasakan lendir Yuni yg meleleh dalam liang kemaluannya. Aku hanya merasakan otot Yuni semakin mencengkeram penisku dan ada rasa hangat di kemaluanku. Yuni sudah mencapai orgasmenya.
Aku masih terus diam, hanya menciumi balakang leher Yuni sambil sesekali menjilat telinga Yuni. Beberapa saat kemudian otot Yuni mulai melemas. Cengkeramannya di penisku sudah tidak terasa lagi.
“Nikmat ya Yun ….. ”
“He eh …. Ben …. ”
Aku mulai menggerakkan pantatku lagi. Kali ini gerakanku aku atur supaya tidak terlalu cepat. Tubuh Yuni mulai bereaksi, pantatnya digoyang memutar mengimbangi gerakanku. Jari Yuni pun kembali memainkan klitorisnya. Entah berapa lama kami dalam posisi ini.
Semakin lama gerakan kami semakin cepat. Pertahananku juga sudah mulai goyah. Kami semakin giat bergerak. Aku tahu Yuni juga sudah mau mendapat kenikmatannya yg kedua. Tubuhku semakin aku rapatkan ke punggung Yuni.
“Aku sudah hampir keluar Yun … ayo Yun … nikmati lagi …”
Seperti biasa Yuni hanya menjawab dgn desahan yg menggiurkan
“SSSShhhh …… ssshhhhhh …. sssshhhhhhh …”
Namun jawaban itu sudah cukup buatku. Aku memacu selangkanganku semakin kuat dan cepat sampai akhirnya tanggulku jebol diterjang air kenikmatanku.
“Yun … ahhhhh .. ahhhhh .. crooooot crooooot …”
Tubuh Yuni kembali kaku seperti tadi, tubuhnya menggigil dan tiba² diam seperti arca dgn seluruh ototnya menegang.
“SSSSSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHH …. SSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHH ….”
Akhirnya kami mencapai puncak kebahagiaan ber-sama². Aku tunggu sampai tubuh Yuni kembali melemas barulah aku cabut penisku dgn pelan dan aku berbaring di sisi Yuni. Sedetik kemudian Yuni memelukku dan menghujani ciuman di seluruh wajahku.
“Ben …. Yuni betul² puas … belum pernah Yuni merasakan yg seperti tadi …. makasih Ben .. makasih.”
Dia kembali menciumi seluruh wajahku.
“Yun … aku juga puas banget …. lahir bathin …. makasih Yun …”
Sejujurnya aku benar² merasakan kenikmatan lahir bathin yg masih aku kenang sampai sekarang. Sejak itu hubunganku dgn Yuni jadi agak aneh. Kami rutin melakukan kegiatan seks dan mendaki puncak kenikmatan bersama tapi kami tak pernah menjadi kekasih, tetap menjadi teman baik. Bahkan di muka umum bergandengan tangan pun kami tak pernah. Mungkinkah ini apa yg sekarang disebut sebagai TTM, teman tapi mesra? Hubungan ini kami lakukan selama lebih dari setahun sampai kami sama² selesai kuliah dan aku kembali ke kota asalku dan Yuni menjalin percintaan dgn pria lain.
Yuni (atau siapa yg merasa sbg Yuni), kalau kamu membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa aku masih tetap mengenang keindahan yg pernah kita jalani bersama.
17tahun &Cerita Dewasa 24 Apr 2008 01:10 am
Memperawani Gadis Tomboy
Namaku Yanto umurku sekarang 33 th. Kisah ini adalah kisah nyataku yang aku alami bersama dengan anak tetanggaku sekitar 10 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kuliah dan Ayu, sebut saja begitu, umurnya masih sekitar 18 th dan baru saja lulus dari SMU.
Ayu orangnya supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Maka dari itu semua orang dilingkungan tempat tinggalku kenal dengan dia. Selain itu juga Ayu aktif dalam berbagai kegiatan dilingkungan kami seperti halnya karang taruna dan dia selalu terpilih menjadi ketua panitia dalam setiap kegiatan dilingkungan kami. Sifatnya yang energik itulah yang disukai siapapun. Satu lagi sifat yang sulit dipisahkan darinya yaitu, dia seorang gadis tomboy, walaupun dia sering marah jika disebut begitu.
