Search ResultsFor "cerita selingkuh"
Cerita Dewasa 14 Nov 2009 01:37 am
Cerita 17tahun – Mertuaku Sangat Luar Biasa
Cerita 17tahun – Mertuaku Sangat Luar Biasa. Kisah nyata ini aku alami tepatnya bulan pada Mei 2003 yang lalu. Waktu itu bertepatan dengan banyaknya libur tanggal merah, yang harinya sangat berdekatan. Aku dan istriku sengaja mengambil cuti sebanyak dua belas hari kerja, ditambah dengan libur tanggal merah. Yah! lumayan untuk istirahat dari rutinitas pekerjaan dan sumpeknya kota Jakarta.
*****
Aku berusia 30 tahun, sebut saja namaku Pento, Indri istriku Berusia 29 Tahun. Kami baru dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu yang ku beri nama Piko, berusia 2,5 tahun. Pada hari yang sudah kami tentukan aku sekeluarga berangkat ke Kota S. Penumpang kereta Argo Lawu tidak terlalu penuh! Mungkin, dikarenakan hari libur masih beberapa hari lagi, jadi aku istri dan anakku lebih leluasa beristirahat selama dalam perjalanan. cerita 17tahun terbaru hanya di 17tahun1.com.
Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota S, Kami di jemput Ibu mertuaku dan pakde Man sopir keluarga Mertuaku. Ibu mertuaku begitu bahagianya dengan kedatangan kami, anak kami Piko pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Piko cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Ibu mertuaku.
Akhirnya, kami sampai juga di desa GL tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Ibu mertuaku saja. kelima anak bapak dan Ibu mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua! kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah! dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Y.
“Bapak mana Bu? Tanya Indri istriku”.
“Bapakmu lagi kerumah Bupati, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!”, Jawab Ibu mertuaku.
Ibu mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Ibu mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, namun begitu, Ibu mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara.
Setelah mandi dan beristirahat kamipun makan pagi bersama. Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore. Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa!.
“Ini minum wedang buatan Ibu! Biar kalian segar saat bangun pagi harinya”.
Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Ibu mertuaku.
“Enak sekali Bu! apa ini Tanya Indri istriku “.
“Itu wedang ramuan Ibu sendiri! Gimana, seger kan?”.
Kamipun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali. Istiku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur. Aku mencoba bertahan dari rasa ngatuk! dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya! rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Ibu mertuaku.
Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Akupun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat. Tak lama aku pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur.
Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku berangapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja. Ketika pagi harinya aku terbangun, kulihat istri dan anakku masih lelap tertidur, aku ke kamar mandi untuk kencing! begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering? Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan.
Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan? Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang kualami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam.
Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam. Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istrikupun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Ibu mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerang aku dan istriku. Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang.
“Mas aku ngantuk! selamat tidur ya Mas!”.
Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Akupun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali. Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku?, apa yang sebenarnya terjadi?
Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan!, hanya istri anak serta Ibu mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak pamily keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini. Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang?
Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Ibu, batinku. Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya akupun tertidur. Saat malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul dan berbincang bincang. Seperti hari kemarin-kemarin pula, Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya. Istri dan bapak mertuakupun sudah menghabiskan minumannya, sementara aku belum meminumnya.
“Kok nggak diminum Mas wedangnya”, tanya Ibu mertuaku?.
Aku memang mencoba untuk tidak meminum wedang tersebut, walaupun badan segar saat bangun tidur! namun aku berniat untuk tetap tidak memimumnya. Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini. Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang kuminum aku berjalan kearah dapaur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut.
Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit! kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur. Namun hal itu tidak terjadi denganku, apa karena aku tidak meminum wedang tersebut? Aku masih segar dan belum mengantuk. Aku pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istrikupun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata.
“Mas aku ngantuk sekali! Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas! aku ngantuk sekali Mas” Kukecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur.
Aku masih melamun, kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Ibu? Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku!. Langsung aku pura-pura tertidur. Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat kubuka sedikit kelopak mataku ternyata Ibu mertuaku! Mau apa beliau? Aku terus pura -pura tertidur. Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Ibu mertuaku.
Deg.. jantungku berdebar saat Ibu mertuaku menghampiriku, langsung mengelus elus burungku yang masih terbungkus celana pendek. Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan apa yang akan dilakukan Ibu mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur. Ibu mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istri ku terbangun, atau mungkin juga mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali.
Blass lepas sudah celanaku! Aku telanjang, jantungkupun makin berdebar, aku terus berpura-pura terdidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Ibu mertuaku. Aku menahan napas saat Ibu mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Ibu mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur. Jujur aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Ibu mertuaku.
Kutahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya, dan bless.. mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi.
Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Ibu mertuaku, apalagi ketika Ibu mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangiku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku. Digemgamnya kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesekgesekan ke memek Ibu mertuaku.
Aku sudah tidak tahan lagi! Ingin rasanya langsung kumasukan kontolku!. Sambil berjongkok, burungkupun diarahkannya kelubang surga Ibu mertuaku! perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya! sambil memejamkan mata menikmati mili demi mili masuknya burungku ke sarangnya.
“Ahh.. ahh nikmat”, jerit mertuaku, saat semua burungku telah amblas masuk tertelan memek Ibu mertuaku.
Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak.
“Ahh.. Ibu mertuaku menjerit tertahan saat beliau mulai naik turun bergoyang menikmati rasa nikmat yang beliau rasakan.
Ibu mertuaku terus menjerit, mendesah, tanpa takut aku, istri dan anakku atau bapak mertuaku terbangun.
Ibu mertuaku terus bergoyang naik turun. Belum beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Ibu mertuaku mengejang.
“Ahh nikkmatt”, jerit panjang Ibu mertuaku.
Rupanya Ibu mertuaku baru saja mendapatkan orgasmenya.
Ibu mertuaku langung rebah menindih tubuhku mencium bibirku membelai kepalaku seperti, seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya, aku langsung membuka mataku.
“Jadi selama ini aku tidak bermimpi! dan tidak pula tidur dengan mahluk halus!”.
Ibu mertuaku bangkit karena kaget.
“Mass ka.. mu ndak ti.. dur? kamu nggak meminum wedang yang Ibu bikin?”.
“Tidak Bu! aku tidak meminumnya”, Ibu mertuaku salah tingkah dan serba salah! mukanya memerah tanda beliau mengalami malu yang sangat luar biasa.
Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang,
“Mass..”, Ibu mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku.
“Ammpuni Ibu, Mass”.
Aku merasa kasihan melihat Ibu mertuaku seperti itu, karena aku sendiripun sudah sangat terangsang akibat permainan Ibu mertuaku tadi.
“Bu aku belum tuntas!”, aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya.
“Sudah Bu, jangan menangis!, aku juga menikmatinya kok Bu!”.
Kulepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, kupeluk Ibu mertuaku dan kamipun berciuman dengan buasnya.
“Ahh Mas.. nikmat.. Mas..”, saat kuhisap dan kuremas tetek mertuaku yang sudah kendur.
“Ah.. Mas nikmat..”, kutelusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus kuciumi perutnya yang agak gendut.
“Ahh Mass”, jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, kujilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil.
Dua jarikupun terbenam di dalam memek ibu mertuaku, jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya.
“Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi.. ahh! Ibu keluarr!, aarrgghh”, jerit ibu mertuaku.
Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku! Sampai sampai aku tidak bisa bernapas.
“Enak Bu?”
“Enak sekali Mas”. Kucium kembali mertuaku.
“Bu.. apa Indri nanti nggak bangun?”
“Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Ibu yang paling ampuh!”
“Tidak berbahaya Bu?”
“Tidak Mas”.
Kugeluti kembali mertuaku.. kucium.. kuhisap teteknya. Kucolok-colok memeknya dengan dua jari saktiku.
“Oohh Mass masukin Mass Ibu sudah nggak tahan lagi.. Mas”.
Dengan gaya konvensional langsung kuarahkan kontolku ke lubang surga Ibu mertuaku, dan akhirnya masuk sudah.
“Oh.. Mas nikmat sekali..”.
“Iya Bu.. aku juga nikmat.. memek Ibu nikmat sekali.., goyang terus Bu..”.
Kamipun terus berpacu dalam nikmatnya lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Ibu mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami.
“Ohh Mas.. Ibu mau keluar lagi..”.
Rupanya Ibu mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, aku pun tak mau kehilangan moment.
“Tahan Buu!, sedikit lagi akuu juga keluarr..”, sambil kupercepat goyangan keluar masuk kontolku.
“Akk Mass, Ibu sudah nggak kuatt”.
Dan serr serr aku merasakan kemaluanku seperti di siram air yang hangat rasanya. Akupun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku!
“Ibuu aacchh, cret.. cret.. cret..”, akupun rubuh memeluk Ibu mertuaku.
“Bu!, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Ibu yang melakukannya?”
“Iya Mas, maafin Ibu! Ibu jatuh cinta sama Mas pento sejak pertama kali Ibu melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi”.
“Kenapa harus seperti pencuri Bu?”.
“Ibu takut ditolak Mas! lagi pula Ibu malu, sudah tua kok gatel”.
“Apa semua mantu Ibu, Ibu perlakukan seperti ini?”.
Sambil melotot Ibu mertuaku berkata, “Tidak Mas! Mas pento adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Ibu sayangi”. Kucium kembali mertuaku, kupeluk.
“Mulai besok Ibu jangan pakai wedang lagi, untuk Ibu, aku siap melayani, kapanpun Ibu mau”.
Kamipun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya. Tanpa istriku tahu! didekatnya aku dan ibunya sedang menjerit jerit mereguk nikmatnya persetubuhan kami. Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat, lalu Ibu mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, “Mas Pento terima kasih!”.
*****
Yah.. itulah awal hubungan sexku dengan Ibu mertuaku, walaupun ada rasa sesal, namun rasa sesal itu lenyap tertelan nikmat yang kudapat, dan akupun jadi tahu bahwa wanita seusia Ibu mertuaku sangat nikmat untuk di setubuhi. Nanti akan aku ceritakan kembali kisah persetubuhanku dengan mertuaku selama aku liburan di desa GL.
Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15, kulihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi. Ahh.., akupun termenung mengingat kejadian semalam, aku masih tidak menyangka. Ibu mertuaku, orang yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya, dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Malah ibu mertuaku juga yang memulai awal perselingkuhan kami.
“Selamat pagi Ma”, sapaku saat kulihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku,
“Kok sepi pada kemana mah?”
“Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke Wonogiri, Ibu pergi ke pasar sama Piko”.
Kupandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Ibu mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.
“Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas..”, protes istriku saat kutarik lengannya, langsung kupeluk dan kulumat bibirnya..
“Mas.. malu.. ahh, nanti kalau Ibu datang bagaimana?”
Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, kuremas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Ibu mertuaku. Kubalik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, kusingkap ke atas dasternya kuturunkan celana dalamnya dan,
“Uhh Mas pelan pelan dong.”
Aku tak perduli, kuturunkan celanaku sebatas lutut, langsung kuarahkan burungku yang sudah tegak berdiri kelobang memek istriku.
“Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas.”
Semakin istriku berteriak, gairahkupun semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah benar.
“Ahh..”, jeritku, saat burungku amblas tertelan memek istriku.
Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku kugoyang maju mundur pantatku.
“Ahh nikmat Ndri..”, kugoyang dengan keras keluar masuk kontolku.
“Mas.. enak mass.”
Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memek istriku.
“Ndri .. aku mau keluarr nihh.”
“Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang”, pinta istriku.
Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian aahh, seluruh syaraf tubuhku menegang dan cret.. cret.. crett.. uhh.. aku menjerit tertahan sambil dengan erat kupeluk tubuh istriku dari belakang.
Kulihat, raut wajah kekecewaan diwajah Indri istriku,
“Maaf.. ya.. sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini”, rayuku.
“Ndak apa-apa Mass..”, kukecup keningnya.
“Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?”, tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi.
Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan, yang sedang kusetubuhi adalah ibu mertuaku.
Saat siang menjelang, setalah makan siang, istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman -teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal dilampung, saat ini sedang pulang kampung juga.
“Pada mau kemana nih?” Tanyaku
“Mumpung kita lapi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan- jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota S makan Soto gading”, Jawab mereka.
Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan ibu mertuaku.
