Monthly ArchiveNovember 2008



video bokep 30 Nov 2008 09:01 pm

Video Bokep 17Tahun Cewek SMU Samarinda Bercinta di Kos kosan

Video Bokep 17Tahun Cewek SMU Samarinda Bercinta di Kos kosan bersama cowoknya. Saya heran semakin hari semakin banyak sekali video-video bokep tentang cewek smu ya ? apakah sekarang ini generasi kita sudah kebanyakan mengarah ke sex bebas ya ? :)

Klik pada gambar untuk melihat preview nya :

Download video bokep disini.

video bokep 30 Nov 2008 08:58 pm

Video Bokep 17Tahun Kasus Mahasiswa Gresik di Surabaya

Video Bokep 17Tahun Kasus Mahasiswa Gresik di Surabaya ini di beritakan di banyak media bulan ini, jadi ga rugi dah klo download video yang satu ini.

Preview Video bagian pertama :

Preview Video bagian kedua:

Preview Video bagian ketiga:

Downloadan video nya bisa di download di bawah ini!

Video bagian ke 1

Video bagian ke 2

Video bagian ke 3

Cerita Dewasa 30 Nov 2008 08:53 pm

Dewasa Cerita 17Tahun Nikmatnya Sekretaris cantik

Dewasa Cerita 17Tahun Nikmatnya Sekretaris cantik. Fabiola, yang biasa dipanggil Febby, seorang wanita cantik berusia 25 tahun. Febby bekerja disalah satu perusahaan pariwisata yang cukup terkenal sebagai sekretaris. Tubuh Febby cukup sintal dan berisi, didukung dengan sepasang gunung kembar berukuran 36B serta wajah yang cantik, membuat setiap pria pasti meliriknya, setiap kali ia berjalan.
Seperti biasa setiap hari Febby pergi ke kantornya di bilangan Roxi Mas, yang tanpa disadarinya ia dibuntuti sekelompok pemuda iseng yang hendak menculiknya.

Sudah beberapa hari para pemuda itu mempelajari kebiasaan Febby pergi dan pulang kantor. Dan hari itu mereka sudah menyusun rencana yang matang untuk menculik Febby. Tiba-tiba dijalan yang sepi taksi yang ditumpangi Febby dicegat secara tiba-tiba, dan sambil mengancam sopir taksinya, mereka langsung menyeret Febby masuk kedalam mobil mereka, dan tancap gas keras-keras, hingga akhirnya mobil mereka larikan kearah pinggir kota, dimana teman-teman mereka yang lain sudah menunggu disebuah rumah yang sudah dipersiapkan untuk ‘mengerjai’ Febby.

Didalam mobil Febby diapit oleh dua orang pemuda berkulit hitam, sedangkan yang dua lagi duduk dikursi depan. Febby sudah gemetaran karena takut, dan benar-benar tidak berdaya ketika dua orang yang mengapitnya memegang-megang tubuhnya yang sintal dan putih itu. Dua pasang tangan hitam bergentayangan disekujur tubuhnya, yang kebetulan pada hati itu Febby mengenakan rok lebar sebatas lutut, dengan atasan blouse putih krem yang agak tipis, hingga bra Wacoal hitam yang dikenakannya lumayan terlihat jelas dari balik blouse tersebut.

Dengan leluasa disepanjang jalan tangan-tangan jahil tertersebut bergentayangan dibalik rok Febby sambil meremas-remas paha putih mulus tersebut, hingga akhirnya mereka tiba dirumah tersebut, dan mobil langsung dimasukkan kedalam garasi dan rolling doorpun langsung ditutup rapat-rapat. Febby yang sudah terikat tangan dan kakinya, serta mulut tersumpal dan mata ditutup saputangan digendong masuk kedalam ruang tamu, dan didudukkan disofa yang cukup lebar.

Ikatan tangan, kaki, mulut dan mata Febby dibuka, dan alangkah terkejutnya ia sekitar tiga puluh pemuda yang hanya memakai cawat memandanginya dengan penuh nafsu seks. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Febby pun mulai dikerjai oleh mereka. Febby yang sudah tidak berdaya itu hanya bisa duduk bersandar di sofa dengan lemas ketika salah seorang lelaki mulai membuka kancing blouse-nya satu persatu hingga blouse putih tersebut dicopot dari tubuh sintalnya itu.

Beberapa orang lagi berusaha membuka rok merah Febby hingga Febby pun akhirnya hanya memakai bra hitam serta celana dalam nylon berwarna hijau muda, dan membuat dirinya terlihat makin menggairahkan, dan spontan saja para pemuda berandal tersebut langsung terlihat ereksi dengan kerasnya. Celana dalam Febby pun langsung buru-buru dilepas dan menjadi rebutan untuk mereka.

Febby dipaksa duduk dengan mengangkang lebar-lebar, hingga vagina-nya yang ditumbuhi rambut-rambut halus itu terlihat dengan jelas, dan mereka pun bergantian menjilati serta menghisap-hisap bibir vagina Febby dengan nafsunya. Kepala mereka terlihat tenggelam diantara kedua pangkal paha Febby, sementara yang lainnya bergantian meremas-remas kedua gunung kembar Febby yang montok itu. Kop BH Febby diturunkan ke bawah hingga kedua gunung kembarnya muncul bergelayutan dengan indahnya, dan menjadi bulan-bulanan pemuas nafsu untuk mereka.

Tidak puas dengan hanya meremas-remas saja, beberapa orang mulai mencoba untuk mengisap-ngisap puting susu gunung kembar Febby yang ranum itu, hingga akhirnya Febby pun dipaksa oral seks untuk mereka. Bergantian mereka memaksa Febby untuk mengulum-ngulum batang penis mereka keluar masuk mulutnya. Kepala Febby dipegangi dari arah belakang hingga tidak bisa bergerak, sementara itu yang lain bergantian mengeluar-masukkan batang penis mereka dimulut Febby yang seksi itu hingga mentok kepangkal paha mereka.

Batang penis yang rata-rata panjangnya 17 senti itu terlihat masuk semua kedalam mulut Febby, hingga mencapai kerongkongannya. Tak ketinggalan Febby pun dipaksa untuk ‘mencicipi’ buah zakar mereka secara bergantian. Sepasang buah sakar tampak terlihat dikulum Febby hingga masuk semua kedalam mulutnya yang mungil itu. Wajah Febby yang cantik itu bergantian ditekan-tekan diselangkangan para pemuda berandal tersebut hingga buah sakar mereka masuk semua kedalam mulutnya.

Setelah puas dengan acara ‘pemanasan’ tersebut Febby pun dipaksa tiduran diatas kanvas diruang tamu tersebut dan dengan paha yang mengangkang lebar, batang penispun mulai keluar masuk vagina Febby yang masih ‘rapat’ itu, mereka dengan tidak sabarnya bergantian menjajal vagina Febby dengan batang penis mereka yang rata-rata panjang dan besar itu. Bagi yang belum kebagian jatah terpaksa memainkan-mainkan penisnya diwajah dan mulut Febby.

Beberapa orang dengan nafsunya memukul-mukulkan batang penisnya di wajah Febby sambil mendesah-desah dengan nafsu. Bosan dengan gaya tiduran, Febby dipaksa duduk di sofa lagi dengan paha mengangkang lebar dan kembali ‘di embat’ bergantian, sementara bibir Febby tetap sibuk dipaksa mengulum batang penis yang tampak mengkilat karena air liur Febby yang menempel di batang penis tersebut.