Sikap Ayu padaku sudah seperti adikku sendiri. Dia seringkali main ke rumahku untuk sekedar bercengkerama dengan keluarga kami. Dan juga pada tetangga yang lain dia juga begitu. Karena begitu akrabnya denganku sehingga dia sering keluar masuk kamarku untuk sekedar membangunkanku dari tidur mengajakku bercanda atau kadang-kadang dia juga tak segan untuk curhat denganku.
Kebiasaan itulah yang selalu dilakukannya hingga pada suatu saat aku lupa mematikan komputer yang ada dikamarku setelah aku mengerjakan paper untuk mata kuliah Ilmu Sosial Dasar semalam suntuk. Karena kelelahan aku tertidur dimuka komputer dan aku tinggalkan komputerku dalam keadaan menyala. Sebagai anak muda menyimpan gambar-gambar porno dari disket ke disket atau bertukar VCD porno adalah hal yang wajar diantara aku dan teman-temanku. Rasa khawatirku muncul dan aku bergegas bangun.
“..Mas, koq komputernya gak dimatiin sih..?” tanya Ayu sambil menggeser-geser mouse. Untung saja ia hanya main game solitaire. Aku banting lagi tubuhku yang masih setengah nyawa ke kasur busa yang ada dilantai.
“..iya..semalem..abis ngerjain tugas..aku ketiduran, Yu..” kataku sambil bermalas-malasan dikasur
“..iya..udah sana mandi..! mana bau ih..udah sana..!” bentak Ayu sambil bercanda menirukan gaya Ibuku yang biasa membangunkanku dengan kata-kata itu.
“..hoahhh..!!” aku menguap sambil menggeliat mengumpulkan nyawa.
“..idih..baunya kemana-mana..udah sana mandi..mo mandi gak..hah?!” kata Ayu sambil merapat padaku dan memukul guling ke mukaku..
“..aduh..duh..aduh..he..he..he..aduh..!!” aku pura-pura sakit sambil tertawa terkekeh.
“..udah..sana..mandi..sana!!” bentak Ayu sambil terus memukul-mukul dengan bantal ke mukaku
Tak tahan diserang bertubi-tubi aku akhirnya menyerah dan bergegas ke kamar mandi sambil mengambil handuk dan pakaianku. Hari itu hari sabtu jadi aku tak perlu tergesa-gesa karena hari itu hari libur. Ada yang aneh karena Ayah dan Ibuku yang biasanya ada dirumah kini tidak ada. Setelah itu aku kembali ke kamarku.
“..Yu..Ibu sama Ayahku kemana..?” tanyaku pada Ayu
“..lho..Mas..koq..gak tahu sih..?” Ayu balas bertanya
“..nggak..ada apa..?” tanyaku lagi..
“..Ibu sama Ayah Mas..tadi pagi udah berangkat ke Bekasi..katanya mo lihat anaknya Mas Robi..” cerita Ayu.
Mas Robi adalah abangku. Anaknya yang juga adalak keponakanku yang umurnya baru 2 tahun sakit. Ayah dan Ibuku menengok keponakanku yang adalah cucu mereka juga.
“..Oh..” aku baru mengerti
“..iya..nah tadi Ayah sama Ibu mas Yanto nitip rumah ke aku..” kata Ayu
“..Oh..” sahut ku
“..ah..oh..ah..oh..apanya sih..?!” hardik Ayu sambil bercanda.
“..ah..nggak..” kataku sambil memperhatikan Ayu
Wajah Ayu sepertinya biasa-biasa saja. Hanya kulitnya yang putih mulus yang membuatnya terlihat cantik. Rambutnya yang dipotong pendek semakin membuat ia kelihatan tomboy. Tubuhnya sintal dan padat menyiratkan kalau ia seksi. Dalam hatiku ingin sekali menikmati tubuhnya itu yang aku rasa lebih nikmat daripada pelacur kelas kakap sekalipun. Aku atur strategi bagaimana caranya supaya aku bisa menikmati tubuhnya.
“..kenapa sih, Mas..?!” tanya Ayu yang membuat lamunanku buyar seketika
“..akh..nggak..eh..Ayu udah sarapan belom..?” tanyaku mengalihkannya
“..kenapa sih..mau Ayu buatin yah..?” kata Ayu
“..aduh kamu tuh baik sekali sih..” kataku memujinya
“..iya dong..siapa dulu dong..Ayu..” katanya membanggakan diri sambil meinggalkan kamarku
Aku buka gambar-gambar porno di folderku. Aku pajang besar-besar untuk memancing Ayu supaya melihatnya. Aku ingin tahu reaksinya. Tak lama kemudian memanggilku.