“Da.. da piko jagain mamah ya..”, kukecup anakku.
“Bu aku pergi dulu ya”, pamit istriku.
“Mas aku jalan jalan dulu yahh, bye Mas”
Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Ibu mertuaku sedang mengunci pintu gerbang.
“Kok digembok bu?
“Biar aman”, katanya, sambil berjalan dan masuk ledalam rumah, dan klik.. Pintu rumah pun di kunci oleh Ibu mertuaku.
Aku dan Ibu Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Ibu mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Kukecup keningnya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya.
“Mas Pento, Saat-saat seperti inilah yang paling ibu tunggu-tunggu” kupandangi wajah ibu mertuaku, sunguh cantik sekali, kucecup kening mertuaku, kulumat bibirnya, kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap, kuangkat dan kulepas daster yang dipakai ibu mertuaku. Terbuka sudah, ternyata ibu mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi, kuhisap teteknya, kujilati inhci demi inchi seluruh tubuh Ibu mertuaku.
“Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang..”.
Kuajak Ibu mertuaku pindah ke sofa.
“Kamu duduk Mas..”, dilepasnya kaos dan celanaku, aku dan ibu mertuaku sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel ditubuh kami berdua.
“Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap terus bu, hisap kontolku bu.. ahh”.
Nikmat sekali kuluman ibu mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang saling meremas.
“Ohh.. bu.., akupun bangkit untuk merubah posisi, kurebahkan ibu mertuaku dilantai, kakinya mengangkang, kupandangi memeknya, yang telah melahirkan istriku, kuhisap, kukecup dengan lembut memek ibu mertuaku, kujilati dengan penuh perasaan, kuhisap semua cairan yang keluar dari lubang sorga Ibu mertuaku.
“Ohh.. Mas.. jangan siksa Ibu sayang.., Mass, Pentoo.., masukin sekarang Mas.., Ibu sudah mau keluar sayang”.
Langsung kuarahkan batang kontolku kelubang surga ibu mertuaku. yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Kugesek -gesek perlahan kontolku di itil Ibu mertuaku yang sudah mengeras dan.. belss.. uhh, rintih Ibu mertuaku saat kepala kontolku menerobos memasuki lubang nikmatnya.
“Ohh.., Mas masukin semuanya sayang.. jangan siksa ibu.. sayang..”
Lalu kuhentak dengan kasar.. ahh.. jerit mertuaku saat seluruh batang kontolku amblas meluncur dengan indahnya terbenam dijepit memek Ibu mertuaku, yang rasanya membuat aku jadi ketagihan mengentoti ibu mertuaku. Kupeluk ibu mertuaku, kamipun saling melumat, kuangkat perlahan-lahan kontolku kuhujam kembali dengan keras.
“Aahh..”, jerit ibu mertuaku.
“Mas.. Pento.. entotin Ibu Mass.. entotin Ibu.. Mas .. ohh mass. puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh.”
Akupun semakin terangang dan bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Ibu mertuaku.
Kunaik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar.
“Ahh.. ahh .. Ibu.., jeritku, aku mau keluar.. buu.”
“Iyaa.. sayang ibu juga mau keluarr.”
Kupercepat kocokan keluar masuk kontol ku, plak.. plak.. plak..
“Mass.. ayo Mass.. keluar.. bareng.. sayang. Ahh..”
Tubuh ibu mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku.
“Mass ahh ahh”
“Ibuu, arrgg”, jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung.
“Cret.. crett.. crett..”, kusirami rahim ibu mertuaku dengan spermaku.
Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan.
“Bu..” kulihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah -engah.
“Iya Mas..”
“Rasanya aku jatuh cinta sama ibu..”, kulihat ibu mertuaku tersenyum. manis sekali..
“Ibu maukan jadi kekasihku bu”.
Ibu mertuakupun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata,
“Mas ini nikmat sekali..”, dikecup kembali keningku.
Hari itu sampai magrib menjelang kami berdua terus berbugil ria, aku dan ibu mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur ibu mertuaku dan di kamar mandi. Yang paling dasyat, setelah aku dan ibu mertuaku, meminum jamu buatan ibu mertuaku. Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh.., kukocok kontolku dilubang surga Ibu mertuaku, sampai banjir memek Ibu mertuaku danIibu mertuaku memohon kepadaku agar aku memasukan kontolku di lubang anusnya. Nikamat sekali .. saat kutembakan spermaku didalam liang anus Ibu mertuaku.
Saat istriku kembali selepas isya, kusambut istriku dan teman temannya, setelah ber bincang bincang sebentar teman teman istriku pamit pulang. Istrikupun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan.
“Mas aku taruh Piko di kamar dulu ya..”, kulirik Ibu mertuaku dan kuhampiri beliau sambil berbisik.
“Bu.., Indri adalah istri pertamaku, dan Ibu istri keduaku”, ujarku.
Ibu mertuaku pun tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku. Hari itu benar benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Ibu mertuaku sudah aku rasakan.
*****
Pada hari keenam liburan kami di desa GL, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadiran Istriku. Mau tidak mau aku dan Istriku membatalkan semua acara liburan kami di kota S.
Kulihat Ibu mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Padahal itu adalah alasan Ibu mertuaku, Ibu mertuaku masih belum mau berpisah denganku, kurayu istriku agar membujuk Bapak mertuaku, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan ibu mertuaku ikut kami ke Jakarta. Ibu mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku.
Besoknya Aku memesan tiket kereta Argo Dwipangga, karena hari itu hari kerja, maka Akupun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh -oleh untuk teman teman kami. Sesampainya aku dirumah, kami pun langsung berkemas kemas merapikan barang bawaan kami., Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Saat aku hendak menuju kekamar mandi aku berpapasan dengan Ibu mertuaku yang hari itu tampak cantik sekali, kubisikan kepadanya, agar Ibu mertuaku tidak usah memakai celana dalam, ibu mertuakupun tersenyum penuh arti.
Dengan diantar Pakde Man dan Bapak mertuaku Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan, setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam keretapun berangkat. Kuputar bangku tempat duduk kami, biar kami bisA saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah teridur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama ibumertuaku. Setelah lewat stasiun yogyakarta, kulihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang.., akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh.
Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya. Kulihat istri dan ibu mertuaku pun sudah tertidur. Jam 2 pagi aku terbangun kulihat istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan lahan kucolek Ibu mertuaku, beliau membuka matanya, sstt, akupun memberi kode kepada Ibu mertuaku. perlahan lahan Ibu mertuaku bangkit, kulihat istri dan anakku masih tertidur.
“Bu.. aku kepengen.. bisikku..”, Ibu mertuakupun tersenyum, kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong. Setelah mendapat tempat duduk yang kurasa aman kuputar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya.
Langsung kupeluk Ibu mertuaku, kamipun saling berpagutan, kuremas tetek Ibu mertuaku, dengan perasaan yang sangat berdebar, kubuka celanaku sampai sebatas lutut, kontolku sudah tegak dengan sempurna, kuangkat rok panjang Ibu mertuaku.. wowwww ternyata Ibu mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi.
“Kamu yang suruh.. katanya”, sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta, badanku bersandarkan tempat duduk, Ibu mertuakupun bangkit mengangkangiku, perlahan -lahan di arahkan memeknya ke burungku yang sudah tidak sabar menerima sarangnya. Diturunkan perlahan lahan dan bless.. amblas semua kontolku masuk kedalam tertelan lobang nikmat Ibu mertuaku yag sudah sangat basah sekali.
“Ahh rintih kami bersamaan..”
Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Ibu mertuaku menambah nikmatnya persetubuhan kami.
Dengan cepat Ibu mertuaku menaik turunkan pantatnya, kami berdua bersetubuh dengan rintihan perlahan. takut kalau -kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami.
Hanya beberapa menit saja.., “Aahh, hh.. Ibuu aku.. aku.. mau keluarr..”.
“Cret.. cret.. crett..”
Kuangkat badanku dan kupeluk dengan erat tubuh Ibu mertuaku, tanpa sadar Ibu mertuakupun mengigit pundakku saat ejakulasi dan orgasme bersamaan hadir melanda dua insan manusia yang sedang lupa diri dan dilanda asmara.
“Deg-deg-deg-deg”, suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang lewat.. modar mandir.
Buru buru Aku dan Ibu mertuaku merapikan pakaian kami dan bergegas kembali kegerbong kami, kulihat anak dan istriku masih lelap tertidur, Aku dan Ibu mertuaku kembali keposisi kami masing-masing dan tertidur dengan senyum penuh kepuasan.
Cerita Dewasa 01 Nov 2009 04:47 pm
Cerita 17tahun – Mas Guritno suami Regy
Cerita 17tahun – Mas Guritno suami Regy, Aku tau bersuamikan mas Husni penuh dengan risiko. Dia pasti sering bermain dengan wanita lain, walaupun aku kadang kadang suka ngecek email, ym, telepon dan sms aku sadar sesadarnya dia cukup pandai berrahasia.
Sampai akhirnya aku cukup menenangkan diri bahwa dia sayang aku dan anakku serta hubungan sex ku yg cukup intens walaupun tidak setiap hari.
Mengenai hubunganku dengan si mbah seperti yg diceritakan oleh Mila, sudah cukup menjadi cerita kelamku. Jujur mbah lebih hebat dari mas Husni, aku nekat main sama si mbah juga karena ada perasaan toh mas Husni pastinya suka main sama cewek lain. Aku juga terdorong dengan perasaan penasaran terhadap PILnya Mila. cerita 17tahun terbaru dan terlengkap hanya ada di 17tahun1.com.
Kalau saja mbah tidak menyodomi aku, mungkin aku masih selingkuh dg dia saat ini. Apalagi sebagai laki2 ke 3 yg menancapkan kontolnya ke vaginaku mbah cukup membuatku tergila2. Apa yg aku dapatkan dari mbah kadang2 aku praktekkan dengan mas Husni walaupun tetap saja beda rasanya ha ha ha.
Sejak petualanganku dengan mbah terus terang ada sisi liarku yang muncul. Aku dan Mila boleh dibilang sudah jadi tante girang saat ini, walaupun aku tau Mila masih terlalu jaim untuk mengakuinya. Aku saat ini sudah nggak peduli lagi bagaimana atau dengan siapa mas Husni bermain cinta. Bahkan pernah aku terang2an mengajak Mila atau Regy berganti pasangan tapi mereka selalu menolak. Karena Regy lebih terbuka dibanding Mila aku pernah memancing Regy untuk menggoda suamiku.
Tapi dengan imbalan aku boleh tidur juga dengan suaminya. Tapi sialnya si Regy walaupun sudah berhasil tidur dengan mas Husni tidak juga mengijinkan aku menikmati otongnya mas Guritno suami Regy. Regy malah menawarkan cowok2 lain yang sebenarnya simpanan Mila. Dasar gila!
Sampai akhirnya pada saat pembagian rapot anak2 aku ketemu juga dengan mas Guritno. Regy waktu itu tidak datang karena dia dan anaknya sudah meluncur ke villanya di anyer.
Aku baru kenal mas Guritno ya pada waktu itu, dan terus terang dari penampilannya yang kurus dan tidak seberapa tinggi aku tidak tertarik dengannya.
“Mamanya Mira ya?”
“Iya pak. Bapak orang tuanya siapa?”
“Saya Guritno bapaknya Ricky”
“Ohhh pantas, saya tunggu Regy cari2 dia kok nggak ada”
“Regy sama Ricky sudah berangkat ke Anyer”
“Sama pak, mas Husni sama Mira juga sekarang sudah berangkat ke Kidzania”
“Sudah selesai ambil rapotnya?”
“Sudah, ini mau pulang”
“Oh saya juga, ya sudah salam buat keluarga” sahut mas Guritno santai. Aku akhirnya sedikit menahan dia dengan berdiskusi mengenai sekolah dan hasil rapot. Tapi mas Guritno sama sekali tidak menunjukkan gelagatnya untuk menggodaku. Matanyapun tidak jelalatan melihat wajahku atau tubuhku.
Memang sih, aku tidak pernah berdandan seronok dan memang juga aku bukan termasuk cewek yang berbody sexy. Tapi aku lebih cantik dari Regy.
Karena respon mas Guritno yang mengecewakan akhirnya aku nekat minta diantar pulang. Walaupun aku jelas2 bawa mobil.