Sementara para pemuda yang mendapat giliran mengocok vagina Febby tampak sangat bersemangat sekali hingga bunyi batang penis yang keluar masuk vagina Febby terdengar sangat jelas. Hampir dua jam sudah Febby “dikerjain” dengan intensif oleh puluhan pemuda tersebut, hingga akhirnya satu persatu mulai berejakulasi. Tiga puluh pemuda mengantri Febby untuk berejakulasi diwajah Febby yang cantik itu.

Dimulai oleh empat orang berdiri mengelilingi Febby dengan batang penis menempel disekitar wajah Febby yang cantik. Sementara seorang lagi mengocok vagina Febby dengan nafsunya, hingga akhirnya ia tak tahan lagi dan mencabut batang penisnya dari vagina Febby, dan…. croott…. crootttt… croooottttt!!! air mani muncrat mengenai sekujur wajah Febby, melihat hal tersebut yang lain pun tak mau ketinggalan dan bergantian mengocok-ngocok batang penisnya cepat-cepat diwajah dan mulut Febby, hingga berakhir dengan semprotan air mani diwajahnya. Bahkan tak sedikit mengeluarkan airmani nya didalam mulut Febby, lalu memaksa Febby untuk menelannya.

Sekitar dua puluh menit, wajah Febby dihujani ‘air mani’ yang kental itu, hingga Febby terlihat basah kuyub oleh sperma mulai dari rambut hingga gunung kembarnya terlihat mengkilat oleh basahnya sperma puluhan pemuda berandal tersebut.

Part II

Jam menunjukkan pukul jam satu siang, dan Febby pun baru selesai ‘dikerjain’ oleh mereka, dan terlihat lemas tak berdaya dengan muka yang masih belepotan sperma. Tiga orang pemuda membawa Febby kedalam kamar mandi yang terlihat sangat mewah, dan memandikan Febby dengan air hangat serta sabun cair yang sangat wangi. Febby disuruh tiduran sambil direndam air hangat, sementara ketiga pemuda tersebut bergantian menyabuni tubuh Febby yang putih sintal itu dengan bernafsu, sambil sesekali meremas-remas selangkangan dan gunung kembar Febby yang terasa licin oleh sabun tersebut. Hingga akhirnya ketiga pemuda tersebut sudah tidak tahan lagi dan Febby pun diperkosa lagi didalam kamar mandi itu.

Mereka mengeluarkan Febby dari bak rendam, dan dibawah pancuran air hangat Febby dipaksa nungging, dan dua pemuda bergantian menyetubuhi Febby dari arah belakang, sedangkan yang satunya mengeluarmasukkan batang penisnya di mulut Febby, sambil memegangi rambut Febby hingga kepala Febby tidak dapat bergerak. Setengah jam sudah Febby ‘diobok-obok’ didalam kamar mandi, dan diakhiri dengan meyemprotkan air mani masing-masing didalam mulut Febby, dan tiga porsi air mani itu dalam sekejap sudah pindah kedalam mulut Febby, dan sisa-sisa sperma masih terlihat berceceran disekitar wajah Febby yang putih itu.

Part III

Selesai dimandikan, Febby kembali didandani hingga terlihat sangat cantik. Bra hitamnya yang berukuran 36B itu kembali dipasangkan. Celana dalam nylon Febby sudah raib jadi rebutan, hingga vagina Febby dibiarkan terlihat, sementara beberapa pemuda berandal itu sibuk menjepretkan kamera digitalnya kearah Febby. Febby dipaksa berpose dengan berbagai gaya yang sensual, mulai dari adegan membuka bra nya sendiri hingga duduk mengangkang sambil memasukkan batangan ketimun kedalam vaginanya.

Puas mengambil berbagai pose Febby, seorang pemuda mengambil dua gelas minuman dari dalam kulkas dan sepotong hamburger untuk Febby. Dan betapa terkejutnya Febby ketika tahu bahwa dua gelas minuman tersebut adalah sperma yang sudah disimpan berhari-hari di dalam kulkas. Seorang pemuda lagi mengambil suntikan besar tanpa jarum. Febby dipaksa membuka mulut lebar-lebar, sementara salah seorang menyedot sperma dalam gelas tersebut dengan suntikan besar itu, kemudian menyuntikkannya kedalam mulut Febby, hingga tertelan langsung kedalam tenggorokkannya. Mereka dengan brutalnya bergantian menyuntikkan ‘air mani basi’ itu ke mulut Febby hingga habis satu gelas penuh. Masih sisa satu gelas lagi, dan hamburger untuk Febby pun diolesi penuh dengan sperma tersebut, dan Febby pun dipaksa makan hingga habis. Sisa sperma sebanyak setengah gelas terpaksa disedot Febby dengan sedotan hingga tandas tak bersisa.

Selesai ‘memberi makan’ Febby, mereka kembali mengantri Febby. Namun kali ini Febby tidak disetubuhi, mereka hanya memaksa Febby mengulum-ngulum batang penis mereka dimulut Febby, serta mengocok-ngocoknya dengan kedua tangan Febby yang lentik itu. Tiga puluh batang penis kembali bergantian dikulum-kulum Febby, sementara yang lainnya memaksa Febby menggenggam batang penisnya dengan kedua tangannya, yang lainnya lagi sibuk memain-mainkan alat kelaminnya diwajah dan rambut Febby. Hingga akhirnya Febby kembali dihujani puluhan porsi sperma segar di wajah dan mulutnya. Pertama kali sperma muncrat dari lubang penis tepat didepan wajah Febby hinggga tepat mengenai dahi hingga bibir Febby, yang lainnya pun ikut menyusul hingga puluhan semprotan sperma berhamburan diseluruh wajah Febby yang cantik itu. Sementara itu dua orang pemuda dari kiri dan kanan Febby menyendoki air mani yang bertetesan di wajah Febby, lalu menyuapinya hingga mereka puas.

Cerita Dewasa 30 Nov 2008 08:48 pm

Dewasa Cerita 17Tahun Istri kepala dinas

Dewasa Cerita 17Tahun Istri kepala dinas Perkenalkanlah namaku Galaxy. Aku adalah seorang teknisi parabola, dan bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang penjualan antena parabola yang tentu saja membutuhkan teknisi untuk melayani pemasangan dan perbaikan parabola. Di perusahaan ini walau bukan paling senior tetapi aku tergolong paling terampil dan cekatan, hingga jika pimpinan dapat pekerjaan besar, aku yang jadi andalannya.

Suatu hari aku mendapat tugas untuk memasang antena parabola di rumah kepala dinas sebuah bank pemerintah. Dengan dibantu 2 orang asisten yakni Edo dan Salim, aku berangkat ke alamat tujuan sambil menenteng segala peralatan. Waktu itu aku diantar sopir kemudian setelah sampai di tujuan, kami bertiga diturunkan berikut segala barang dan peralatannya. Di rumah dinas yang terkesan asri karena dipenuhi pohon mangga, kami diterima oleh satpam yang kemudian setelah mengadakan kontak lewat intercom diberi ijin masuk.

Seorang wanita muda berumur sekitar 25 tahun dengan berbusana daster biru malam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus menyambut kami. Sekejap aku terpesona melihat kecantikan wajahnya, bibir dan hidungnya luar biasa indahnya.
“Selamat pagi, Mbak…., kami yang mau memasang parabola pesanan bapak kepala”.
“Ohh, iya silakan masuk saja Mas.., tapi bapak masih dinas, dan kebetulan rumah lagi sepi jadi terserah Mas saja masangnya”.

Tanpa basa basi lagi aku segera memerintahkan asistenku untuk segera mulai bekerja, dengan harapan bisa berkenalan tanpa gangguan, siapa tahu nasibku sedang mujur. Dari perkenalan, wanita tersebut bernama Asni dan adalah istri kepala dinas, tepatnya istri kedua, yang duda karena ditinggal mati. Semula kuduga dia adalah anaknya, tapi ternyata ibu dari 2 anak tiri yang umurnya sebayanya. Kedua anak-tirinya wanita dan cantik-cantik, terlihat dari foto besar yang terpajang di ruang keluarga.