“..mas udah tuh..” katanya. Aku meninggalkan komputerku dalam keadaan gambar terdisplay besar-besar dimonitor. Perkiraanku benar saja. Ayu kembali ke kamarku. Aku sengaja membiarkannya melihat gambar-gambar porno itu karena ingin tahu reaksinya. Sementara itu aku sarapan diruang makan. Setelah itu aku kembali ke kamarku.
Tak ku sangka dan tak ku duga Ayu ternyata membolak-balik gambar-gambar yang ada difolderku sambil melihat gambar-gambar yang lain. Aku hanya memperhatikannya dimuka pintu tanpa sepengetahuannya. Aku tak bisa melihat wajahnya karena ia membelakangiku entah bagaimana mimik mukanya. Perlahan aku dekati dia berbicara.
“..ehm..lagi ngapain, Yu..?” tanyaku
“..ehm..nggak..eh..eh..aduh..maaf..yah, Mas..eh..Ayu nggak sengaja..maaf udah buka-buka foldernya Mas..” kata Ayu. Ku lihat mukanya merah dan berkeringat.
“..ah..nggak pa-pa..koq..itu juga buat ngilangin stress aja..” kataku dengan ringan
“..aduh..gimana..nih.maaf yah ..mas..” kata Ayu memohon maaf padaku. Padahal aku tahu kalau Ayu malu setengah mati.
“..enggak..nggak pa-pa..koq..” kataku lagi
Kali ini aku menuntun tangannya yang memegang mouse supaya lebih aktif lagi membuka gambar yang lain. Aku rasakan keringat dingin yang membasahi tangan Ayu.
“..rileks aja oke..” kataku sambil meniup tengkuk leher Ayu. Teknik ini untuk membangkitkan birahi wanita.
“..emh..Mas..” sahut Ayu
“..tuh lihat..ditunggingin gitu trus ditubles deh pantatnya..” kataku mengomentari gambar doggy style
“..ih..masak sih..Mas..hiiy..jorok..ih..!” kata Ayu terkaget-kaget
Tanganku membimbing tangannya yang memegang mouse untuk melihat gambar selanjutnya. Kali ini gambar seorang gadis mengulum-ngulum penis pria yang berukuran besar dan panjang.
“..kalo yg ini..serem..ah..” bisikku sambil terus meniup tengkuk lehernya.
“..ih..jijik..ih..udah ah, Mas..liat yang lain aja..” bisik Ayu
Tanganku terus membimbing tangannya yang memegang mouse hingga gambar berikutnya. Kali ini gambar vagina yang dijilati oleh pria. Ayu terbelalak.
“..tuh..dijilatin..tuh..enak kali yah..?!” bisikku ditelinganya
“..ih..apa nggak jijik tuh, Mas..?!” tanya Ayu terheran-heran
“..nggak..enak..koq..liat aja tuh cowoknya ke enakkan gitu..” kataku
“..ih..” Ayu masih terlihat jijik.
“..kalo kamu mau..Mas mau tuh jilatin..” bisikku sambil menawarkan
“..” Ayu diam saja
“..gimana, Yu..kamu mau nggak..enak koq..” rayuku
“..engh..nggak..ah..” kata Ayu
“..ih..enak..enak banget..koq, Yu..” rayuku lagi
“..Mas..nggak jijik..?” tanya Ayu
“..nggak sayang..malah..Mas yang keenakan..” rayuku lagi
“..ih..eng..” Ayu masih jijik.
“..oke deh..gimana kalo mulai dengan ini dulu..” kataku sambil mengulum bibirnya dalam-dalam.
“..emh..” hanya itu suara yg aku dengar dari mulut Ayu.
Aku yg berdiri dibelakang Ayu kali ini mengulum bibir Ayu dalam-dalam. Ciumanku aku arahkan ke tengkuk lehernya sambil ku jilati tengkuk leher yang putih mulus itu.
“.emh..Mas..ohh….” hanya itu suara dari mulut Ayu membalas seranganku.
Ciuman dan jilatanku aku arahkan ke dagu dan leher Ayu terus ke bawah. Tapi kausnya masih menghalangi aksiku.