Di dalam mobil mas Guritno dia pun biasa2 saja. Karena dendamku pada Regy sudah mentok akhirnya aku nekat juga menggoda mas Guritno. Tidak tanggung2 aku langsung saja memegang selangkangan mas Guritno yang sedang menyetir honda Jazznya.
“Ehh Bu…. Jangan!”
Dengan pelan dia mengembalikan tanganku. Akupun kembali meremas kontolnya. Diapun kelabakan, waktu mencoba mengembalikan tanganku, tangannya aku tarik ke dadaku. Mas Guritno juga cepat2 menarik kembali tangannya.
“Maaf apa ini? Saya nggak bisa begini.”
Aku diam saja dan segera membuka celana panjangku. Aku tarik tangannya untuk meraba paha putihku yang mulus. Yang pasti lebih menarik dari paha Regy yang hitam.
“Jangan bu, kaca mobilnya nggak gelap”
“Ya udah kita cari tempat mas”
“Nggak saya nggak mau maaf, maaf sekali mbak”
Aku malah membuka celana dalamku dan meletakkannya di dashboard mobilnya.
“Mbak, sudahlah…. Saya mencintai Regy”
“Ahhh, jangan ge er! Saya juga cuma ngajak beginian, bukan cinta2an”
Aku merunduk kepangkuannya dan membuka retsleting celana mas Guritno.
Dia kali ini tidak melawan.
“Mbak kaca mobilnya nggak gelap, itu keliatan ke mana2″
Aku diam saja, begitu kontolnya berhasil aku keluarkan langsung saja aku kulum.
“Mbak… Mbak sudah2 jangan ya. Tolong stop!”
Aku cuek saja dan mulai dengan cepat menyepongnya dengan liar.
“Mbak, aduh ini keliatan sama penumpang bis jalannya macet”
Aku cuek saja, dan ketika mas Guritno mencoba menarik kepalaku aku gigit kontolnya.
“Aduh aduh jangan digigit mbak, sakiiit”
Aku pegang tangannya agar tidak menjambak rambutku, dan mulai menggerak2an kepalaku naik turun. Kontol itu mengeras juga, dan mas guritno mulai mendesah2. Walaupun tangannya masih berusaha menghentikanku dan dia mencoba menyadarkan aku dengan sedikit berpetuah. Tiba2 telepon berbunyi, mas Guritno kebingungan karena sepertinya itu dari Regy. 2 kali miscall. Aku berhenti sejenak, dan mencium mas Guritno sambil memegang kontolnya.
“Kalau gak mau keliatan cari tempat, dan angkat aja teleponnya, kalau nggak aku yang telepon Regy.
Aku jilati pipinya, telinganya, dan lehernya sambil sekali2 meremas kontolnya.
Begitu hpnya berbunyi mas Guritno menjawab, aku tersenyum mendengar jawaban mas Guritno.
“Rilex aja” bisikku.
Mas Guritno akhirnya bisa menguasai diri, begitu pembicaraan mereka selesai, aku kembali nyepong.
Dia mulai mengaduh2 dan mendesis.
“Panggil gue Liz, jangan mbak2 gitu dong, emang gw pembantu lo”
Setelah sedikit menghardik mas Guritno, aku kembali nyepong kontolnya yg mulai bau ludahku sendiri. Dan tak lama kemudian crot crot crot. Penis itu meledak.
Mas Guritno gemetar dan mengaduh2 dengan hebatnya seiring dengan keras dan derasnya sperma yang keluar. Mobilnyapun berhenti.
“Stop stop aduuhhh Liz, sudah dong aku bisa kencing nih aku geli arggghhhhhh”
Aku mengangkat kepalaku, penis itu masih sedikit2 meledak. Mas Guritno buru2 membersihkannya dengan tissue.
“Ada minum nggak”
“Itu ada aqua”
Aku mengambil botol aqua yg sambil membersihkan bibirku yg belepotan.
Aku baru sadar bahwa aku ternyata berada di daerah mega kuningan dan mas Guritno berhenti di dekat lapangan kosong.
Mas Guritno keluar dan kencing dibalik sebuah mobil yang juga parkir didepan mobil ini.
Sekembalinya, mas Guritno nampak masih bingung. Aku menawarkan tissue basah yang juga aku pakai membersihkan mulutku.
“Cium aku dong! Masa udah digituin diem aja?”
Kamipun berciuman dan aku bimbing tangannya agar bermain di vaginaku.
“Aku bukan cewek murahan ya? Lo lagi beruntung aja, ada pas gue lagi horny.”
“Ya udah, celananya dipake dong, malu diliat orang”
Akupun menurutinya. Mobil pun berjalan.
“Liz, rumahnya di mana? Ini aku belok mana?”
“Enak aja pulang! Lu udah kelar gw gimana?”
“Maksudnya gimana Liz?”
“Ayo cari tempat dong mas”
“Kan udah selesai kan Liz, please deh aku nggak mau terlalu jauh”
“Ehhh jangan seenaknya ya? Lu kan udah keluar, gue gimana?”
“Udah Liz, aku janji mau nyusul Regy”
“Kalau nggak mau cari hotel, aku buka baju lagi nih biar semua liat, udah gitu aku telp Regy”
Akupun mulai membuka beberapa kancing bajuku.
“Stoooop, yayaya….. Udah2″
Setelah beberapa kali berantem kecil yang menyebalkan akhirnya kita sampai di hotel sommerset yg tak jauh dari tempat tadi.
Begitu di kamar, aku menciumnya dengan lembut sambil melucuti bajunya. Mas Guritno mulai mau bekerja sama dengan membuka bajuku begitu melihatku bugil, baru dia sedikit aktif. Aku direbahkannya di tempat tidur dan mulai meremas remas toketku.
“Gantian mekiku yang dijilat dong sayang”
Dia pun menurutinya.
“Mas ayo dong…. Masukin, udah gak kuat nih”
“Aku belum siap Liz, kan tadi abis digituin”
Aku raih kontolnya. Ha ha ha, emang bener masih lemes. Kontolnya memang biasa2 aja, gak panjang juga gak besar. Memang bener2 biasa.
“Maaf ya say, akunya lupa. Sini tiduran aja, biar aku yang bangunin”
Aku menindih tubuh kurusnya sambil mulai menciumnya. Setelah dia tidak tegang dan rileks dia pun mulai membalas ciumanku dg sedikit agresif. Tapi aku masih belum merasakan tanda2 kehidupan diselangkangannya.
Aku ciumi lehernya, terus turun ke puting dadanya, perut baru mulai nyepong kontolnya lagi.
Aku cium2 kepala kontolnya, aku sedikit melapnya dengan rambutku, kemudian menjilat2 dari pangkal telur keujung kepalanya.
“Mas liat dong mas lagi diapain” kataku sambil menjilat2 kontolnya. Mas Guritno menatapku dan mendadak kontolnya sedikit bereaksi. Aku jilat lagi dari pangkal telurnya dan lagi2 sedikit menegang. Aku lahap kontolnya dan mulai aku keluar masukkan dimulutku.
“Kontolnya buat aku ya?”
Dia hanya meringis dan mengangguk. aku naiki dia dan aku masukin ke vaginaku yg masih basah dan blessss masuk hehehe. Aku sedikit goyang2in dan akhirnya kontol itu mengeras sempurna. Dia mulai menggenjot dari bawah. Dan aku mulai siap2 menikmatinya. Sekali2 dihentaknya dengan keras membuatku mengerang2. Dia meraih toketku. Yah toketku memang gak besar dan bukan andalanku. Tapi begitu aku mulai sedikit muter2in pantatku yg bohay, mulai mas Guritno mencengkeram gemas pantatku dan menghentakkan lagi kontolnya. Agaknya dia tau hentakkan yg agak menyilang itu sedikit menyentuh g spot ku. Maka dihentakkannya lagi kontol itu berkali2 ke arah itu.
Aku mencengkeram dadanya sambil memejamkan mataku. Mas Guritno tiba2 membalikkan badanku dan kini dia di atas, dengan kontolnya masih menancap disodok2annya lagi. Sebetulnya kalau kontolnya sedikit lebih panjang pasti sudah mengenainya.
Mengerti dengan keadaan ini Mas Gur, mencabut kontolnya (to Mila, kalau bilang kontol ya kontol jangan penis atau anu, nggak bgt deh dirimyu) diambilnya 2 bantal dan ditarohnya dibawah pantatku. Kemudian pahaku dipegangnya dan dibuka selebar2nya kemudian bless, akhirnya kena juga titik nikmat itu. Dia menekannya dalam2 kemudian dipompanya kontol itu dg cepat.
Setelah memompa cepat di tusuk dalam2 dengan menghentakkannya.
“AaaaaaaaaaahHhhh,
Enaaak mas”
Mas Gur kemudian menyeret kakiku hingga pantatku tepat di pinggir tempat tidur. Sekali lagi diganjalnya pantatku, kemudian bless lagi, kali ini dia berdiri dipinggir tpt tidur. Lumayan juga rasanya, cukup membuatku keenakkan.
Karena posisi tempat tidur yg ga terlalu tinggi mas Gur agak menekukkan dengkulnya. Tapi begitu dia menghujamkan dalam2 kontolnya dia mengangkat pantatku.
Mas Gur udah lupa anak istrinya. Wajahnya yg tadi innocent kini nampak beringas.
Mas Gur nampaknya sedikit mengambil nafas. Ditariknya keluar kontolnya. Dia nampak kebingungan mau posisi apa?
“Sini mas rebahan”
Di menuruti saja. Woman on top dan akupun siap menggoyang dg goyangan andalanku.
Begitu dia rebahan aku berdiri dulu mengangkangi tubuhnya memamerkan tubuhku.
Baru aku sedikit2 duduk, sebelum aku masukkan toolnya aku selentik dulu hulu ledak itu beberapa kali.
“Arghhh kok digituin?”
“Hmmm tambah ngacengkan sayang?”
Lhebbb masuk lagi baru aku puter2. Mas Gur yg sejak tadi bermain tanpa suara, kali ini dia mulai meracau, mengerang2. Aku lepas lagi kontolnya. Kali ini aku cubit pangkal kontolnya yg dibawah telurnya. Ini cukup efektif utk menahan ejakulasi. Lalu aku masukkin lagi kontolnya dan aku putar2 lagi pantatku.
“Anjing lu Lizzzzz enak banget sayang hsssssss”
“Sekarang lu suka kan mas?”
“Iya Liz, suka banget sayang”
“Lu bilang dong kalau nyesel nolak2 aku tadi”
“Iya aku nyesel emmmmmphhh, enak Liz”
“Apanya yg enak sayang?
“Goyangan eluuuu anjing enak banget”
Aku menghentakkan pantatku diapun menjerit.
“Apanya yg goyang?”
“Pantat elu”
Aku hentakkan lagi, dia mencakar pinggangku. Aku tarik sedikit ke atas pinggangku sambil menjentikkan dan mencubit lagi pangkal telurnya agar tidak ejakulasi lagi.
“Lu pinter banget sayang”
Aku merebah aku menjambak rambutnya, “sekarang bilang sayangkan, coba bilang mas lagi ngapain sekarang sama aku”
“Sedang ML sayang”
“Aku gak suka kata itu”
“Lagi ngesex Liz”
Aku jambak lagi rambutnya,
“Kita ngentot ya sayang”
Aku kembali tegak, dan menggoyang habis kontolnya.
Dia menghentakkan kontolnya dari bawah yg otomatis membuat goyanganku terhenti dan aku kini yg gantian mengerang.
“Aduh masnya pinter juga, enak banget kalau digituin”
“Apanya yg enak Liz”
“Kontolmu sayang”
“Ha ha”
Belum selesai ketawanya aku goyang ngebor lagi. Kali ini tanpa ampun meskipun dia minta berhenti.
“Sayang sayang…… Ngggg aku mau keluar”
Aku tak menghiraukannya malah bergoyang makin hebat.
“Sayang, tunggu……”
Aku goyang lagi dan croot crot crot keluar semua spermanya di vaginaku. Mas Gur masih berusaha mencabut kontolnya tapi aku malah menjepitnya.
Mas Gur membelalakkan matanya kemudian bangkit memelukku. “Udah… Enak bangethhh” kami pun berciuman cukup lama. Dan tak kubiarkan kontolnya lepas. “Kok di dalem sayang?”