Sementara kedua asistenku sedang merakit parabola, aku asyik menerangkan aneka macam seputar parabola, mulai dari acara siaran sampai cara merawat parabola. Kelihatan Mbak Asni juga antusias mendengarnya, padahal aku cuma asal bicara agar bisa berlama-lama dekat dengan Mbak Asni sambil terus membayangkan besarnya payudara yang mengembung besar di balik dasternya. Mbak Asni duduk persis di depanku, hingga waktu aku memberi keterangan sambil membuat tulisan di meja, dia terpaksa menunduk untuk ikut membacanya, dan karena krah dasternya longgar sekali maka otomatis semua isi di dalamnya jadi ternganga lebar, jantungku seketika bergetar-getar tak menentu saat menyaksikannya. Batang kemaluanku mendadak beringas laksana torpedo hendak meluncur. Aku tak tahu apa Mbak Asni tahu kalau aku jadi keterusan nulis-nulis sambil sesekali melirik ke balik dasternya. Tampaknya dia cuek saja sambil mendengar penjelasanku.

“Diminum dulu Mas…, tehnya, mumpung masih hangat!”, katanya sambil tersenyum manis setengah menggoda. Akupun jadi salah tingkah dan mengiyakannya. Tehnya memang hangat dan segera menyegarkan otakku kembali. Daripada pusing memikirkan cara untuk menggapai gunung kembar, aku minta diri untuk mengawasi pekerjaan asisten.

Tak terasa hari telah menjelang sore ketika pekerjaan selesai. Terlihat Mak Asni tengah bersiap untuk mandi. Pikiran kotor langsung menyergap, dan tak kuasa aku menolaknya. Membayangkan kala tangannya mengusap lembut seluruh tubuhnya, lalu dadanya, lalu perutnya, lalu anunya, lalu…, wow, Mbak Asni tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi telah tertutup aku jadi merasa kehilangan.

Dengan reflek aku memberi kode dengan jari telunjuk berdiri di depan mulut pada kedua asistenku. Keduanya malah cengengesan. Tanpa komando, kami kompak menggotong sebuah kursi tinggi agar bisa mengintip lewat lubang angin di atas pintu. Aku langsung saja merebut kesempatan pertama untuk menaiki kursi, dan karena besarnya lubang angin maka seluruh isi kamar mandi jadi terlihat.

Mbak Asni tampak mulai mengangkat ujung dasternya ke atas hingga melampaui kepalanya. Tubuhnya tinggal terbalut celana dalam warna coklat dan BH, itupun tak berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dadaku terasa mau pecah saking menahan napas. Luar biasa keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. Tetapi aku terkejut dengan caranya mandi, tanpa diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun cair, lalu tangannya meremasi kedua payudaranya dan berputar-putar di ujungnya. Batang kemaluanku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar. Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Mbak Asni meneruskan permainannya ke bawah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyungging seperti orang kepedasan cabe. Tak sadar tanganku ikut memijiti batang kemaluanku sendiri. Sayang kedua asistenkupun minta giliran jatah tontonan gratis yang aduhai. Merekapun jadi seperti terkena tegangan tinggi, celana kombornya tak mampu menyembunyikan batang yang mencuat kencang.

“Ayo, Mass…, masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya tidak terkunci kok!”, tiba-tiba terdengar seruan lembut bernada ajakan. Tetapi terus terang kelembutan itu membuat kami hampir pingsan dan amat sangat mengejutkan. Kami serentak saling berpandangan kebingungan.
“Maaf yah Mbak…, kami tidak sengaja kurang ajar”.. Aku menjawab sambil mengambil inisiatif pelan-pelan memutar handel pintu kamar mandi yang memang benar tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, kami bertiga seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Mbak Asni tersenyum manis sekali dan tanpa canggung melambaikan tangannya agar kami lebih mendekatinya. Wah tentu saja kami tak perlu mendengar suara ulangan lagi, serempak kami bertiga mengerubuti sang dewi.

Dengan posisi duduk di atas bak mandi Mbak Asni menyuruh kami mandi dahulu agar bau keringat kami lenyap. Aku, Edo, dan Salim segera melepas semua pakaian masing-masing, dan seperti anak kecil berebutan mandi di bawah siraman shower. Tanpa rasa malu kami bertiga telanjang bulat di hadapan Mbak Asni. Batang kemaluan kami sudah pada posisi maksimal, mengacung-acung keras minta perhatian. Mbak Asnipun kegelian melihat tingkah kami bertiga. Lalu Mbak Asni memandikan kami satu per satu. Batang kemaluanku yang terlihat paling besar, berdenyut-denyut kala tangan Mbak Asni mengelusinya dengan sabun. Ah, nikmat sekali apalagi begitu tangannya bergerak maju mundur, segera kuraih gunung impianku yang telah nyata di depan hidung dan meremasinya sambil mulut kami saling berpagutan. Sementara Edo dan Salim tidak mau ketinggalan, mereka memang tim yang kompak. Tangan Edo menggerayangi selangkangan Mbak Asni yang nyaris tertutup seluruhnya oleh bulu ikal yang lebat. Sedang Salim kebagian pekerjaan menjilati pantat Mbak Asni, kelihatan Mbak Asni keenakan sekali ketika ujung lidah Salim menjongkel-jongkel lubang anusnya. Tangan Mbak Asnipun dengan adil bergantian meremas dan mengocok batang kemaluan kami, yang tentu saja membuat kami semua mengerang kenikmatan.

Mungkin karena kurang leluasa dengan posisi berdiri, Mbak Asni mengajak kami bertiga segera menyudahi acara mandi bersama. Dan mengajak pindah lokasi ke kamar tidur. Salim yang anak keturunan Arab telentang di atas kasur, batangnya yang sangat panjang menegang ke atas persis seperti orang punya ekor. Mbak Asni tanpa ragu-ragu segera mengangkanginya dan menyodorkan vaginanya. Salim kegirangan segera menjilatinya dengan rakus sampai berbunyi cipak-cipuk. Mbak Asnipun keenakan sambil menyosor-nyosorkan vaginanya ke mulut Salim agar lidah Salim lebih masuk ke dalamnya. Tanpak Salim semakin gigih menyedoti cairan vagina Mbak Asni. Sedang Edo yang tak tahan menunggu lalu menyodorkan batangnya yang bulat hitam ke mulut Mbak Asni. Mulut Mbak Asni tampak menganga menyambut kehadirannya. Lidahnya berputar-putar mengulum batang Edo, lalu memainkannya maju mundur. Terang saja Edo melenguh-lenguh merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Aku tak habis berpikir menyaksikan istri seorang pejabat terhormat dengan ganas mengerang-erang menikmati pelayanan kami. Barangkali suaminya memang sudah tua atau impoten, hingga tidak menyia-nyiakan kehadiran kami. Padahal menurutku Mbak Asni cantik sekali, hidungnya mancung, bibirnya agak tebal, sensual sekali. Dan badannya padat berisi apalagi kala kuremas-remas payudaranya jelas seperti gadis perawan. Membuatku gemas sekali menyedoti ujung puting susunya. Lidahku mengais-ngais agak ngawur ke sana ke sini. Tapi semakin ngawur semakin membuat Mbak Asni bersemangat mengocok batang Edo dengan mulutnya. Dan akhirnya Edo tampak kewalahan menahan permainan Mbak Asni. Tangannya mencengkeram kepala Mbak Asni sambil mendorong ke arah selangkangannya. Hingga batangnya habis tertelan mulut Mbak Asni, lalu “Cret…, cret…, crettt”, Batang Edo menyemburkan maninya, Mbak Asnipun tidak merasa jijik atau bagaimana segera menelan habis mani Edo, sambil lidahnya terus menjilati ujung batang Edo. Karuan saja Edo kegelian dan terus memuntahkan “lahar” hingga loyo.