“..Ayu..bajunya, Mas..buka yah..?” bisikan rayuanku
“..emh..” hanya itu suara yg keluar dari mulut Ayu. Aku tak tahu apakah itu berarti ya atau tidak.
Perlahan-lahan aku tarik bajunya Ayu tak memberontak sedikitpun. Aku teruskan menarik kaus itu hingga terlepas. Tak ku sia-siakan kesempatan ini sambil terus membuka BH-nya. Aku tarik kancing BH-nya yg berukuran 36B. Aku lihat tulisan itu pada tanda label pada BH-nya. Kini tubuh Ayu sudah topless dan siap aku gempur bagian atasnya.
Perlahan-lahan aku papah Ayu ke kasur yang ada dilantai kamarku. Aku baringkan ia dan aku teruskan aksiku tadi.
“..Ayu..mau diterusin gak nih..” tanyaku. Aku takut nanti ia melapor pada orangtuanya kalau ia diperkosa.
“..engh..mmhh..main atas aja yah..Mas..sshtt..” pintanya dalam keadaan horny
Rupanya Ayu sudah beberapa kali main pas foto dengan teman-temannya dulu waktu disekolah. Jadi ia sudah tak heran lagi dengan yang beginian.
Kali ini bibirku mengulum dan lidahku menjilati buah dada yang bulat dengan putting susu berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas. Aku mengulumnya sambil lidahku memainkan putting susu itu. tanganku menggerayangi buah pantatnya yg padat berisi. Aku teruskan dengan membuka celana pendek yang dikenakannya. Kali ini Ayu agak bertahan. Dia tidak mau menaikkan pinggulnya supaya celananya mudah diperosotkan. Sementara itu aku melepaskan celana pendek kolorku dan juga kausku hingga aku hanya celana dalam saja.
“..emh..jangan..mas..sshh..” pinta Ayu dalam desahannya.
“..gimana..Mas..bisa ngejilatin itunya Ayu..?” tanyaku
“..engh..jangan..mass..sshh..main atas aja..” pinta Ayu
“..nggak koq..Yu..Mas Cuma mo liat ama jilatin itunya kamu aja..Mas nggak akan ngapa-apain deh..” rayuku
Setelah itu Ayu seperti membolehkanku. Terbukti kali ini ia mengangkat sedikit pinggulnya supaya celananya bisa diperosotkan. Aku ambil dua sekaligus celana dalam dan celana luarnya sehingga Ayu langsung telanjang bulat. WOW! Kini tubuh yang selama ini aku idam-idamkan terpampang jelas didepan mata
“..ih..mas..tapi mas..jangan yah..” pintanya supaya aku juga tidak telanjang
“..lho..kenapa sayang..?” tanyaku
“..engh..jangan..deh..” pintanya lagi sambil kedua tangannya mencoba menutupi bagian paling pribadinya
“..kenapa..kamu takut..?” tanyaku
“..engh..cukup deh..gini aja..Ayu takut, Mas..” katanya dibalik nafasnya yang menderu
Aku tahu kalau Ayu masih perawan dan aku juga tak mau merusaknya. Hanya ingin memainkannya saja. Aku perhatikan bentuk tubuh Ayu yang benar-benar indah itu. Buah dada yang bulat dengan putting susu coklat kemerahan mengacung menantangku. Perut yang mulus putih bersih dan kencang. Paling utama bagian dibawah perut yang ditutupi bulu-bulu halus. Dibalik bulu halus itu terdapat bongkahan daging merah dengan celah yang sempit dari situ tersembul seonggok daging kecil seperti kacang merah merekah.
“..Ayu..punya kamu indah..banget..sayang..” kataku sambil mendekati vaginanya dan langsung mengulumnya..
“..oufh..sshhtt..engh..emh..sshtt..ough..” Ayu melenguh dan mendesah penuh kenikmatan ketika bibirku mengulum bibir vaginanya.
“..gimana enak..kan sayang..?’ bisikku.
“..emh..sshtt.ough..sshhtt..ough..sshhtt..ough..” suara desahan itulah yang keluar dari mulut Ayu.