“Biar tuntas dong. Cuma ada dua pilihan buat lo mas. Di mulut atau di vagina”
“Enak banget sayang”
Aku tak menjawab, aku cuma menciuminya. “Liz belum tuntas kan tadi?”
“Gampang nanti lagi kan bisa”
“Lagi?? Aduh gila lu ya. Aku udah cape Liz”
“Iya besok juga bisa kan?”
“Ha ha besok kan aku di anyer”
“Aku diajak dong?”
“Ahhh lu gila, nanti kalau Regy tau gimana”
“Kalau Regynya udah tidur dong. Gimana kalau aku sewa villa deket situ”
“Ahhh udah ah ngaco lu Liz”
“Hehehe… Ya udah aku becanda kok mas, besok2 kalau ketemu kita biasa2 aja. Anggap ini gak pernah terjadi ya?”
“Jadi lo ga mau lagi ya Liz?”
“Enggak lah mas, jangan lagi ya”
“Jahat lu Liz,”
“Ehhh ga mau ya aku”
“Akunya gak memuaskan ya?”
“Gak gitu ya mas”
“Abis Liz gitu, aku mau lagi digoyang kaya tadi enak banget, sepongannya juga ”
“Bilang yg bener hayoo”
“Iya aku mau ngentot lagi sama dirimu”
“Bagusss”
Setelah itu kita pun diam. Tak lama hpnyapun berbunyi lagi, mas Gur beralasan dia masih di kantor. Hahaha Setelah menjawab telpon mas Gur ke kamar mandi. Kesempatan ini aku gunakan untuk sms Regy.
“Cun, kita impas 1-1 ya”
Tak lama Regypun menelepon. Tapi tak ku angkat. Smspun masuk.
“Anjrit lo, hehehe”
“Satu ronde lagi ya”
“Be my guess honney”
“Tapi lo jangan telpon2 dia dong berisik tauk”
“Iya deh, gue telpon hubby lo ya”
“Oh iya, bagus daripada dia nelpon gw”
“Seeep, gimana kalau gw minta dia nyusul?”
“Bolelebo bow”
Aku sedikit tertidur, setelah tak lama kemudian mas Gur sudah keluar dr kamar mandi.
“Gak ke kamar mandi Liz?”
“Iya bentar, buru2 amat?”
“Aku harus berangkat sayang”
“Iya tapi bentar aku masih lemes, ya udah kalau mau berangkat sok aja. Kamarnya aku yg check outin”
Mas Gur menatapku yang sedang tidur telungkup. “Gila pantat lo bohay banget” sambil mencium pantatku.
“Ya udah sikat aja mas”
“Udah jam 2 sayang aku harus berangkat”
“Aduuuh aku sebel jawaban itu! Lagian ngapain pake anduk gitu sih. Ngapain ditutup tutup. Gw aja telanjang”
“Ahhh protes aja”
“Iya…. Buka hayo!”
Tiba2 sms masuk di hpnya. Begitu juga aku. Dari Regy “Mas, kalau masih di kantor mending berangkat besok aja masnya. Bareng sama Tita ya? Kalau siang gini sendiri, panas terik nanti mas ngantuk lagi. Kalau udah di rumah telpon ya, aku mau tidur”
Hahaha aku bersorak.
Aku tutup hpku, dan kembali tiduran. “Liz, kok tidur lagi?”
“Apaan sih mas, anduk nya tuh buka! Rese deh”
Mas Gur membuka handuknya menghampiriku sambil meremas2 pantatku.
“Ya udah masukin lagi cepetan sebelum berangkat”
“Aku kan masih capek Liz. Ok kalau aku bisa stay, lu bisa pulang maleman?”
“Aku bilang dulu ya sayang? Cium dulu dong”
Aku sms mas Husni.
“Pa nanti aku gak nyusul ya? Aku tunggu di rumah, aku ngumpul2 dulu sama ibu2 sekolahan, mau bicarain kado buat guru sama pembubaran arisan”
Setelah menulis sms, aku beranjak ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dengan air hangat. Aku keluar sambil tetap bugil. Aku ngecek hp ga ada miscall gak ada sms. Mas Gur tiduran sambil berselimut.
“Buka kenapa….” Kataku sambil menyingkap selimut.
“Mas, ciumin mekiku dong”
Dia menuruti sambil memasukkan jarinya. “Mas lo satu2nya cowo yg giniin gw”
“O ya? Lu juga satu2nya cewe yg mau nyepongin gw sampe muncrat di mulut”
“Ihh Regy tega amat, ya udah aku aja yg service lu mas”
“Tapi lo kok hebat amat Liz”
“Gw bukan cewe murahan ya mas. Gw ya gini ini kalau sama suami gw”
“Tapi suami lo jago dong ga kaya gw”
“Jago banget. Gw begini gara2 dia semuanya belajar dari dia, sama bokep. Yah siapa yg nggak sih”
“Lo lagi marahan ya?”
“Ya kira2 aja sendiri”
Mas Gurpun jadi lahap menjilati mekiku walaupun terus terang gak oke. Baru setelah dia notice kalau setiap kali dia mengulum kacangku akunya mengelinjang dia jadi semangat. Setelah itu diapun makin pandai dengan memasukkan jari2nya mencari g spot yang tadi.
Kali ini aku mau egois aku mau menikmatinya sendiri.
Mungkin karena belum biasa mas Gur bangkit mengambil coca cola di kulkas. Setelah meminum beberapa teguk dia menyirami mekiku dg coca cola kemudian kembali menjilatinya. Aku agak geli dg tingkahnya walaupun geli juga setiap kali dia menyirami mekiku.
Mas Gur lumayan bisa memainkan labia dan kacangku sekaligus g spotku dg jari2nya.
“Mas cium aku dong?”
Mas Gur meminum coca cola lagi sambil membersihkan mulutnya. Baru dia menciumku. Tangannya masih aktif di mekiku, dan akupun memindahkannya ke puting susuku. “Toketku minta jatah Mas”
Dia pun mencium toketku. Kali ini dengan penuh semangat. Aku yakin kalau ini dia cukup ahli. Setelah dia bermain di kiri kanan toketku, aku menyilangkan kedua kakiku sambil menjepit2 vaginaku walaupun tak ada tangannya lagi di situ. Begitulah akupun orgasme.
Mas Gur bingung melihat aku orgasme seperti itu apa lagi aku menolak waktu dia ingin mencium puting susuku lagi.
“Mau dimasukin Liz”
Aku tidak menjawab, aku masih menikmati orgasmeku lagian mau dimasukin gimana orang kontolnya masih lemes.
“Mas mau di doggy dong”
“Aku ga bisa, ini kan imut”
“Tenang aja”
Aku bangkit dan mulai dgn ritual membangkitkan torpedonya. Setelah mengeras aku dudukin tapi kali ini aku menghadap ke belakang.
“# uhhh enak gak mas. Mengkangkang dikit dong, tancep terus ya ayo masnya pegang pinggang aku”
Begitulah akhirnya posisi itu tercipta dg sempurna.
“Gila bener Liz, enak bokonglu bohay abis”
Diapun mengocok kontolnya dgn jantannya. Aku biarkan dia menikmati posisi baru ini dengan sesukanya. Mungkin karena sudah berkali2 dia cukup kuat. Diremas2nya toketku dari belakang sambil menghentak2kan kontolnya. Sekali2 dia menjambak rambutku # uhhh nikmat. Aku memang menyukai doggy. ” Di dalem ya sayang, yang banyak ya ssssshhhhh”
“Dengan senang hati bohayku”
Permainan tangannya di toketku sungguh luar biasa sehingga aku tidak bisa lagi diam aku keenakkan. Tanganku sudah lemas nggak bisa menopang tubuhku, aku lunglai hingga mas Gur akhirnya membalikkan badanku di posisi misionaris dia menuntaskan permainan ini. Crooot croot croot mas Gur ambruk dan kamipun berciuman.
TAMAT
Cerita Dewasa 06 Oct 2009 05:11 pm
Cerita dewasa Akibat Salah Pijat
Cerita dewasa Akibat Salah Pijat, Cerita ini berawal ketika kantor saya mengadakan workshop (jalan-jalan tahunan) dan saat itu tujuan kami adalah hotel Novus, Puncak. Adalah salah satu teman bernama Tari Rismayati (panggilan Riris) yang masih single juga sama seperti saya. Dia berumur satu tahun dibawah saya dan belum berkeluarga juga. Terus terang saya heran melihat dia. Secara fisik Riris orangnya tergolong cantik, rambut panjang sebahu, wajah oval, kulit kuning langsat cenderung putih mulus, dengan buah dada yang besar menantang. Dan yang paling membuat saya berdehem dalam hati kalau melihat pinggul dan pantatnya yang besar dan membulat mencetak celana dalam ukuran mini yang selalu dia pakai jika di kantor. Itu selalu saya perhatikan setiap hari bahwa ukuran roknya selalu kekecilan dengan pinggul yang indah jika sedang berjalan. Cerita dewasa hanya di 17tahun1.com.
Satu minggu sebelum berangkat Workshop, kami sempat makan siang bersama disebuah restoran dalam gedung kantor kami. Setelah ngobrol kesana kemari akhirnya subject pembicaraan mengarah ke workshop.
Saya bertanya, “‘Ntar workshop gimana kamu?”.
Riris menjawab dengan wajah yang lesu, “Ach, nggak tau juga Di, aku lagi bete nich, kayaknya kesana lumayan buat nyegerin pikiran aku.”
“Lho emangnya ada apa,”tanyaku menyelidik.
“Aku abis putus ama cowok ku soalnya dia selingkuh, maen belakang, trus ketauan ama aku,”celetuknya dengan muka sedikit memerah menahan marah.
“Ya udah,” sambungku “Ntar saya temenin kamu disana biar ngelupain dia.”
Dia tersenyum sambil bilang, “Tapi aku lagi mo sendiri Ardi.”
Aku tak kalah gesit menjawab ucapannya, “Iya Ris, Aku juga lagi mo sendiri aja ‘en rencana ntar aku mo sewa kamar sendiri aja, kalau kamu mau gabung aja kita bisa ngobrol ampe malem keluarin semua unek-unek yang ada dikepala kita masing-masing.”
Aku terus menjelaskan rencanaku minggu depan dihotel tersebut. Dan tak diduga respon dari Riris, “Oleh juga tuh Di, aku emang butuh itu enak kali yah ngobrol ngobrol kita berdua sampe malem”. “Iya, sekalian kalau kamu mau, saya juga nggak keberatan ngelonin kamu tidur,” candaku kepadanya.
“Ha, gila kamu” mata Riris memancarkan arti yang tidak dapat saya cerna.
Satu hari sebelum berangkat kami didata ulang oleh panitia, menyangkut pembagian kamar tidur. Sudah menjadi tradisi kantor kami, bahwa satu kamar berdua, dan diatur oleh nomor nomor kamar yang ada. Saya berdua dengan teman saya Hendra, dan Riris waktu itu terdata satu kamar bersama Wina. Dan tibalah waktunya bahwa kami satu kantor berangkat menuju hotel Novus ada hari Sabtu bersama sama dengan menggunakan satu bis besar. Kantor kami hanya berjumlah total 50 orang bersama orang asing juga. Rupanya dalam batas akhir sebelum naik ke bis, ada dua orang yang batal ikut karena alasan keluarga, mereka adalah Tiara, dan Wina. Wina?, bukannya Wina satu kamar dengan Riris, dan berarti nanti Riris sendirian dong dikamar. Pendulumku langsung bereaksi mendengar kabar tersebut. Sambil mengisi waktu, kami banyak bersenda gurau dalam perjalanan hingga akhirnya tiba tepat makan siang di hotel. Setelah kami makan dengan lahap, kami diberikan kunci kamar oleh panitia dan langsung check-in ke dalam kamar masing masing.
Sore harinya kami memanfaatkan kolam renang yang ada di hotel untuk bermain main. Dapat saya lihat Riris yang sudah memakai pakaian renang yang seksi. Uh, bukan main indahnya, saya betul betul terangsang melihat keadaan Riris seperti itu. Otak kotorku mulai bekerja supaya bagaimana dapat tidur dengannya malam ini. Dalam kumpulan laki laki ada Pak Kardi yang nyeletuk kepada teman laki laki berkata, “Waduh si Riris kalo abis berenang gue mau tuh mandiin dia.” Sambil matanya juga tak lepas dari gerakan pantat Riris yang berlenggang lengok kekiri kekanan mengikuti irama langkahnya.