Aku segera membalik badan Mbak Asni lalu kedua kakinya buru-buru kuangkat ke atas. Vaginanya kelihatan terbuka kemerahan walau dirimbuni bulu yang sangat lebat. Lalu…, “Blesss”, sekali tancap batangku amblas ke dalamnya. Karena batangku sudah berdenyut-denyut dari tadi maka seperti orang kesetanan aku mengayunkan pinggangku maju mundur. Mata Mbak Asni membelalak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dari liang kewanitaannya mengalir cairan lendir banyak sekali. Akibatnya goyanganku menimbulkan suara gaduh. Mbak Asni mengerang-erang kala aku menyemburkan air maniku.Banyak sekali keluarnya, maklum lagi bernapsu besar.

Salim segera menggantikan posisiku, dan langsung memompa vagina Mbak Asni. Aduh, tak terbayangkan kenikmatan yang dirasakan oleh Mbak Asni. Mukanya tampak bahagia sekali. Pinggulnya menghentak-hentak mengikuti gerakan Salim. Apalagi batang Salim yang sangat panjang membuat Mbak Asni kelojotan kala batang itu mengayun tandas ke dalam. Sambil meremas keras sprei kasur, Mbak Asni kelihatan mencapai klimaks yang entah ke berapa. Sampai Salim pun menggelepar di atas perut Mbak Asni.

17tahun &IGO ( Indo Girl Only ) &video bokep 21 Nov 2008 08:55 pm

Video bokep 17Tahun Anak Muda Jaman Sekarang

Video bokep 17Tahun Anak Muda Jaman Sekarang pergaulanya kebanyakan sudah semuanya menjurus ke hal-hal yang berbau sex. Seperti pada video kali ini, sedikit saya ceritakan tentang video ini, terdapat sepasang anak muda di sebuah kamar sedang berpose di hp kameranya, dimana si cowoknya sedang asik memainkan memek pacarnya ini, si cewek asik berpose di hp kamera miliknya dan setelah beberapa lama si cowok langsung mencancapkan kontol nya ke memek si cewek ini.

Klik pada gambar untuk memperbesar gambar preview :

Download video bokep disini.

17tahun &IGO ( Indo Girl Only ) &video bokep 21 Nov 2008 08:49 pm

Video bokep 3gp 17Tahun Abg pulang sekolah diajak ml

Video bokep 3gp 17Tahun Abg pulang sekolah diajak ml. Abg yang masih berstatus kelas 1 smu ini lantas di ajak ke kos-kosan pacarnya dan baru di antar pulang sekitar jam 7 malam.

Klik pada gambar untuk memperbesar gambar previewnya :

Download video bokep 3gp disini.

17tahun &Cerita Dewasa 21 Nov 2008 08:37 pm

Cerita 17Tahun Aku Diperkosa 3 Gadis

Cerita 17Tahun Aku Diperkosa 3 Gadis, Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua teman-temanku yang laki, sudah punya pacar. Bahkan sudah ada yang beberapa kali ganti pacar. Tapi aku sama sekali belum punya keinginan untuk pacaran. Walau sebenarnya banyak juga gadis-gadis yang mau jadi pacarku.

Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari itu aku pakai baju olah raga, bahkan pakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.

Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah. Dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.

Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah, sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih celana pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpura-pura memandang jauh ke depan, ketika dia tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.
“Lagi ada yang ditunggu?”, tegurnya tiba-tiba.
Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepat-cepat aku menjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan menyapaku.
“Tidak…, Eh, kamu sendiri..?”,aku balik bertanya.
“Sama, aku juga sendirian”, jawabnya singkat.

Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik tapi juga punya bentuk tubuh yang bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya. Apalagi pinggulnya yang bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi tertarik memperhatikannya. Padahal biasanya aku tidak pernah memperhatikan wanita sampai sejauh itu.
“Jalan-jalan yuk…”, ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
“Kemana?”, tanyaku ikut berdiri.
“Kemana saja, dari pada bengong di sini”, sahutnya.

Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara. Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.

Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang cukup tegap.
“Eh, nama kamu siapa…?”, tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.
“Angga”, sahutku.
“Akh.., kayak nama perempuan”, celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
“Kalau aku sih biasa dipanggil Ria”, katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
“Nama kamu bagus”, aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
“Eh, boleh nggak aku panggil kamu Mas Angga?, Soalnya kamu pasti lebih tua dariku”,• katanya meminta.

Aku hanya tersenyum saja. Memang kalau tidak pakai seragam Sekolah, aku kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat beberapa bulan. Dan aku memperkirakan kalau gadis ini pasti seorang mahasiswi, atau karyawati yang sedang mengisi hari libur dengan berolah raga pagi. Atau hanya sekedar berjalan-jalan sambil mencari kenalan baru.
“Eh, bubur ayam disana nikmat lho. Mau nggak…?”, ujarnya menawarkan, sambil menunjuk gerobak tukang bubur ayam.
“Boleh”, sahutku.

Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Ria banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Ria memang pandai membuat suasana jadi akrab.

Selesai makan bubur ayam, aku dan gadis itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Ria yang mengajak pulang lebih dulu.
“Mobilku di parkir disana…”, katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.
“Kamu bawa mobil…?”, tanyaku heran.
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum”, katanya beralasan.
“Kamu sendiri…?”
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
“Ikut aku yuk…”, ajaknya langsung.

Belum juga aku menjawab, Ria sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih cukup baru. Ria malah meminta aku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Ria langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek perumahan elite. sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Ria menahan dan memaksaku untuk singgah.

“Ayo..”, Sambil menarik tanganku, Ria memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
“Tunggu sebentar ya…”, kata Ria setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.

Dan aku yakin kalau ini pasti kamar Ria. Sementara gadis itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan gadis-gadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.

Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar-benar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi menyadari.

“Aku dulu…, Aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini”, kata Ria tiba-tiba sambil melepaskan baju kaosnya.

Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Ria bukan hanya menanggalkan bajunya, tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Ria mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali.. Akhh tubuhnya luar biasa bagusnya.. baru kali ini aku melihat payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat. Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk bagai gitar yang siap dipetik, Bulu-bulu vaginanya tumbuh lebat di sekitar kemaluannya. Sesaat kemudian Ria menghampiriku, dan merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henar-benar polos dalam keadaan tidak berdaya. Bukan hanya Ria yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
“Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian…?”, aku membentak kaget.

Tapi tidak ada yang menjawab. Ria sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Ria saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.

Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, ketika merasakan jari-jari tangan Ria yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku. Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh Ria. Aku hanya bisa merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat.

Aku benar-benar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku.

Aku benar-benar tidak berdaya ketika Ria duduk di atas perutku, dan menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu bernama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku. Bahkan mereka melakukan sesuatu yang hampir saja membuatku tidak percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Saat itu juga aku langsung menyadari kalau gadis-gadis ini bukan hanya menderita penyakit *********, tapi juga biseks. Mereka bisa melakukan dan mencapai kepuasan dengan lawan jenisnya, dan juga dengan sejenisnya. Bahkan mereka juga menggunakan alat-alat untuk mencapai kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan takut membayangkannya.