Aku kulum-kulum kelentitnya sambil sesekali lidahku menerobos celah sempit dibawah kelentitnya. Aku julurkan lidahku dalam-dalam hingga lidahku aku merasakan seperti ada yang menghalanginya. Aku semakin yakin kalau Ayu masih benar-benar perawan. Sementara itu cairan putih bening tak henti-hentinya keluar dari kelentitnya membasahi lidah dan bibirku. Aku jilat dan aku hisap lalu aku telan cairan kenikmatan itu seperti halnya aku kehausan.
Cukup lama juga aku menjilati liang vagina itu. Sambil mulutku bermain di liang vaginanya tanganku melepas celana dalamku. Satu-satunya kain penutup tubuhku yang menutupi batang penisku. Tanpa sepengetahuannya aku berhasil melepas celana dalamku. Kini tubuhku dan tubuh Ayu sama-sama polos dan telanjang bulat. Kali ini tinggal Ayu saja yang menentukan apakah boleh atau tidak batang penisku yang sudah panjang dan keras untuk menerobos liang vaginanya.
Tak lama kemudian nafas Ayu semakin cepat dan mulutnya meracau seperti ingin menjerit.
“..auwfh..sshtt..engh..emh..augh..enaxxx..mmasshh..sshtt..ough..” begitu erangnya dan kali ini aku tahu kalau Ayu sedikit lagi akan mencapai orgasme.
Disini aku atur siasat. Aku hentikan jilatan dan kulumanku ke liang vagina Ayu hingga Ayu hampir sadar. Wajahnya yang tadi merekah kini perlahan-lahan kembali normal. Ada sedikit kekecewaan diwajah Ayu.
“..Ayu..sayang..kamu mau..kan..?” tanyaku
“..Mas..engh.. ayo dong..” begitu pinta Ayu ditengah-tengah desahan nafasnya yang tersengal
“..iya..sayang..tapi kamu mau..nggak..?” tanyaku lagi
“..iya deh..mas..Ayu mau apa aja yang Mas suruh..tapi..” aku melihat Ayu seperti mengiba padaku
“..oke..deh..punya..Mas..boleh kan dimasukin..?” tanyaku
“..iya..he..eh..egh..ayo..dong..” Ayu meminta padaku
“..ayo..apa..ayo..apa..sayang..” tanyaku pura-pura
“..Ayu mau yang tadi..” pinta Ayu
“..yang tadi..yang mana..?” tanyaku pura-pura
“..engh..” Ayu meminta dengan manja sambil menjambak rambutku dan mengarahkan pada liang vaginanya.
“..yang ini sayang..emgh.” aku teruskan lagi jilatanku..
“..iyah…ough..emh..yesshh..ough.emh..sshhtt..oufh…sshhtt..oughh..” begitu desah Ayu menimpali jilatanku hingga Ayu hampir orgasme lagi dan..
“..Ayu..mas..boleh yah..masukin..” tanyaku sambil batang tongkolku sudah menunggu dibibir vaginanya.
“..emggh..” Ayu mendesah sambil matanya terpejam dan siap menerima batang tongkolku
“..boleh..nggak sayang..emh..?” tanyaku sambil memainkan batang tongkolku dibibir vaginanya
“…” Ayu terdiam namun ia sediki mengangkat pinggulnya dan aku langsung siap mencobloskan batang penisku yang sudah keras dan panjang ini ke liang vaginanya. Namun baru didorong sedikit batang penisku seperti terpeleset begitu terus menerus hingga…
“..augh..sshhtt..” Ayu merintih
“..dikit..lagi.yah..sayang..enaxx..koq..” rayuku
“..augh..pelan-pelan..mas..aduh..sshhakit..” rintih Ayu aku lihat sedikit airmata dimatanya
Aku dorong perlahan-lahan batang penisku hingga
“..SLEB..SLEB.. BLESSS!!!” batang penisku berhasil amblas ke liang vagina Ayu
Aku diamkan sesaat batang penisku didalam liang vagina Ayu. Aku biarkan otot-otot vagina Ayu supaya terbiasa dulu dengan batang penisku yang baru saja menerobos liang vaginanya. Batang penis yang selama ini belum pernah menerobos liang vagina Ayu kini merintih.
“..sshhtt..auh..sshhtt..sakit..Mas.” aku lihat sedikit airmata dimata Ayu.
“..iya..sayang..aku tahu..sebentar lagi enak koq..yah..” kataku sambil mengulum bibirnya
Setelah itu aku liukkan perlahan-lahan pinggulku untuk memainkan batang penisku didalam liang vagina Ayu. Ayu yang tadi merintih kesakitan kini kembali mendesah penuh kenikmatan.