Ketika Riris sudah selesai bermain dikolam renang dan akan kembali ke kamarnya, akupun mengikutinya seakan akan akupun sudah selesai dan ingin mandi. Sambil berjalan dibelakangnya, saya melihat celana dalam mini berenda yang dipakai Riris tercetak jelas oleh baju renang tipis yang berwarna ungu.
“Waduh, kok cepet selesainya Ris,” celetukku sambil berjalan disampingnya.
Riris menjawab, “Habis aku nggak tahan airnya terlalu dingin.”
Sambil dia menyilangkan tangannya dikedua belah dadanya yang padat montok tersebut.
“Trus kamu ngapain juga selesai,” tanya dia lanjut.
“Akh, aku udah bosen mendingan mandi air hangat terus nunggu makan malam, khan enak tuh”.
Lalu pembicaraan kami terpisah ketika Riris harus mengambil arah kekiri dan saya kekanan sambil berucap, “Sampai nanti ,. dagg”.
Waktu menunjukan pukul delapan, setelah perut saya isi dan kenyang sekali rasanya. Makan malam dihotel ini terasa nikmat sekali. Saya melihat sudah beberapa kali Riris menguap dan kemudian pamit dari kerumunan anak anak untuk pamit ke kamar. Dalam perjalanan ke kamarnya, dia ada melihat saya dan kemudian mengerdipkan mata seperti memberi tanda ke saya. Dengan sedikit tegang saya berpura pura seolah saya pun capek setelah bermain seharian dengan teman kantor dan ingin tidur.
Pada sore hari saya sudah memberitahu ke Hendra (teman sekamar saya) bahwa mungkin saya akan begadang keluar hotel, jadi nanti dia tidak kawatir atau curiga kepada saya. Dalam perjalanan dari restoran ke cottage agak jauh.
Riris berjalan kecil sendiri dan saya dengan cepat mengejarnya, dan menyapanya,
“Ris, udah ngantuk ya sayang, mau tidur..”
Riris menyahut, “Iya nih, nggak tahu kenapa nich badan semua jadi pegel semua, mungkin tadi renangnya kebanyakan kali.” Sambil berkata begitu, dia mengusap usap belakang lehernya sambil kepala digelengkan kekiri lalu kekanan.
“Makanya kamu juga sih terlalu over berenangnya, kamu kebanyakan diliat ama temen temen cowok lagi pas kamu berenang,” sahutku.
“Hm, aku tahu, justru karena mereka aku jadi lebih semangat,” kata Riris sambil masih tetap mengusap leher belakangnya.
“Kamu mau saya pijit pijit kecil Ris,” kataku sedikit berani.
“Hhh, boleh juga, tapi cuman di leher sama sekitar pundak yah,” sahutnya sedikit lemah.
Tak lama kami sudah tiba didepan pintu kamar Riris. Setelah dia membuka pintu kami berdua langsung masuk, saya sempat melihat pada sudut mata Riris ketika dia tutup pintu, matanya seperti melihat kiri kanan takut takut kalau ada orang disekitar yang melihat kami.
Dalam kamar Riris mempersilahkan saya duduk sambil dia permisi sebentar ke toilet. Sambil menunggu Riris saya menonton TV yang ada dikamar. Tidak begitu lama, Riris sudah keluar dan telah berganti baju tidur daster. Daster yang dipakai berwarna kuning dengan ukuran yang dapat saya katakan mini. Kenapa demikian? Daster tersebut hanya sebatas setengah pahanya saja dan berenda kuning juga, kemudian di pundaknya hanya mengenakan satu tali saja. Buah dada yang ranum menantang sekali dengan dua puting yang mencuat. Gila bukan main, dia sudah tidak memakai BH, tapi masih memakai celana dalam.
Celana dalam itu jelas tercetak menerawang tembus pandang dari daster kuning tersebut. Celana dalam Riris juga dalam ukuran yang sexy, mini CD warna putih, kontras dengan daster yang dipakai. Sebelum saya memberi komentar, Riris sudah berbicara,
“Ardi, kamu jangan salah sangka dulu, saya pakai ini supaya kamu mudah pijat leher dan pundak saya, lagi pula saya juga tidak bawa baju tidur lain selain yang ini, mudah-mudahan kamu tidak keberatan.”
“Oh, tentu tidak dong Ris, suka suka kamu aja, yang penting bajunya jangan menggangu pijat memijat,” kataku sambil menelan ludah beberapa kali.
Riris tersenyum lagi dan berkata, “Kamu pijet saya pake kaos lengan panjang apa tidak mengganggu, apa lagi nanti kamu naik ke ranjang kalau perlu, keliatannya celana panjang kamu juga ganggu, apa nggak lebih baik ganti yang pendek atau dilepas sekalian?”
Saya bengong atas ucapannya, lalu saya katakan, “Betul juga Ris, saya buka kaos aja deh,” sambil saya mengangkat koas saya sehingga saya sudah bertelanjang dada, dan kemudian Riris melihat ke celana panjang saya sambil mulutnya sedikit dimonyongkan. Saya pun membuka celana panjang saya, dan hanya tertinggal celana boxer saya. Riris tersenyum puas setelah melihat saya akan mudah nanti memijitnya. Dia langsung naik ke ranjang dan berbaring terlungkup, sambil memanggil nama saya, “Di, ayo dong mulai, badan Riris makin pegel nih”. Mendengar rengekan Riris saya langsung naik ke ranjang dan memulai aktivitas dengan memijit Riris.
Sungguh sempurna tubuh Riris dari belakang. Mimpi apa aku semalam sehingga Riris begitu pasrah memberikan sajian gratis seindah ini. Kulit yang mulus dengan pinggang ramping, pinggul yang besar dengan buah pantat yang membulat mumbul tinggi. Dapat kulihat dengan jelas belahan pantat Riris yang dibalut dengan CD mininya. Sebentar saja tangan saya sudah memijat bagian leher yang tegang, dan seeskali kebawah meijat pundaknya. Riris terkadang bersuara mendesah ketika tangan saya sedikit keras memijitnya,
“Uh, oh, hmm,” desahnya putus putus, membuat saya makain panas saja.
Adik kecil dibalik celana boxerku sudah mengacung keras siap tempur, entah apa yang sedang dipikir Riris sekarang.
Kemudian setelah kurang lebih 4 menit, Riris minta dipijit agak kebawah. Dengan yakin tangan saya kedua duanya merayap ke bawah, dari arah ketiak terus turun kebawah. Sambil sekali kali jari jemari saya dengan nakalnya menyentuh dari samping kedua bukit ranum yang mengembung keluar kesamping karena tertindih tubuhnya. Saya terus terang sudah tidak ada pikiran positif, otak ngeres saya terus bermain main fantasi, hingga suatu ketika,
“Di, pijatan kamu enak deh sekarang Riris minta dipijat bagian depan ya sayang,” sahut Riris sambil membalikan tubuhnya kedepan.
Waduh mak bukan main saat itu saya betul betul tidak tahan saya langsung meraba kedua belah susunya yang tegak menjulang, hal yang membuat Riris langsung kaget.
“Mardi,.! saya minta tolong kamu untuk pijat saya kenapa kamu memanfaatkan itu dengan meraba tubuh saya,” hardiknya.
Langsung saya kaget, saya kira dia minta lanjut dalam permainan tersebut ternyata dia memang betul betul minta dipijit. Langsung saya minta maaf kepadanya,
“Waduh maaf deh Ris, aku kelepasan, maklum deh tubuh kamu ranum sekali, sexy apalagi dengan itu (sambil menunjuk kedua buah dada Riris) yang mancung bikin aku jadi geregetan mau iseng.”
“Maaf ya sekali lagi Maaf,” kataku dengan penyesalan.
Riris yang melihat saya begitu agak melunak tapi kemudian dia menangis sambil berkata, “uhh, hh, hg hg hg,. emang setiap laki laki yang mau sama Riris cuman mau tubuh Riris aja, ini juga terjadi dengan cowok Riris yang dulu, maunya making love terus sama Riris, nggak ada perasaan sama sekali.”
Aku terhenyak, ternyata wanita didepan saya ini memang sudah pernah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, dan pendulumku kembali kontak. Dengan gaya yang gentle saya memeluk dia dari belakang dalam posisi duduk, tangan saya berada di perutnya sambil berkata,
“Riris, aku tuh memang udah salah, kamu Maafin ya, aku janji pokoknya malem ini kita cuman sayang sayangan aja deh nggak sampe kelewatan,” kataku menenangkannya.
Dia menengok ke belakang hingga wajahnya dekat sekali denganku dan berucap,
“Bener ya janji, kamu cuman kelonin aku aja nggak sampe kebablasan?”.
Aku mengiyakan dengan anggukan kepala sambil mencium kecil pipi kanannya.
Dia tersenyum, kemudian membalas mencium kecil bibirku. Aku pun serta merta tangan kanan mulai naik dari perut meraba buah dada yang menggantung tersebut. Riris menutup mata merasakan kenikmatan tersebut, kemudian dengan itu juga aku mencium bibirnya yang sensual, sambil sesekali kuhisap bibir bawahnya dan lidahku menjelajah ke rongga giginya dan menghisap lidahnya.
Riris benar benar menikmatinya, maka setelah melihat lampu hijau seperti itu, kedua tanganku sudah berada pada dua buah dada ranumnya. Oh alangkah nikmatnya tanganku bermain disana, meremas remas sambil kupelintir kedua puting susunya dengan ibu jari dan telunjukku. Riris terkadang bergetar tubuhnya ketika kombinasi yang kulakukan yaitu meremas sambil memuntir puting susunya. “Ah, Ardi kamu pinter bikin aku terangsang ya, ingat lho kita nggak boleh lebih jauh dari ini,” kata Riris mengingatkanku.
“Iya dong sayang aku pasti inget, khan ada kamu juga yang ngingetin!”
Sambil berkata begitu aku membaringkan tubuhnya diranjang dan aku dari belakang langsung ke depan menindihnya sambih terus melanjutkan meremas dan mencium bibir sensual nan menggairahkan tersebut. Riris masih terus mengingatkan, namun bahasa tubuhnya lain. Alat kelamin kami sudah bersentuhan, dimana batang kemaluanku yang sudah keras menggesek bibir luar kemaluannya dan gerakan kami seperti orang yang sedang bersenggama. Saya mendorong kebawah, Riris mendorong pula pantatnya yang tembem keatas, saya tarik pinggang saya, dia pun demikian.
Ketika mulut saya sudah mulai menjalar kedadanya dia mulai protes.
“Mardi, kamu nggak boleh kesana sayang, ohh, hh!” desah Riris tapi tangannya sama sekali tidak menutupi dadanya.
Saya menjawab dengan lembut, “Riris sayang, kalau peting cium atau jilatin nenen aja boleh dong, khan nggak kenapa napa?” saya mencoba tawar menawar dengannya.
“Ohh, kamu katanya kelonin aku, kok sekarang kita peting sih? ” rajuknya dengan muka bersemu merah menahan birahi yang terpancar keluar dari tubuhnya. Tanpa menunggu alasan lagi dari si cantik itu langsung mulutku menjilat puting susu yang memerah muda, karena birahi sambil aku menyedot putingnya bagaikan anak kecil yang sedang netek keibunya. Riris menggigit bibir sendiri menahan luapan emosinya yang meletup letup kian besar. Oh nikmatnya tiada tara menjilati dan menyedot susu seorang Riris.
Kaki Riris sudah menyepak kesana kemari membuat daster yang dikenakan tidak bisa menutupi bagian bawahnya. Terus terang sambil menjilat, saya memperhatikan gundukan yang tembem di bawah pusar yang bagai kue apem mumbul dengan sedikit bulu bulu kemaluannya yang menyembul keluar menambah indahnya pemandangan tersebut. Pinggulnya bergerak tak menentu membuat indahnya pemilik gundukan tersebut.
“Hhh, Mardi.. hh enak sayang”, erang Riris.