Sementara itu Ria semakin asyik menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini penisku merasakan kelembutan dan hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan sedikit basah, Riapun merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih tertahan. Ria terus menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya membuatku benar-benar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi aku berteriak tertahan. Ria yang mendengarkan teriakanku ini tiba-tiba mencabut vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan melakukan gerakan-gerakan mengocok yang cepat, hingga tidak lebih dari beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa berbarengan dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Ria terus mengocok-ngocok penisku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi tubuhku merasa ngilu dan mengejang.

Tetapi Ria rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai bersih dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya ini membuat penisku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas kini menjadi dipaksa untuk tetap keras dan upaya Ria sekarang benar-benar berhasil. Penisku tetap dalam keadaan keras bahkan semakin sempurna dan Ria kembali memasukkan batangan penisku ke dalam vaginanya kembali dan dengan cepatnya Ria menggenjot kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.

Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit Ria memperkosaku, tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan Ria tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku bisa merasakan vagina Ria berdenyut-denyut dan menyedot-nyedot penisku, hingga akhirnya Ria melepaskan teriakannya saat ia merasakan puncak kenikmatannya. Aku merasakan vagina Ria tiba-tiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari vagina Ria. Saat Ria mencabut vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak di batangan penisku..

Setelah Ria Baru saja mendapatkan orgasme, Ria menggelimpang di sebelah tubuhku. Setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya, melihat itu Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas lagi daripada Ria. Membuat batanganku menjadi sedikit sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah masing-masing mencapai kepuasan yang diinginkannya.

Sementara aku hanya bisa merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkm aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini…?

Aku hanya bisa berharap mereka cepat-cepat melepaskan aku sehingga aku bisa pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal angan-angan belaka. Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malah ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan telentang dengan tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri. Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa mengeluh dan berharap gadis-gadis itu akan melepaskanku.

Sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak mau melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap saat mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan cara memaksa. Bahkan mereka menggunakan obat-obatan untuk merangsang gairahku. Sehingga aku sering kali tidak menyadari apa yang telah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam pengaruh obat perangsang, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Tapi setelah mereka mencapai kepuasan, kembali mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak bisa meninggalkan ranjang dan kamar ini.

Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku juga di ranjang ini dengan menggunakan handuk basah, sehingga tubuhku tetap bersih. Meskipun mereka merawat dan memperhatikanku dengan baik, tapi dalam keadaan terbelenggu seperti ini siapa yang suka? Berulang kali aku meminta untuk dilepaskan. Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka mengancam akan membunuhku kalau berani berbuat macam-macam. Aku membayangkan kalau orang tua dan saudara-saudara serta semua temanku pasti kebingungan mencariku.

Karena sudah tiga hari aku tidak pulang akibat disekap gadis-gadis binal dan liar ini. Meskipun mereka selalu memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi hanya dalam waktu tiga hari saja tubuhku sudah mulai kelihatan kurus. Dan aku sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku sudah pasrah. Setiap saat mereka selalu memaksaku menelan obat perangsang agar aku tetap bergairah dan bisa melayani nafsu birahinya. Aku benar-benar tersiksa. Bukan hanya fisik, tapi juga batinku benar-benar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman gadis-gadis binal itu.

Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini, aku tidak lagi melihat mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak kelihatan. Aku benar-benar ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam keadaan terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih karena belum diisi makanan. Aku benar-benar tersiksa lahir dan batin.

Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, karena yang datang bukan Ria, Santi atau Rika Tapi seorang lelaki tua, bertubuh kurus. Dia langsung menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat itu aku sudah benar-benar lemah, sehingga tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan orang tua ini memintaku untuk tetap berbaring. Bahkan dia memberikan satu stel pakaian, dan membantuku mengenakannya.
“Tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan makanan”, katanya sambil berlalu meninggalkan kamar ini.

Dan memang tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan, membuat nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi itu sudah habis berpindah ke dalam perut. Bahkan satu teko air juga kuhabiskan. Tubuhku mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.
“Bapak ini siapa?”, tanyaku
“Saya pengurus rumah ini”, sahutnya.
“Lalu, ketiga gadis itu..”, tanyaku lagi.
“hh…, Mereka memang anak-anak nakal. Maafkan mereka, Nak…”, katanya dengan nada sedih.
“Bapak kenal dengan mereka?”, tanyaku.
“Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi saya tidak menyangka sama sekali kalau mereka akan jadi binal seperti itu. Tapi untunglah, orang tua mereka telah membawanya pergi dari sini. Mudah-mudahan saja kejadian seperti ini tidak terulang lagi”, katanya menuturkan dengan mimik wajah yang sedih.

Aku juga tidak bisa bilang apa-apa lagi. Setelah merasa tenagaku kembali pulih, aku minta diri untuk pulang. Dan orang tua itu mengantarku sampai di depan pintu. Kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Aku langsung mencegat dan meminta supir taksi mengantarku pulang ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku mencoba merenungi semua yang baru saja terjadi.

Aku benar-benar tidak mengerti, dan hampir tidak percaya. Seakan-akan semua yang terjadi hanya mimpi belaka. Memang aku selalu menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Dan aku tidak berharap bisa terulang lagi. Bahkan aku berharap kejadian itu tidak sampai menimpa orang lain. Aku selalu berdoa semoga ketiga gadis itu menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena yang mereka lakukan itu merupakan suatu kesalahan besar dan perbuatan hina yang seharusnya tidak perlu terjadi.

17tahun &Cerita Dewasa 21 Nov 2008 08:06 pm

Cerita 17Tahun Casting film

Cerita 17Tahun Casting film, Pagi hari di kantor mewah sebuah perusahaan film nasional. Seorang gadis cantik sedang diwawancara oleh manajer casting perusahaan tersebut. Pewawancara adalah seorang pria bernama Toni berumur 28 tahun keturunan India.

“Namanya siapa?” kata Toni lalu duduk dan mengambil setumpuk kertas di mejanya.
“Santi, lengkapnya Beznifa Santi Putridewi.” jawab gadis itu.
Toni lalu mencari file gadis itu di tumpukan kertas yang dipegangnya.

“Tinggi 170 cm, berat 50 kg, umur 20 tahun,” Toni mengguman sendiri membaca data di depannya.
“Pernah main Sinetron atau pementasan sebelumnya?”
“Belum pernah.”
“Kamu tahu bakat kamu apa?”
“Saya bisa menyanyi, tenis dan bakat yang terbesar menurut saya adalah akting.”

“Kok tahu bakatnya akting?”
“Saya ahli mempermainkan perasaan orang Pak,” jawab Santi sambil tersenyum malu mengakui jika dia sering mempermainkan orang.
“Bapak bisa buktikan sendiri,” tambahnya.
“Mempermainkan bagaimana maksudnya?”
“Saya bisa pura-pura menangis, sampai keluar air mata. Saya juga bisa marah atau membentak-bentak orang padahal dalam hati sih biasa aja.”

“Oke.. saya ingin lihat itu, tapi nanti saja..!”
“Oh ya, Kamu panggil saja aku Toni. Tidak usah terlalu formal OK..!” tambah Toni.
“Iya Pak.”
“Tu kan..!”
“Oh iya.” tersipu Santi, ternyata dia masih memanggil Toni dengan Pak.
“Baik Ton.!” kata Santi terlihat canggung waktu mengucapkannya.
“Ha.. ha.. ha.. ha..!” berderai tawa Toni melihat keimutan gadis di depannya.

“Cantik juga gadis ini, seksi, lugu, kulitnya putih. Wajahnya sangat keibuan, mirip Nia Daniati. Tubuhnya memang langsing tapi susunya montok juga. Andai saja dia istriku, pasti aku sarungan terus. Ha.. ha.. ha.. ha.. ha.. Kira-kira dia mau nggak ya?” Toni berkata dalam hatinya sambil tersenyum-senyum.