“..oufh..sshhtt..engh..emh..sshtt..ough..” begitu suara desahan Ayu mengiringi liukan dan terjangan batang penisku
“..ouh..Yu..kamu enaxx..banget..Yu..egh..” kataku memuji-mujinya.
Posisi tubuh kami aku atur. Kaki Ayu aku lingkarkan dipinggulku dan kedua kakiku terlipat supaya batang penisku benar-benar pada posisi yang enak diliang vagina Ayu.
Permainan ini terus berlangsung hingga dua puluh menit kemudian.
“..ough..eghh..ough..ough..egh..emh..sshhtt..ough…shhtt..ouggh..sshtt..ough..” mulut Ayu mendesah-desah penuh kenikmatan sambil meracau
“..massshhtt..augh..enaxxx..banget..mmhh…sshhtt..oughh…sshhtt..ough..shhtt..ough
..” tangan Ayu memeluk punggungku erat-erat sambil kedua kakinya mencengkram erat-erat pinggangku. Ayu sebentar lagi orgasme.
“..tenang..sayang..aku juga bentar lagi..koq..” kataku sambil mempercepat liukkan pinggulku dan akhirnya..
“..augh..augh..aarghh..emh..emh..ouh..” Ayu mengerang panjang dan diakhiri dengan desahan-desahan lambat. Aku rasakan otot-otot divaginanya berdenyut-denyut seperti menyedot batang penisku. Diperlakukan begitu, batang penisku jadi terasa berdenyut-denyut akan ada yang keluar lalu tak lama kemudian.
“..Oooh..Ayuu..enaxx..” kataku sambil diikuti dengan semburan cairan kenikmatanku menembak dirahimnya.
“CROT..CROT..CROTT..!” batang penisku menyemprotkan cairan sperma penuh kenikmatan. Aku merasakan denyutan-denyutan yang dahsyat dibatang penisku.
Setelah itu bibir kami berpagutan sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang kami rasakan. Perlahan Ayu mengendorkan cengkeramannya dan kembali rileks.
“..makasih banget yah, Yu..kamu mau begini sama aku..” kataku sambil membelai rambutnya
“..he-eh..makasih juga yah, Mas..Ayu gak sia-sia kehilangan keperawanan kalo seenak ini..” kata Ayu yang membuatku kaget
“..jadi kamu nggak nyesel..?” tanyaku
“..nggak..eh..malah..Ayu jadi pengen dan pengen terus beginian sama..Mas..” sahutnya blak-blakan
“..eh..bagus deh..” kataku sambil menariknya ke pangkuanku dan kami kembali berciuman.
Lalu setelah cukup terangsang aku dan Ayu kembali bersenggama dengan berbagai posisi. Hari itu tak kurang dari empat kali kami bersenggama dikamar hingga siangnya kami sama-sama kelelahan lalu tertidur. Sorenya setelah bangun dari tidur kami mandi berdua dan masih melakukannya dikamar mandi.
Setelah kejadian itu aku dan Ayu masih melakukannya jika ada kesempatan hingga setahun kemudian. Ayu pindah ke daerah untuk kuliah. Hingga detik ini aku tak tahu bagaimana kabarnya ia sekarang ini.
17tahun &IGO ( Indo Girl Only ) &video bokep 23 Apr 2008 07:35 pm
Perawanku telah direnggut..
Bagi penggemar video bokep 17tahun, ini ada video terbaru tentang kisah salah satu temanku yang perawannya di renggut oleh pacarnya sewaktu tahun kemarin waktu masih smu. Tapi apa yang terjadi? setelah 3 bulan pacaran si cowok ini akhirnya meninggalkan temannku begitu saja dan jalan dengan wanita lain.. bagaimana tidak sakit? temanku ini yang perawannya telah direnggut, sudah pernah menggugurkan kandunganya sebulan yang lalu.. duh sial banget nasib temanku ini.. tapi karena sakit hati akhirnya temannku ini menyebarkan video waktu perawannya dia di renggut ke saya dan menyuruh saya menyebarkan di internet.. biar kapok tuh cowok!
DOwnload disini bro
Postingan sebelumnya :
- Anjritt.. cewek ini di perkosa
- Dian, sekretarisku
- Ini Sexy Dancer ataukah Penari Telanjang?