Mendapat respon seperti tangan saya secara reflek mulai turun menjelajah dari buah dadanya ke bawah perut, mengusap daerah pusar yang rata nan halus, kemudian turun lagi dibawah pusar yang ditumbuhi bulu bulu halus, kemudian meraba daerah selangkangan Riris yang wow bukan main empuknya.
Aku tekan sekali sekali sambil kuremas secara acak. Hal ini menyebabkan gerakan pinggul Riris yang makin panas. Suasana alam puncak pada malam hari yang dingin, tidak dapat membuat tubuh kami berdua kedinginan malah justru sebaliknya. Saya dapat melihat butiran butiran keringat birahi yang menetes dari dahi Riris yang sedang membasahi rambut panjang dan indah itu.
Oh.. aku benar benar makin terbawa emosi birahi yang menggebu. Riris antara sadar dan tidak masih mengingatkan saya,
” Di, kamu nggak boleh buka CD aku yah.. kita khan udah janji cuman peting aja,” katanya sambil menahan sesuatu dalam tubuh yang bergelora.
“Oke Ris, aku buka daster kamu aja yah, liat tuh udah nggak karuan bentuknya sayang,” sahutku mencoba menawar.
Dan berhasil. Riris sendiri yang meloloskan dasternya, dia angkat dari bawah dan dinaikkan lewat lehernya. Berarti keadaan kami sekarang hanya masing masing tinggal celana dalam saja. Kami langsung berpelukan sambil berciuman panjang, oh nikmatnya dapat memeluk Riris dalam keadaan begini. Kulit kami langsung bersinggungan tanpa ada pemisah lagi. Setelah pelukan plus ciuman aku rasa cukup, tanganku mulai bermain ke arah selangkangan Riris dengan mengusap lembut naik turun melewati belahan vaginanya. Dari luar celananya saya bisa merasakan bahwa didalam sudah lembab sekali, tentu banyak cairan yang sudah keluar dari lubang vaginanya. Vagina Riris benar benar tembem aku rasa kalau aku benamkan milikku ke dalamnya pasti nikmat sekali.
Karena Riris menggunakan CD mini yang memang kurang bahan untuk menutupi kemaluannya, jari saya dengan mudahnya dapat melesat masuk melalui samping selangkangan dan bermain di sana, sebentar kemudian keluar lagi tanpa sempat Riris protes pada saya untuk tidak boleh melakukannya. Sesekali jari saya bermain pada bibir vaginanya agak lama setelah dia membuka suara,
“Di, jangan nanti aku keterusan.. ohh,” sambil meliukan pinggangnya bergoyang goyang.
Aku tetap tenang mengelus bahkan saat tangannya ingin mengeluarkan tanganku dari dalam CDnya seluruh jariku masuk dan meremas vagina Riris dengan lembut. Hal ini membuat Riris melenguh keras, dan lupa untuk melarang saya. Sambil tangan-tangan meremas vagina Riris, tangan kiri masih terus aktif memerah susu ranum baik yang kiri maupun yang kanan sambil dibantu oleh mulutku untuk mengisap bibir dan salah satu puting susu yang nganggur.
Jari tengahku mulai memainkan aksinya dengan mengilik klitoris Riris. Benar saja, klitoris itu sudah membesar dan basah. Riris menggeliat tak tentu arah sambil mendesah,
“Oh.. Mardi enak sekali sayang, nghh.. kamu udah nggak boleh lebih dari itu ya..”
Ternyata alam sadar Riris masih ada, dia masih ingat bahwa kita hanya boleh peting. Aku berkata sambil berbisik ditelinganya.
“Riris sayang.. CDnya dibuka ya biar kamu nggak kegencet, liat tuh CD kamu kekecilan nggak bisa nampung pantat kamu yang bulat besar sama vagina kamu yang tembem, lagian kamu juga udah basah, khan sayang ntar CDnya jadi lengket.”
Awalnya dia tidak mau, tapi saya katakan lagi.
“Ris.. nggak kenapa napa deh sayang.. khan aku masih pake boxerku, jadi cuman kamu aja yang telanjang, kalau aku tidak.”
Akhirnya Riris setuju, aku loloskan CD mini putih berenda itu, dan kali ini aku benar benar melihat Riris dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, dengan keadaan birahi tinggi. Bukan main indahnya bentuk vagina Riris, dia mempunyai bulu vagina yang lebat denga bulu-bulu halus semua warna hitam. Bulu-bulu tersebut nampak rapih, karena dalam keadaan lurus tidak keriting seperti wanita kebanyakan. Mulutku mulai menjalankan aksinya, aku mulai menyusuri ke arah pusarnya terus turun dan berhenti tepat dibawah vaginanya.
Riris sedikit jengah dan berkata, “Oh, kamu jangan liat punya kayak gitu dong.. aku kan malu” sambil tangannya mencoba menutupi.
Tapi dengan cepat tanganku menahannya dan langsung bibirku mencium bibir luar vaginanya sambil kuhisap-hisap kedua belah bibir vagina Riris.
Dia benar benar kelojotan,” Ah Mardi, gila kamu, oh.. enak banget, hmm.. oh iya bener gitu sayang.. ohh..”
Aku makin berani kusapukan lidahku naik turun sambil tak lupa klitoris yang sebesar kacang tanah itu aku emut emut dan didalam bibirku aku kedut kedutkan. Lidahku mulai merangsek masuk ke dalam lubang vagina Riris yang memang benar benar sudah basah. Wangi semerbak yang tercipta karena napsu biharinya membuat aku makin berlipat ganda untuk keinginan menyetubuhinya. Dalam keadaan yang gamang tersebut kepala Riris tersentak kekiri dan kekanan menahan luapan cinta yang tak kunjung reda, aku diam-diam melepas celana boxerku sambil bibir tak lepas dari vaginanya.
Cukup mudah untuk melepas celan boxerku karena memang celana dalam dengan kondisi longgar. Satu kali tarik dengan tangan kiri, lolos sudah dan aku sudah telanjang bulat bersama Riris, tanpa dia sadari. Aku bisa melihat dan merasakan Riris hampir sampai titik orgasme, dan aku mulai dengan menuntun batang kemaluanku yang sudah siap tempur dengan topi baja yang mengkilap. Kedua belah kaki Riris aku lebarkan sambil tangan kiriku mempermainkan klitorisnya dengan ibu jari dan tangan kananku mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vagina Riris.
Riris masih antara sadar dan tidak ketika kepala penisku bertemu dengan lubang depan yang merah menganga. Kepala penis langsung seperti kena hisap alat yang kuat oleh lubang vagina Riris. Riris mulai merasa aneh karena dia merasakan lain, bukan jari tanganku dan bukan bibirku yang bermain di kemaluannya. Dengan sedikit membuka mata dia melihatku. Aku tidak mau dia nanti memberontak menolak keadaan ini, langsung aku peluk dia sambil sedikit aku goyangkan tanpa aku mendorong masuk ke dalamnya. Cukup kepala penis saja yang terjepit di dalam vagina Riris.
Riris melotot kearahku dan dia berbicara dengan suara serak,
“Mardi.. kok kamu masukin, khan kita udah janji sayang cuman peting, nggak boleh begini dong.” Namun dalam bahasa tubuhnya pinggul dia tetap mengimbangi gerakanku yang naik turun menggesek vaginanya.
“Riris.. aku cuman masukin kepalanya aja sayang, kamu juga ngerasainkan?”
Tambahku, “Itu juga udah cukup buat kita, lagi nggak usah dimasukin semua.. kamu enak khan digini’in?” sambil aku goyang kekiri dan kekanan. Kepala penisku benar benar dijepit erat oleh vagina Riris.
Riris merem melek keenakan, dan tangan Riris akhirnya memelukku dan mengimbangi gerakanku. Baru aku tahu kalau dalam keadaan begini Riris benar benar dapat berkata vulgar, karena tiba tiba dia berkata,
“Di, penis kamu enak banget sih hangat kena vagina Riris.”
“Oh, Riris ini mah nggak seberapa sayang,” kataku.
Setelah kurang lebih tiga menit kami seperti itu, aku merasakan pantat Riris menaik lebih tinggi, seakan akan ingin merasakan lebih batangku. Maka akupun mulai sedikit demi sedikit mendorong lebih dalam, ternyata makin panas gerakan kami berdua, dan walhasil seluruh batangku terbenam di dalam vagina Riris. Dan aku rasa Riris pun mengetahui hal itu, dan dia mulai meracau lagi,
“Oh Ardi.. enak banget penis kamu masuk semua ke dalem vaginaku sayang.. hh”
“Ohh, Di.. dorong lagi biar makin dalem sayang..”
Bukan main, aku makin nafsu saja mendengar erangan dan kata-kata vulgarnya. Aku pun tidak mau kalah sambil memompa aku bertanya,
” Riris.. penis Mardi lagi ngapain vaginanya Riris sayang?”
“Hhh, skh.. hh penis kamu lagi ngentotin vagina aku sayang,” sambil Riris meremas pantatku gemas.
Aku pura pura tidak mendengar ingin dia mengulang lagi kata katanya,
“Ha.. lagi ngapain sayang?”
“Lagi dientot sayang..ohh nikmatnya..”
Aku bertanya lagi, “Emang Riris mau dientot ama Mardi?”
Riris menyahut,”Iya sayang Riris ketagihan nih mengentot sama kamu, abis penis kamu mantap, nikmat, enak rasanya.”
Sambil begitu saya benar-benar merasakan jepitan-jepitan halus dari dinding vagina Riris. Benar benar wanita yang tercipta sempurna untuk bersenggama. Lubang vaginanya mempunyai jepitan yang kuat dengan variasi batang kemaluanku di dalam seperti dirayapi oleh jutaan semut, jadi seperti terkena setrum kecil, tapi hangat dengan sebentar-bentar vagina tersebut mencucup kembang kempis menyedot seluruh batang kemaluanku.
Setelah lebih 20 menit kami bersenggama dengan ucapan ucapan vulgar, Riris sudah hampir mendekati klimaksnya.
“Ayo Mardi, aku udah mau keluar, entot terus aku iya teken biar kena klitorisku oh.. benar begitu sayang.. aduh, enak bener ngentot ama kamu.”
Gila juga nih perempuan, kalo dalam keadaan birahi begini omongannya jadi vulgar seperi ini. Akupun merasakan intensitas kedutan vagina Riris makin tinggi, dan sepertinya akupun ingin melepaskan kenikmatan bersama Riris sayangku.
“Oh, Ris.. enak banget vagina kamu ada empot ayamnya sayang, rasanya legit, rapet, peret, oh, aku mau klimak sayang, gimana nih didalam atau diluar,” kataku dalam keadaan yang kejang kejang nikmat.
Lalu dijawab oleh Riris, “Didalem aja Mardi biar enak, aku juga mau ngerasain disemprot ama penis kamu, dan mungkin besok lusa ada dapet haid, jadi aman,” desah Riris yang juga menahan amukan dalam gelora birahi yang siap meledak beberapa saat lagi.
Akhirnya aku merasakan batang kemaluanku diremas kuat sekali oleh otot vaginanya, gerakan pinggul Riris terhenti, sambil pantatnya ditinggikan aku mengocok sedikit memberikan nuansa lain dalam vaginanya, lagi Riris menggeram dan..
“Oh sayang aku klimaks, ouh.. ahh. nggh ahh enak.. enak hh..”
Aku pun tak tahan penisku diremas dan disedot oleh vagina Riris, dengan satu dan dua kali sentakan penisku menyemportkan sperma jauh langsung masuk kedalam rahim Riris, dan yang semportan kedua tak kalah nikmatnya. Gerakan kami seperti begitu kompak, ketika aku menyemprotkan sperma, vagina Riris menyedot kencang hingga kami berdua merasakan nikmat senggama yang sangat indah.
Puas aku selesai klimaks dan begitu juga Riris, ketika aku ingin melepas penisku, Riris mencegahnya.
“Biarin didalam dulu sampe ngecil dan keluar sendiri yah.”
Akhirnya kami berbaring menyamping dengan keadaan kemaluan kami masing-masing masih menyatu, masih dapat aku rasakan kedutan dalam vagina Riris namun sudah melemah, dan batangku mulai berangsur-angsur mengecil dan akhirnya lepas dengan sendirinya dari vagina Riris.
Waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi, setelah kami selesai mandi berdua di dalam bathup, dan ketika aku mau kembali ke kamarku Riris menahannya, dan dia minta sekali lagi untuk bermain cinta. Akupun melayaninya. Katanya mumpung ada waktu. Ronde kedua kami lakukan lebih hot lagi karena yang kedua dilakukan tanpa takut-takut seperti yang pertama, dan kami akhiri dengan klimaks bareng dengan sempurna.
Sepulangnya dari puncak, hubunganku dengan Riris makin hangat, tapi kami selalu menutupi di kantor dengan berpura pura bahwa antara kami tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas teman kerja. Padahal kalau ada waktu di kantorpun kami peting. Saya berkerja di bagian komputer, Riris bagian Settlement. Kalau salah satu dari kami ingin dipeluk, maka kami memberikan kode untuk menuju ruang komputer yang tidak ada orang, kemudian kami ketempat yang paling pojok supaya aman dan berpelukan. Biasanya kami berpelukan sambil mengusap usap apa yang perlu diusap, biasanya saya meremas gemas pantatnya, dan meremas lembut buah dadanya, sambil dibarengi dengan ciuman bibir dengan sedikit panas. Setelah kami puas, Riris biasanya keluar lebih dulu dari ruang komputer, dan tidak lama kemudian baru saya.
Rasa ingin bersenggama dengan Riris demikian besar, begitu juga Riris yang ingin sekali bercinta dengan saya. Akhirnya saya mencari kost-kost’an yang dekat dengan kantor yang fungsinya kalau istirahat makan siang kami dapat mencuri waktu berdua kekost’an saya dan kami berdua saling melepas hasrat terpendam dan setelah selesai kami dapat dengan cepat kembali ke kantor, dan untuk makan siang kami membiasakan ngemil di kantor, jadi tidak begitu lapar.
TAMAT
Cerita Dewasa 31 Jul 2009 11:16 am
Cerita 17Tahun – Kupergoki Istriku Selingkuh, Aku Entot Istri Yang Menyelingkuhi Istriku
Cerita 17Tahun – Kupergoki Istriku Selingkuh, Aku Entot Istri Yang Menyelingkuhi Istriku. Sesampainya di rumah setelah terbang sana terbang sini di beberapa kota masih di Pulau Jawa maupun di Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu ini untuk urusan bisnis kayu dan hasil-hasil bumi lainnya, tubuhku mulai dilanda letih dan penat luar biasa. Namun secara psikologis justru sebaliknya, aku mulai dapat merasakan suasana rileks dan tentram. Merasa at home dan ingin selekasnya menemui mantan kekasihku, sang isteri tercinta. Hal ini cukup membantu keseimbangan diriku sehingga tidak membuatku dilanda senewen.
Karena penerbangan yang kuambil adalah sore jam 6 dari Surabaya, maka masih sore pula sekitar jam 7.30 aku sudah mendarat dan lalu setengah jam kemudian dengan menggunakan jasa taksi aku sudah menginjakkan kaki di halaman rumahku di bilangan Slipi. Lalu lintas tidak macet karena ini hari Minggu.
Dari luar ruang tamu nampak terang disinari lampu, berarti isteriku ada di rumah. Di rumah kami tinggal 4 orang saja. Aku yang berusia 38, isteriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44. Oh ya, setelah 9 tahun menikah kami belum dikarunia anak. Jadi semakin menjadi-jadilah diriku menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Syukurlah selama ini bisnisku lancar-lancar saja demikian pula perkawinan kami.
Ketika hendak kupencet bel kuurungkan siapa tahu pintu tidak dikunci. Tadi gerbang depan dibukakan oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah. Setelahnya dia kembali ke kamarnya yang terletak di samping kiri bangunan utama. Pembantu-pembantuku kubuatkan kamar di luar. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Dari gerbang depan ke pintu kira-kira mencapai 25 meter.
Benar, pintu tidak dikunci dan aku masuk dengan senyap demi membikin isteriku kaget. Aku suka sekali dengan permainan kaget-kagetan begini. Biasanya isteriku suka terpekik lalu menghambur ke pelukanku dan dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi. Itulah santapan rohaniku. Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula, rekorku pernah sampai 3 bulan baru pulang. Pada awal perkawinan kami tidaklah demikian, namun 5 tahun belakangan ini yah begitulah. Dampaknya adalah kehidupan seks kami mulai menurun drastis frekuensinya maupun kualitasnya.
Kali ini aku menangkap suasana lain. Memang biasanya sebelum pulang aku memberitahukan isteriku bahwa dalam 2 sampai 5 hari bakal pulang. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat pekikan-pekikan kangen isteriku itu. Di ruang tamu TV menyala agak keras. Lalu aku menuju dapur mengendap-endap siapa tahu isteriku di sana dan sekalian mau mengambil air putih. Tidak ada. Ah mungkin lagi tidur barangkali di kamar pikirku. Kuletakkan tas koperku di atas meja makan lalu aku mengambil sebotol air dingin di kulkas. Kuletakkan pantatku di atas kursi sambil minum. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan. Ada sekitar 5 menit kunikmati asap-asap racun itu sebelum akhirnya kuputuskan untuk naik ke lantai 2 di mana kamar tidur kami berada.
Pelan-pelan kunaiki tangga. Pelan sekali kubuka pintu, namun hanya seukuran setengah kepala. Aku ingin mengintip kegiatan isteriku di kamar spesial kami. Apakah lagi lelap dengan pose yang aduhai. Ataukah lagi mematut diri di cermin. Ataukah lagi.. Upss!! Berdebar jantungku.
Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa) kulihat ada 2 manusia. Jelas salah satu sosoknya adalah isteriku, mana mungkin aku pangling. Dia lagi mengangkangi seseorang. Posisi kepalanya nampak seperti di sekitar kemaluan lawannya. Perasaanku mulai dilanda kekacauan. Sulit kudefinisikan. Marah. Kaget. Bingung. Bahkan penasaran. Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? Kepala isteriku nampak naik turun dengan teratur dengan ditingkahi suara-suara lenguhan tertahan seorang pria yang menjemput kenikmatan seksual. Mungkin saking asiknya mereka berolah asmara terkuaknya pintu tidak mereka sadari.
Tiba-tiba perasaan aneh menjalari diriku. Darahku berdesir pelan dan makin kencang. Rasa penasaranku sudah mulai dicampuraduki dengan gairah kelelakianku yang membangkit. Ini lebih dahsyat ketimbang menonton film-film bokep terpanas sekalipun. Kesadaran diriku juga lenyap entah kemana bahwa yang di depan mataku adalah isteriku dengan pria yang pasti bukan diriku. Sekarang aku lebih ingin menyaksikan adegan ini sampai tuntas. Kontolku mulai mengejang. Posisi mereka mulai berbalik. Isteriku mengambil posisi di bawah sementara lawannya ganti di atasnya. Persis sama seperti tadi hanya saja sekarang kelihatannya memek isteriku yang dijadikan sasaran. Aku semakin ngaceng.
“Ohh.. Sshh…” suara desisan isteriku berulang-ulang.
Telaten sekali si pria (aku sudah menangkap sosok lawannya dengan jelas adalah pria) sehingga isteriku mulai bergerak meliuk-liuk dan menengadahkan kepalanya berkali-kali.
“Uuhh.. Eehhss.. Teruss jilatthh.. Pak Minnh.. Ahh.. Uffh..”.
Plong rasa dadaku demi akhirnya menemukan identitas sang pelaku pria. Mr. Karmin pembantu priaku yang tua itu. Wah.. Wah.. Pantesan tadi aku agak mengenali sosoknya. Belum sempat aku banyak berpikir kesadaranku disedot kembali oleh suara-suara kesetanan isteriku dari hasil kerja persetubuhan itu.
“Yyaahh.. Teruss.. Teruss.. Aahh.. Tusukk.. Tuussuukkhin liidaahhmu Pak.. Yaahh beegittu.. Oohh..”
Semakin binal kepala isteriku tergolek sana sini. Nampaknya dia sudah berada di awang-awang kenikmatan. Aku juga semakin dilanda gairah sehingga tanpa sadar tanganku mulai meremas-remas burungku sendiri.
“Ahh…”
Ah isteriku akhirnya jebol juga. Aku tahu itu. Tapi nampaknya Pak Karmin masih meneruskan aktivitasnya. Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan). Dimainkan jari-jarinya di liang memek isteriku. Lenguhan-lenguhan isteriku kembali terdengar. Semakin kencang kocokan jari Pak Karmin pada memek isteriku. Dengan menggelinjang mengangkat-ngangkat paha isteriku kembali dibuat mabuk kepayang. Akhirnya kulihat batang kemaluan Mr. Karmin sudah diarahkan ke lobang kemaluan isteriku. Busseett gede juga nih punya si tua bangka. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.
Bless. Masuk. Gleg ludahku tertelan.
“Oohh.. Eyaahh.. Eenaakk.. Paakk..”.
Pelan-pelan dipompanya memek isteriku dengan godam si Mr. Karmin. Mulai menggila kembali goyangan pantat isteriku melayani rangsekan-rangsekan si batang besar itu.
“Geennjoott.. Yaahh.. Genjoott.. Oohh.. Ennakk Banngeett.. Oohh..”
Aku menyaksikkan tubuh isteriku terhentak-hentak naik turun akibat sodokan-sodokan yang bertenaga itu. Tangan Mr. Karmin tak tinggal diam menyenggamai buah dada isteriku yang telah menjulang tegak. Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging.
Gaya anjing rupanya dikenal juga oleh Si Tua ini. Kembali liang memek isteriku dihunjam dari arah belakang. Konsistensi gerakan kontol yang maju mundur itu beserta lenguhan-lenguhan isteriku semakin mengobarkan hasratku.
“Ahh.. Aahh.. Ssooddooghh.. Kuaatt.. Kuat.. Paakkhh, oohh.. Giillaa..”
Pompaan Mr. Karmin semakin lama dibuat semakin bertenaga dan semakin cepat.
“Oo hh.. Yaa.. Beggiittuu.. Teruss.. Paakkhh..”
Kupikir bakalan selesai eh ternyata isteriku sekarang disuruh berdiri, Mr. Karmin menyetubuhinya sambil berdiri. Tanpa sadar aku menoleh ke lantai bawah ternyata si Pembantu Wanita memergokiku sedang mengintip. Karena jengah atau bagaimana Mrs. Karmin merona mukanya lalu menyingkir ke belakang dengan tergesa. Pembantuku adalah suami isteri.
“Yaahh.. Terruuss.. Mauuhh.. Keelluaarr.. Nihh Paakkh..”
“Aku sebentar laggii.. Juuggaa.. Ibbuu..”
“Baarrenng.. Yaahh.. Paakkh.. Ohh.. Ohh.. Yaahh.. Uuddaahh”
Sambil mengejang-ngejang keduanya melepas energi terakhir dan terbesar yang disertai ledakan kenikmatan luar biasa. Mr. Karmin akhirnya jebol juga pertahanannya. Begitu adegan selesai aku dengan perlahan sekali menutup pintunya. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali. Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Aku senewen ingin menuntaskan hasratku.
Ketika sampai dapur kulihat Mrs. Karmin sedang duduk termangu. Kami saling menatap dalam keadaan bingung dan resah. Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya. Mungkin kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah.
“Sudah sering kejadianya Mbok?” tanyaku. Dia mengangguk.
“Maafkan isteriku yah”
Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Selama ini dia tidak berani menatapku. Kali ini mungkin dia sedang kesepian dan masygul hatinya.
“Ayo ke kamarmu Mbok.”
Hasratku masih tinggi dan harus dituntaskan. Kami saat ini sedang masuk dalam situasi kejiwaan yang membutuhkan pertolongan satu sama lain. Plus gairah buatku. Ketika sampai kamarnya yang agak sempit itu, kusuruh dia duduk di ranjang. Kupegang tangannya dan kuelus. Sosok wanita ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Kulit terang meskipun tidak semulus isteriku tapi lumayan bersih. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung. Tetek cukup besar setelah kusadari saat ini. Dia selalu memakai kebaya dan kain.