“Coba aja ah..!”
“Ya Ton?” Santi memajukan kepalanya, disangka Toni berkata padanya.
“Oh nggak..!”

“Kamu benar-benar ingin peran ini?” tanya Toni.
“Sangat ingin Ton..”
“Kamu tahu peran utama di film ini?”
“Tahu, yaitu seorang Gadis yang mengandung karena diperkosa, lalu memilih untuk membesarkan anaknya sendiri,” jawab Santi.

“Pada adegan perkosaan, kamu mau memerankan sendiri tanpa pemain pengganti?” Toni ingin mengetahui keberanian gadis itu.
“Mau Ton.”
“Tidak pa-pa sama keluarga?”
“Nggak..” Santi memang dari keluarga liberal. Dia mengabiskan masa SMA-nya di USA mengikuti ayahnya dinas.
“Ternyata kamu memang ingin sekali peran ini ya?”
“Iya Ton, aku mau peran ini sebagai awal dari karirku di dunia film.”

“Apakah kamu tahu pendatang baru di dunia film mau melakukan apa saja untuk dapat peran?”
“Aku tahu Ton, Aku juga mau melakukan apa saja agar diterima.”
“Aahhh..! Benar kamu mau?”
Santi mengangguk.

“Kamu bersedia jika diminta berhubungan seks?”
“Bersedia Ton.”
“Jika diminta mengulum penis, sorry nih ya, apakah mau juga?” tanya Toni sambil tersenyum. Toni merasa penisnya mulai berdenyut-denyut.
“Mau Ton..”
“Kok mau?”
“Habis Toni ganteng sih, Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..” tawa Santi berderai mendengar jawabannya sendiri. Toni pun tertawa mendengarnya.

“Entar kamu lapor polisi.”
“Kok lapor polisi, kan dua-duanya senang,” jawab Santi sambil tersenyum.
“Apakah kamu pernah melakukan sebelumnya?”
“Dua-duanya pernah Ton.”
“Maksudnya?”
“Ya melakukan seks pernah, mengulum penis juga pernah.”
“Ooohh.. dengan siapa?”
“Dengan pacar,” jawab Santi.
“Di mana?” Toni tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah seks Santi.
“Di rumah, 2 tahun yang lalu waktu semuanya lagi pergi.”
“Awalnya gimana?” lanjut Toni lebih semangat.

“Waktu itu kami ganti baju untuk berenang, tapi karena ganti bajunya bareng satu kamar, kami jadi sama-sama terangsang. Terus mulai deh kami bercumbu dan akhirnya kami berhubungan seks.”
Toni merasakan penisnya semakin keras. Ingin rasanya menyelipkan penisnya dalam vagina milik gadis cantik di depannya.

“Kamu mau nggak menceritakan secara lengkap?”
“Kok gitu Ton?”
“Kok gitu gimana?”
“Kenapa… kenapa nggak kita aja yang melakukannya?” kata Santi. Santi merasa dengan begitu maka peran itu pasti jatuh ke tangannya.
“Ooohh, aku ingin dengar cerita kamu dulu aja deh.”
“Diringkas aja ya Ton?”
“Iya..!” jawab Toni tidak sabar.

“Kami waktu itu akan berenang, rencananya mau ganti baju renang di kamarku. Setelah masuk kamar, kami mulai membuka baju. Aku membuka lemari pakaian, lalu membuka kaos dan celana pendekku. Sehingga aku tinggal memakai baju dalam saja. Risih juga berpakaian seperti itu di depan orang lain. Tapi ini kan pacarku, jadi ya kupikir tidak apa-apalah. Aku melirik ke samping, terlihat pacarku sudah membuka seluruh pakaiannya dan tinggal mengenakan celana dalam saja. Berdesir juga tubuhku. Aku merasa bibir kemaluanku mulai berdenyut, “Santi menggigit bibirnya.

“Kalau tidak ingat aku ini perempuan pasti langsung kudatangi dia. Kuputuskan untuk lanjut mencari baju renang. Ketika sedang memilih baju renang yang merah atau yang biru, kudengar pacarku melangkah mendekat. Makin dekat dan makin dekat, lalu terasa hembusan nafasnya di leher ini. Waktu itu aku merasa tegang sekali, menduga-duga apa yang akan dia lakukan. Jantungku berdetak kencang dan vagina ini sepertinya berdenyut-denyut,” kata Santi sambil memegang rok bawahnya.

“Tiba-tiba dia menelusupkan tangannya di antara pinggang, memelukku dan merapatkan badannya, sehingga punggungku dan dadanya bersentuhan. Dia mencium telingaku, gelii banget..” Santi berkata sambil mengangkat pundaknya seakan dia sedang kegelian di bagian telinga.

“Dia mempererat pelukannya sehingga dadanya makin rapat ke punggungku. Ciumannya lalu turun ke leher, rongga vaginaku rasanya makin berdenyut dan rasanya agak basah di bibirnya. Lalu pantatnya mulai bergerak-gerak digesekkan naik turun ke pantatku. Terasa benjolan penisnya di antara belahan pantatku. Selama itu aku diam saja karena tidak tahu harus bagaimana. Setelah beberapa menit dia membalikkan badanku sehingga kami saling berhadapan.”

“Diciumnya bibir ini, kami saling berpagutan. Lidah kami saling bersentuhan, kadang bibirku disedot, kadang digigit. Nikmat sekali rasanya. Tidak pernah saya merasa sesenang itu. Tiba-tiba dia melepaskan ciumannya dan membopong tubuh ini. Digendong ke arah tempat tidur. Aku direbahkan, sebenarnya malu juga terlihat dalam keadaan seperti ini dari depan tapi karena aku juga sudah terangsang aku mau aja,” Santi berhenti sebentar. Tak lama dia melanjutkan lagi.

“Pacarku lalu membuka bra-ku dilanjutkan dengan celana dalam. Pada saat dibuka gesekan antara tangannya dan kulitku menimbulkan perasaan yang nikmat sekujur tubuh. Aku merapatkan pahaku karena aku benar-benar malu. Melihat itu pacarku lalu memegang pahaku dan membuka secara perlahan lalu dia bilang jangan tutupi keindahan tubuhmu, selain itu aku kan pacarmu,” Santi berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi ceritanya.

“Pahaku membuka begitu juga vaginaku, aku mencoba melihat apa yang terjadi pada kemaluanku saat terangsang. Kulihat warnanya menjadi lebih merah, bibir luarnya telah membuka dan kurasa vaginaku lebih tebal dari biasanya. Terlihat ada lendir yang menetes keluar,” Santi lalu menyilangkan kakinya.

“Setelah itu, dia pegang bahuku. Dia pegang dan belai rambutku yang terurai di bahu. Perlahan-lahan dilepaskan celana renang dan celana dalamnya. Kulihat tubuh pacarku yang telanjang di depanku. Dia lingkarkan tangan di pinggang dan mulai mendekapku lembut. Kami berpelukan dan bertautan bibir sambil jari-jarinya meraba dan menggosok seluruh badan.”
“Kok lama amat sih pemanasannya? Kapan penisnya masuk ke vaginamu?” Toni sudah tidak sabar.
“Ceritanya lebih cepet dong..!” tambahnya lagi.
“Tuh kan, nggak sabar. Sudah penis kamu aja yang diselipkan. Setelah itu terima aku main di film,” kata Santi. Selain dia ingin kepastian dapat peran, dia juga merasa terangsang mendengar ceritanya sendiri. Terasa vaginanya sudah lembab.

“Oooh nggak.. nggak..! Lanjutin aja. Aku pengen tahu bagian vaginamu meremas-remas penis pacarmu.”
“Kalau itu yang kamu mau!” Santi membenarkan letak duduknya dan melanjutkan ceritanya.