- Video Ngentot ABG Perawan
- Enaknya Bercinta di Mobil
17tahun &video bokep 21 Apr 2008 01:55 pm
Anjritt.. cewek ini di perkosa
Video 17Tahun ini terjadi di negeri seberang dimana ada cewek nyasar di sebuah warung.. dan disana sedang ada 3 orang pemuda nongkrong (termasuk si penjual) di warung tsb. Tidak tahunya pada saat si cewek ini bertanya tentang jalan, eh yang ada cewek sial ini malah di perkosa rame-rame oleh 3 orang itu (1 orang bertugas mengabadikan melalui kamera hp)..
Download disini.
Postingan sebelumnya :
- Dian, sekretarisku
- Ini Sexy Dancer ataukah Penari Telanjang?
- Video Ngentot ABG Perawan
- Enaknya Bercinta di Mobil
- Cewek Lagi Mastrubasi, Mau ikutan?
17tahun &Cerita Dewasa 20 Apr 2008 01:14 pm
Dian, sekretarisku
Ia mulai bekerja di tempat kursus bahasa Inggrisku kira-kira sebulan yang lalu. Pada hari-hari pertama, Dian memang telah menunjukkan sikapnya yang ‘mengundang’. Ia sengaja memakai baju-baju kerja yang merangsang gairah kelelakianku. Buah dadanya sangat besar. BH-nya mungkin berukuran 38 B. Kalau berdiri di hadapanku, ia sengaja membuka kancing baju luarnya sehingga baju dalamnya yang tipis dan menonjolkan bukit dadanya terlihat. Belum lagi kalau aku berdiri di hadapannya (saat memberi instruksi), ia selalu memperhatikan bagian bawah perutku, mula-mula aku risih dibuatnya, karena takut kalau-kalau ketahuan oleh isteriku, tapi saat kupandang wajahnya, ia malah tersenyum-senyum genit. Wah…, kalau begini, bisa panjang nih urusannya…, pikirku ngeres.
Dan ternyata benar! Pada suatu hari Rabu, sekitar seminggu yang lalu, saat kami hendak pulang dari kantor, hujan turun dengan lebatnya, office boy sudah pulang duluan. Hanya tinggal aku dan Dian. “Pak, saya boleh nunggu dulu di sini, ya?”, tanyanya dengan suara serak-serak basah. “Tentu boleh dong, nggak bawa payung ya, Dian?”. “Biasanya sih bawa, cuma tadi pagi terburu-buru, jadi ketinggalan, Pak”. “Oh begitu. Oh ya, pintu sudah dikunci semua? Coba kamu periksa lagi ruang-ruang kelas yang ada. Saya mau ke kamar kecil sebentar”. “Baik Pak”. jawabnya sambil berlalu dari tempat kami berdiri. Kami kebetulan saat itu berada di ruang tunggu orang tua murid yang berdekatan dengan ruang sekretariat tempat kerjanya sehari-hari.
Aku rasanya ingin pipis. Segera saja aku menuju WC di ruang atas. Beberapa menit kemudian, aku berpapasan dengan Dian di lorong antara WC dan ruang kursus, hingga tanpa sengaja aku bertubrukan dengannya. Buk!, tanganku tanpa sengaja menyenggol payudaranya, wah besar sekali. “Wah.., maaf Pak…”, sergahnya. “Sama-sama, udah dikunci semua kelasnya, Dian?”. “Sudah, Pak”, jawabnya pelan dengan raut muka lesu. “Aduh, lelah sekali rasanya hari ini”, keluhnya pelan. Melihat keadaannya itu, aku segera mengambilkan air minum, timbul niatku untuk tidak membuang-buang lagi kesempatan itu, kurogoh kantongku, wah ternyata tidak ada, ya…, aku memang mencari serbuk perangsang untuk dimasukkan ke minumannya nanti. “Bapak mencari ini ya…”, tiba-tiba terdengar suaranya sayu sambil menunjukkan kantong kecil putih di tangannya. “Ngg…, nggak kok…”, jawabku gelagapan. “Pak Ivan, Bapak nggak perlu pakai ini kok, karena saya siap jika Bapak menghendaki saya melayani Bapak malam ini juga”, jawabnya dengan suara mesra dan kerlingan mata genitnya.