“Setelah itu dia mengusap kedua susuku. Diremas dan dipermainkan putingnya sambil menggesek-gesekan batang penisnya ke perutku. Lalu dia mencium payudaraku, perlahan diturunkan ciumannya ke bawah. Bibir kemaluanku dijilat, dijulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubang vaginaku. Dijilat, terus jilat dan dijilat sambil tangannya meremas-remas puting payudaraku. Aku terus melihat ke bawah mengamati perubahan yang terjadi di kemaluan ini. Setiap lidahnya dijulurkan ke dalam, maka vaginaku makin terbuka. Bibir vaginaku ditarik oleh giginya, rasanya sakit tapi nikmat maka vaginaku akan monyong ikut tertarik. Kelihatan vaginaku berdenyut setiap lidahnya mengusap permukaan klitorisku..”

“Setelah sekian menit dalam posisi ini, ada rasa yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Sangat nikmat. Otot vaginaku seperti tersedot-sedot. Rasanya aku ingin menjerit-jerit dan berteriak untuk melampiaskan nikmatnya. Aku baru tahu kalau itu yang namanya orgasme,” lalu Santi terdiam seperti mengenang saat-saat itu.

“Jangan bilang kalau ceritanya sudah selesai, mana cerita kalian berhubungan seks dan kamu mengulum penisnya?” Toni curiga cerita Santi telah selesai melihat Santi diam.
“Kok kamu diam sih..? Dia kan belum orgasme. Mana mau dia cuma muasin kamu aja. Dia pasti ingin juga ngerasain orgasme,” lanjut Toni agar Santi melanjutkan ceritanya.
“Itu kamu tahu. Kamu aja deh yang ngelanjutin,” sahut Santi sambil tersenyum.
“Waduh..! Kamu ngerjain saya ya? Ya nggak mau dong..!” jawab Toni ikut tersenyum.

“Hi.. hi.. hi.. hi.. hi..” berderai tawa Santi melihat reaksi Toni. Lalu Santi menarik napas sebentar dan melanjutkan ceritanya.

“Lalu dia merebahkan badanku ke kasur. Didekatkan pinggulnya ke selangkanganku. Pahanya berada di bawah pahaku. Aku tahu dia akan memasukkan penisnya. Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku juga menginginkan hal itu. Terasa kepala penisnya sudah menempel di bibir vaginaku. Geli juga rasanya. Tiba-tiba aku tersentak karena rongga vaginaku terasa penuh. Tidak jelas rasanya, antara perih dan nikmat..”

“Vagina kamu memijat-mijat penisnya tidak?” tanya Toni bersemangat. Dia membayangkan nikmat yang dirasakan pacar Santi.
“Ya nggak tahu dong. Kan dia yang rasain,” jawab Santi.
“Kalau yang saya rasain, vagina saya berdenyut-denyut, dan hangat sekali. Aku mencoba mendongakkan kepala melihat ke vaginaku, kemaluanku lebih menggelembung dan tebal. Kulihat juga pacarku memaju-mundurkan penisnya ke dalam vaginaku. Vaginaku akan monyong setiap dia menarik penisnya dan akan ikut masuk setiap dia menekan penisnya.”

“Pacarku mendongakkan kepala dan memejamkan matanya. Peluh membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Makin lama rasa perih di kemaluanku makin hilang, yang tersisa hanyalah rasa nikmat yang luar biasa. Aku pun ikut menaik-turunkan pantatku berkebalikan arah dengan gerakan pacarku. Setiap permukaan vagina dan klitorisku menyentuh pangkal penisnya rasanya indah sekali..”

“Setelah itu yang kutahu aku memejamkan mataku, lalu aku merancau tak menentu. Hingga kurasakan rasa yang tadi kualami, vaginaku kembali seperti disedot-sedot. Aku berteriak dan menggigit bibirku. Rasanya lebih nikmat dari orgasme pertamaku. Tidak lama pacarku juga berteriak. Ouughh katanya,” Santi tersenyum ketika dia menirukan ucapan pacarnya.

“Terasa hentakan di vaginaku. Pacarku menekan penisnya sedalam mungkin ke vaginaku, sambil badannya terhentak-hentak. Terasa tembakan sperma di ujung dalam kemaluanku sekitar 7 kali. Hangat sekali”

“Untuk berapa lama, penisnya tetap terselip di vaginaku. Sepertinya kami berdua tidak mau memisahkan kemaluan kami, kalau kata pacarku sih. Spermanya dan cairanku telah jadi lem. Ha.. ha.. ha.. Pacarku memang garing Ton,” berderai tawa Santi.

“Lalu cerita aku mengulum penisnya terjadi setelah kami selesai bereng..” belum selesai Santi bicara Toni memotong ucapannya.
“Cukup.. cukup.. Aku sudah nggak kuat nih. Bagian kamu mengulum penis dipraktekin aja. Aku janji deh kamu bakal dapat peran itu.”

Mata Santi langsung berbinar. Daripada mulut ini capek dipakai untuk bicara lebih baik dipakai untuk bekerja. Ternyata mulut seorang wanita bisa membantu kariernya.

“Ayo kita mulai,” lanjut Toni.
“Bagaimana awal ceritanya?” Toni berdiri mendekat ke arah Santi. Celananya tidak bisa menutupi penisnya yang ereksi, sehingga terlihat tonjolan di situ.

“Kami waktu itu berenang tidak memakai baju. Jadi..” Santi berkata sambil jarinya memberi kode agar Toni membuka bajunya.
“Oh ya.. tentu saja,” jawab Toni sambil membuka kancing baju lalu reitsleting celananya. Dilepas semuanya. Setelah itu celana dalamnya. Penisnya sudah penuh, keras dan tegak menunjuk ke arah Santi. Santi lalu membuka bajunya. Dilepas satu-satu seluruh kain yang melepas di badannya.

“Santi..! vaginamu tebal sekali.” Toni terkejut melihat montoknya vagina Santi.
“Nggak pernah saya lihat yang seperti kamu..”
“Santi..! Enggak usah dikulum deh. Kita ngeseks aja yuk..”
“Kamu mau dong..! Aku nggak tahan melihat itumu. Sudah pengen nyelipin penis ke situ nih,” kata Toni sambil mengusap-usap penisnya.

“Tentu aku setuju Ton. Dua-duanya kan jadi ngerasain nikmat.”
“Sekarang kamu naik ke atas sofa,” perintah Toni sambil membuang semua benda yang ada di sofa ruang kantornya.
Santi melangkah ke arah sofa. Direbahkan badannya perlahan, posisinya kini terlentang menghadap ke Toni. Pahanya dibuka mempertunjukan seluruh alat kemaluannya. Bibir vaginanya telah membuka, merekah sehingga bagian dalam dari vaginanya terlihat jelas. Merah, basah dan berdenyut. Tentu nikmat sekali merasakan pijitan otot-otot di vagina itu.

“Uoogh…” tanpa terasa mulut Toni mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluan yang tebal itu. Belahan bibir kemaluannya yang sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil. Bibir luarnya masih terbuka seakan memanggil-manggil Toni untuk menikmati.

Melihat hal itu, Penis Toni semakin tegang. Dia ingin sekali memasukkan kemaluannya ke lubang vagina yang ada di depannya, merasakan jepitan dan pijitannya. Jelas sekali Toni melihat vagina itu berdenyut-denyut. “Terbayang betapa nikmatnya jika penisku bisa masuk ke situ,” guman Toni dalam hatinya.

Toni mendekat dan berlutut di selangkangan Santi. Lalu tangan kirinya merekahkan bibir kemaluan Santi, sedangkan tangan kanannya mengarahkan penisnya agar arahnya tepat. Dengan lembut Toni menyelipkan penisnya ke dalam kemaluan Santi yang basah. Toni berhenti sejenak ketika kepala penisnya masuk 1/4. Dia memejamkan matanya menahan nikmatnya perasaan saat itu.

“Uughh…” ujar Toni.
Perasaan luar biasa ketika kepala penisnya menggesek bibir vagina Santi. Santi mungkin mengira batang penis itu akan dimasukkan seluruhnya, karena begitu kepala penis menyelip di antara bibir kemaluannya terlihat ia membuka kedua pahanya lebar-lebar. Tapi ternyata Toni menghentikan gerakannya.

“Lagi Ton, masukin lagi..!” Santi merengek ketika mengetahui Toni menahan gerakannya.
“Jangan berhenti Ton.. masukin semuanya,” Santi merengek lagi karena Toni masih memejamkan mata menikmati 1/4 penisnya yang sedang diremas-remas oleh otot vagina Santi.

Toni yang memang ingin seluruh bagian penisnya menikmati pijitan tentu saja mengikuti permintaan itu, dia lalu menekan penisnya lebih dalam perlahan-lahan sampai akhirnya semuanya masuk.

“Ouugghh..!” Toni melenguh ketika pangkal penisnya menyentuh lubang kewanitaan Santi. Terasa seluruh penisnya digenggam erat oleh vagina Santi.
“Ahhkkk..! Tekan Ton, tekan yang keras..!” rengek Santi sambil menggigit bibirnya.
“Kayak gini bukan?” lalu Toni menghentakkan pantatnya ke depan, sehingga mulut vagina Santi terdorong dengan keras.
“Oughh..” teriak Toni.
“Aaahhkkk..! Gila Ton..! Lagi Ton..!” rintih Santi merasakan nikmat.

Toni lalu menarik penisnya, vagina Santi terlihat monyong. Setelah tertarik setengah didorongnya lagi pantatnya seperti tadi.
“Aaahkkkk..!” bersamaan mereka berteriak.

Toni lalu memaju-mundurkan pantatnya. Dia menarik sampai sekitar 50 persen panjangnya, lalu menekan lagi hingga masuk semuanya. Toni terus melakukan itu. Sementara itu Santi tetap merancau tidak karuan. Sedangkan Toni lebih banyak diam.

“Aahhkk.. Toni.. enaak.. hiks.. hiks.. hikss ooohh..”
“Yaahh.. tusuk yang keras.. hmm.. Oughh.. yaa.. terus Ton..”
“Sshhh.. ssshhh.. oughh.. enak Ton, terus.. terus.. tarik dorong yang keras Ton..!”
“Oougghh.. oh.. oh.. oh.. oh..” Santi terus menjerit-jerit. Vaginanya menjepit keras penis Toni.
“Ough.. terus Ton..!” Santi menggelepar-gelepar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lubang vagina Santi semakin basah, dan meremas-remas batang kemaluan Toni.
“Uhh.. hu.. hu.. huu..” terdengar suara Santi seperti merintih, menahan nikmatnya sodokan penis Toni. Santi makin membuka kakinya. Ditariknya kakinya ke atas, sehingga lututnya menyentuh dadanya. Hal ini membuat Toni makin leluasa memasukkan penisnya.

“Ton.. bentar lagi Ton.. aku mau dapat.!” teriak Santi ketika merasakan orgasmenya akan datang, rongga kewanitaannya menjadi lebih berdenyut, seperti menggigit lembut penis Toni. Santi menaikkan pantatnya agar penis Toni makin dalam mengisi vaginanya.

“Ouughhh… Ton.. hiks.. hiks.. hu.. hu..” Santi kembali merintih kenikmatan. Kedua tangannya meremas-remas pundak Toni.

Sesaat sebelum Santi mencapai orgasme. Toni tiba-tiba merenggut pantat Santi, mencengkeramnya. Dihentak-hentakkan pantatnya ke bawah lebih cepat. Hal ini membuat gesekan antara penis dan rongga vagina makin cepat. Toni terus melakukannya hingga pada hentakan terakhir ditekannya pantat lama sekali ke bawah.

Santi merasakan senjata Toni semakin besar, vagina Santi terasa semakin penuh, Toni mencapai orgasmenya.
“Ooouughh..” lenguh Toni.

Santi merasakan ada tembakan hangat di dalam ujung vaginanya. Lembut dan mesra. Semprotannya kencang sekali dan berkali-kali. Kira-kira tujuh atau delapan tembakan, badan Toni mengejang, dan lalu lemas, lunglai, jatuh ke depan, menindih Santi.

Toni lalu mencium bibir Santi.
“Terima kasih San..”
Santi mencium balik. Mereka berpagutan beberapa saat. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Setelah agak lama Toni menjauhkan bibirnya dan mencabut penisnya. Terdengar bunyi, “Plop..!” ketika kedua alat kenikmatan itu dipisahkan.

“Kamu aktris berbakat San..! kamu akan dapat peran di film itu, tapi bukan sebagai peran utama. Kamu jadi teman SMA si pemeran utama,” kata Toni sambil memakai celananya.
“Lhoo..! Ton.. katamu..” belum selesai Santi bicara Toni sudah bicara.
“Aku memang bilang kamu akan dapat peran. Tapi aku tidak bilang kalau itu peran utama. Kalau tidak mau ya udah. Kalau mau peran utama, nanti tunggu film yang baru lagi, kamu casting lagi sama saya. Kita lihat kamu serius tidak menjalani kariermu.”

“Sekarang kamu mau nggak peran tadi?” lanjut Toni bertanya.
“Mau dong, tapi kiraiinn.!”
“Mau nggak?” tanya Toni lagi.
“Iya.. iya.. mau..!” jawab Santi sambil memakai bajunya.

Wawancara pun selesai, Santi pergi meninggalkan ruangan dan kehidupan di kantor sang manajer berlangsung lagi seperti biasa.

video bokep 09 Nov 2008 09:25 am

Video Bokep 17tahun – ABG Malam Mingguan di Hotel

Video Bokep 17tahun – ABG Malam Mingguan di Hotel. Ketika ayah si cewek yang masih abg ini pergi selama satu minggu bersama ibunya, inilah saatnya kesempatan abg yang masih berstatus siswi smp ini menghabiskan malam minggu bersama pacar tercinta di sebuah hotel yang sudah di pesan oleh pacarnya selama 2 malam..hmm bener-bener cewek abg badung ya? :-)

Klik preview untuk memperbesar gambar :

Download video bokep abg badung disini.

video bokep 09 Nov 2008 09:20 am

Video Bokep 17Tahun – Tante Girang Lagi Check In Ama Brownies

Video Bokep 17Tahun – Tante Girang Lagi Check In Ama Brownies di sebuah hotel di bilangan kemang. Walaupun sudah berumur hampir 40tahun namun bisa dikatakan body dan wajahnya tidak terlihat sama sekali seperti sudah berumur segitu. Dengan penuh semangat tante ini mengulum kontol si brownies ini dan pelan-pelan menuntunya kedalam lubang vaginanya..

Klik pada gambar untuk memperbesar preview :

Download video bokep tante girang disini.

Next Page »


Feedage Grade A rated

eXTReMe Tracker

17Tahun 1, Cerita Dewasa 17Tahun Indonesia, Foto Cewek Bugil telanjang dan Bokep 3gp. Dapatkan koleksi cewek bugil telanjang 3gp porno mulai dari abg smu bugil, sampai dengan tante girang. Semua koleksi cewek bugil telanjang kami adalah gratis untuk para pengunjung yang sudah berumur di atas 17tahun.