Nah ini dia yang kutunggu! Lalu kutarik tangannya ke ruang sekretariat, kami siap bertempur di atas meja sekretariat yang lebar. Setelah sampai di sana, tanpa ba-bi-bu lagi ia jongkok dan membuka ritsluiting celana panjangku, dimasukkannya tangannya ke dalam celana dalamku, lalu ditariknya penisku yang sudah mengeras dari tadi, kemudian dikeluarkannya secepat mungkin, kemudian ia mulai menjilatinya dengan pelan-pelan lalu mengulum-ngulumnya sambil mengocok-ngocoknya, dihisap-hisapnya sembari matanya menatap ke wajahku, aku sampai merem melek merasakan kenikmatan yang tiada tara itu. Cepat-cepat kususupkan tangan kananku ke balik kaus dalamnya, masuk ke dalam BH-nya, wah…, buah dadanya amat besar, kuremas-remas sambil ia terus mengisap-isap penisku yang semakin menegang, kemudian ia mulai membuka bajunya sendiri, aku pun melakukan hal yang sama.
Saat kami sudah benar-benar saling telanjang, ia mulai menelungkup ke meja sekretariat, melihat posisinya itu, segera kutarik kakinya ke atas dan kupangku di atas bahuku, lalu aku mulai pelan-pelan memasukkan penisku ke liang surganya yang mulai basah, bless, jeb! jeb! jeb! “Uuh…, uh…, uh…, uuuh…”, ia mengerang kenikmatan. “Ahh…, nik.., maatt.., Pak…”, erangnya. Kedua tangannya bertumpu di atas meja sekretariat. Sambil dia maju-mundur, penisku seperti diremas-remas, dikocok-kocok, dipelintir-pelintir. Lima belas menit kami dalam berada dalam posisi seperti itu. Lalu ia minta untuk mengganti posisi. Aku duduk di atas meja, sedang ia duduk di pangkuanku. Pelan-pelan ia meraih penisku dan dimasukkan ke kewanitaannya, ah…, nikmat sekali. Kemudian tangannya memegang leherku, sambil menaik turunkan pantatnya yang bahenol itu. “Jebb…, jebb…, jebb…, bless…”, penisku dimainkannya dengan bernafsu sekali. Beberapa menit kemudian, aku merasa sudah tidak tahan lagi. Ingin kusemprotkan maniku sebanyak mungkin ke dalam surga dunianya tersebut. Dan memang ternyata Dian akhirnya lebih dahulu mencapai puncak kenikmatan, dipeluknya leherku kuat-kuat, “Ah.., Pak Ivan…, nikmat sekali…”, erangnya kenikmatan. Aku pun menyusul dengan menyemprotkan cairan ajaibku ke vaginanya, “Ccrot! crot! crott!”, sekitar 10 kali semprotan masuk ke sana, aduh…, nikmatnya luar biasa. Tak percuma aku mempekerjakan sekretaris seperti dirinya, karena servis yang diberikannya luar dalam amat memuaskan.
Untuk Dian (30): jika kamu membaca cerita ini, satu hal yang perlu kau ketahui, aku selalu menantikan untuk melakukannya lagi denganmu, kutunggu jawabanmu di emailku, OK?
Postingan sebelumnya :
- Ini Sexy Dancer ataukah Penari Telanjang?
- Video Ngentot ABG Perawan
- Enaknya Bercinta di Mobil
- Cewek Lagi Mastrubasi, Mau ikutan?
- Kerja lembur
17tahun &video bokep 19 Apr 2008 12:08 am
Ini Sexy Dancer ataukah Penari Telanjang?
Video bokep ini di ambil di salah satu diskotik di medan dimana salah satu sexy dancer disana, mungkin karena saking mabuknya dia menari sambil membuka satu persatu bikininya dan di tambah penonton yang mengeraji dia, akhirnya sukses deh penari ini menjadi telanjang bulat di hadapan semua orang.. tapi apa yang terjadi? cewek bugil ini terus aja menari.. ada juga penonton yang iseng memeluk sambil mengocok memeknya.. kekekke.. kuuerenn deh pokoknya..
Download disini
Postingan sebelumnya :
- Video Ngentot ABG Perawan
- Enaknya Bercinta di Mobil
- Cewek Lagi Mastrubasi, Mau ikutan?
- Kerja lembur
- Video Pasangan Selingkuh