Kepalanya ditimpakan di dadaku. Meskipun dia lebih tua dari aku namun dalam kondisi begini dia memerlukan kekuatan dari dada laki-laki. Kubiarkan meskipun dibarengi aroma bumbu dapur. Tapi tidak terlalu menyengat. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Bau minyak rambut Pomade menyergap hidungku. Kucium-kucium dan kuendus-kuendus. Kujalari menuju ke telinga. Diam saja. Ke lehernya. Malah terdengar ketawa kegelian. Mulai kuusap lengannya. Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Sambil mengusap lengan kanannya naik turun sengaja kurenggangkan jariku sehingga menyentuh tipis teteknya. Terus kuulang sampai akhirnya kepalanya mulai bergoyang. Lalu kuelus langsung teteknya. Gemas aku. Dia mulai mendesah. Kuremas-remas lembut. Mulai melenguh. Kubaringkan. Menurut saja. Kubuka bagian dada dari kebayanya. Memang besar miliknya. Kuning agak pucat warnanya. Kuhisap-hisap. Menegak-negak kepalanya.
“Ehhmm.. Eehhf..”
Kusingkap kainnya dan kuelus pahanya.
“Ehh.. Ehhshs..”
Kuselusupkan tanganku jauh menuju pangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya.
“Ehhss.. Ehhss.. Oohh…” tergolek kanan kiri kepalanya.
Kutindih dia dengan mengangkangkan kakinya. Mulai kuselusuri dari tetek sampai leher kanan kiri dengan lidahku.
“Oohh.. Paakk.. Oohh..”
Kurenggut bibirnya yang tebal dengan bibirku. Kumasukkan lidahku menjangkau lidahnya. Pada mulanya pasif. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Berkecipak suara kuluman kami. Kutekan-tekan bagian bawah diriku sehingga tonjolan burungku menggesek wilayah memeknya. Mengerinjal pantatnya.
“Esshh.. Ehhss.. Oohh…” desahnya berulang-ulang.
Kami berdiri untuk melepas baju masing-masing setelah kubisikkan keinginanku. Kuamati dari ujung rambut sampai kaki. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Baru kali ini kulihat wanita membiarkan keteknya berbulu. Isteriku licin sekali. Jembut mememknya lebat sekali dan cenderung tidak rapi. Luar biasa. Karena hasratku yang sudah tinggi sejak tadi langsung kugumul
Dia dan menjatuhkannya di ranjang. Kujilati kembali mulai dari kening, leher, pipi, tetek, ketek (di sini aku berlama-lama karena penasaran sekali dengan rasa bulunya), perut dan memeknya. Kumainkan lidahku memutari labia mayoranya.
“Oohh.. Paakk.. Ohh..”
Dipegangi kepalaku dan ditekan-tekannya sesuai keinginannya. Kumasuki klitorisnya dengan lidahku. Aku tidak jijik kali ini. Hasratku yang menggila telah mengalahkan kebiasaanku selama ini.
“Esshh.. Ahhss.. Esshh.. Oohh.. Mmass..”
Dia memanggilku Mas berarti kesadarannya mulai kaca balau. Kuremas pantatnya sebelum akhirnya kujebloskan kontolku ke memeknya yang telah banjir bandang itu. Kupompa maju mundur tanpa tergesa. Yang penting bertenaga dan merangsek ke dalam. Menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan si Mrs. Karmin ini. Semakin dikangkangkan pahanya. Kupegang ujung telapak kakinya sambil aku terus menyodokinya.
“Yaahh.. Teruss.. Yangg dalaam .. Masshh.. Ohh.. Ennaakk banngeetts.. Shh.”
Kubaringkin miring lalu kulipat kaki kanannya ke depan dan kuhujami memeknya dari belakang. Kami bersetubuh dalam posisi berbaring miring (kebayangkan?). Kuubah posisi menjadi dog-style. Namun dia telungkup sehingga tingkat penetrasinya lebih maksimal. Benturan-benturan dengan pantatnya yang bulat membuatku gemas. Kugenjot sedalam-dalamnya memeknya yang rimbun itu.
“Yaahhss.. Ehhssh.. Oohhs…” begitu terus erangnya sambil membeliak-beliak.
Akhirnya setelah 23 menit kami menegang bersama dan mencurahkan cairan masing-masing berleleran di dalam memeknya. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian saking tidak tertampungya semprotan maniku.
Kubiarkan kontolku masih terbenam sambil aku tetap menindihnya. Aku jilatin lagi leher dan pipinya sampai kontolku sudah lemas tak berdaya. Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kujilat-jilat dan kuhisap-hisap. Keringat kami campur aduk membanjiri spreinya yang sudah agak kusam itu.
****
Sejak saat itu bila aku pulang dari bepergian maka aku mengunjungi Mrs. Karmin terlebih dahulu untuk bersetubuh di kamarnya baru masuk rumah setelah maniku terhambur ke memeknya yang mudah basah itu. Malah boleh dikata sudah tidak pernah lagi menggauli isteriku sendiri.
Suatu kali Mr. Karmin memergokinya ketika mau ambil rokok, namun aku cuek saja kepalang lagi hot, tapi dia mafhum saja. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Pernah terbersit di kepalaku untuk melakukan sex party berempat. Tapi gagasan itu belum terlaksana, karena aku masih merasa risih kalau rame-rame begitu.
TAMAT
Cerita Dewasa 31 Jul 2009 11:09 am
Cerita Dewasa – Mencoba Tukar Pasangan
Cerita Dewasa – Mencoba Tukar Pasangan. “Lho, Memang Papa juga tidak sakit menyaksikan Mama main dengan orang lain?” balasku tak mau kalah.
“Ma, Justru disitulah seninya, ada perasaan sakit hati, cemburu, nafsu, dll”
Istriku terdiam, mungkin mencoba mencerna kata-kataku. Lama kami terdiam dengan pikiran kami masing-masing, akhirnya..
“Baiklah Pa, Mama setuju, tapi harus dengan pasangan yang bersih! Bukan cowok/cewek panggilan!”
Lega rasanya mendengar kalimat yang aku tunggu-tunggu dari mulut istriku.
*****
Aku langsung mencari-cari pasangan yang mau just fun dengan kami, email-email dari pengirim cerita cerita seks yang menceritakan tukar pasangan aku kirimin ajakan dan setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan reply yang cukup banyak. Memang rata-rata peminat tukar pasangan agak susah cocok, ada aja yang jadi kendala, ntar cowoknya ga cocok dengan ceweknya atau sebaliknya.
Meskipun istriku tergolong cantik dan masih muda (19 tahun) namun bodynya agak kurus dengan dada 32A alias kecil mungil, belum pernah melahirkan, sedangkan aku sendiri Chinese, berwajah biasa-biasa aja, dengan umur 29thn, 173 cm, 73 kg (Kalau ada pembaca yang berminat silakan kirim email)
Pengalaman pertama Dengan suami istri manado, Sungguh pasangan yang serasi, yang laki tinggi, ganteng dan atletis sedangkan istrinya putih bersih, semampai, dengan body yang aduhai, meskipun agak minder akhirnya kami lakoni juga,
Bertempat di sebuah hotel di bilangan Jakarta Timur dengan Paviliun, kami memesan 2 kamar bersebelahan, setelah keadaan aman kami berempat dalam satu kamar. Awal mula rasanya sangat canggung, Namun toh akhirnya kami mulai dengan cumbuan-cumbuan bersama pasangan kami masing-masing, Aku berciuman mesra dengan istriku sementara Johan dan Erni (sebut saja namanya begitu) asyik berciuman juga, Kami saling pandang melihat langsung pasangan lain bermesraan, gairah didadaku semakin terbakar menyaksikannya..
Perlahan namun pasti pakaian kami sudah bertebaran dilantai, Sambil terus bercumbu aku menyaksikan body Erni yang telah bugil, sungguh indah.. aku tak tahan sendiri aku langsung melangkah kearah Erni dan Johan pun mengerti dia langsung mencumbu istriku..
Sementara aku sedang menciumi seluruh tubuh Erni yang mulus, aku melihat johanpun sedang asyik menikmati tubuh istriku, Perasaan gairah, nafsu, cemburu berbaur menjadi satu.. Aku tumpahkan semua hasratku ke tubuh Erni, Jengkal demi jengkal tubuh Erni tidak ada yang luput dari jilatan lidahku dan elusan jari-jariku, buah dadanya yang besar dengan gemas aku remas, putingnya yang kemerahan aku kulum, jilat dan kadang aku gigit pelan, Erni semakin terbakar, jari-jarinya yang lentik menggenggam senjataku, sementara istriku aku lihat sedang asyik mengoral senjata Johan yang telah keras.. Ernipun tak mau kalah, dengan mahirnya dia menjilati dadaku, perut dan terus turun menjilati senjataku, diselingi dengan kocokan tangannya yang lembut..
Kian lama suasana kian panas, aku balik menyerang Erni, lidahku bermain lama di vagina Erni, klitorisnya yang agak besar aku jilat sampai mengembang, lidahku mencoba menerobos kedalam liang vaginanya, sementara jari jariku terus memilin puting buah dadanya, Erni semakin tak tahan dengan seranganku sementara aku lihatpun istiku masih asyik mencumbu penis Johan, mulut istriku yang mungil sampai monyong mengulum senjata Johan yang berukuran lumayan,
Aku semakin terbawa arus, Erni berteriak-teriak tak tahan minta aku segera memasukkan senjataku, namun aku belum puas menikmati keindahan tubuhnya, meskipun lidahku sampai kaku menusuk vagina Erni namun aku terus melumat seluruh tubuhnya.
Aku lihat istriku sudah menerima tusukan senjata Johan dengan gaya doggy, erangan dan rintihan mereka terdengan jelas ditelingaku.. Akupun segera membopong tubuh Erni dan menidurkannya di kasur.. Dengan gaya konvensional Aku masukkan senjataku ke dalam vagina Erni yang sudah basah.. Lain.. sungguh lain dengan vagina istriku, vagina Erni meskipun sudah punya anak 2 masih terasa mencengkram.. Aku terus menaikturunkan pantatku meraih puncak kepuasan, namun sampai keringatku bercucuran dan berbagai macam gaya sudah aku lakukan, aku belum keluar, ada perasaan ingin menang dihatiku yang membuat aku sekuat mungkin menahan orgasmeku..
Dan akhirnya memang aku menang, aku lihat Johan sudah menyemburkan spermanya ke perut istriku.. Aku semakin bergairah melihatnya, Dengan gaya doggy aku terus menggempur Erni yang sudah orgasme 2x, istriku yang melihat aku belum keluar menghampiri aku, tanpa disuruh istriku menjilati ujung dadaku dan kadang disedotnya kencang, Gairahku semakin tak terbendung.. Akhirnya akupun melepaskan orgasmeku di bokong erni..
Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan kembali pertempuran. Kali ini permainan menjadi 3 lawan satu dan masing-masing orang mendapatkan jatah, Pertama adalah Erni, Tubuh Erni terlentang pasrah menerima cumbuan kami bertiga, aku mencium bibir Erni yang sensual sementara istriku mencumbui buah dada Erni dan Johan asyik menjilati vaginanya.. dan efeknya sungguh luar biasa tanpa penetrasi Erni sudah mengalami orgasmenya, giliran kedua adalah istriku, hampir seluruh bagian tubuh istriku tak luput dari belaian dan jilatan, dengan kompak Erni, Johan dan aku menyerang istriku, kali ini istriku bertahan agak lama, akhirnya karena senjataku sudah menegang kembali aku masukkan senjaku ke dalam vagina istriku, sementara Erni dan Johan mencumbui buah dada istriku kiri dan kanan, dan tak lebih dari 5 menit istrikupun mengalami orgasme dengan teriakan yang cukup erotis.
Kini aku dan Johan saling berpandangan, aku mempersilahkannya duluan. Karena aku tidak bakat gay, aku biarkan Johan dicumbu oleh istriku dan istrinya, dengan rakusnya Erni menjilati dada Johan sementara istriku aku mengkaroke senjata Johan, kadang bergantian istriku yang menjilati tubuh Johan sementara Erni mengoral senjata suaminya.. Dan mungkin fisik Johan yang sedang lemah atau memang kenikmatan yang diterimanya terlalu tinggi, Johan menyemprotkan cairan kenikmatannya saat Erni sedang mengoralnya..
Kini giliranku.. sambil berciuman dengan Erni, istriku mencumbui dadaku, lidah istriku yang mahir bermain dari leher sampai senjataku, sementara akupun tidak tinggal diam meremas apa saja yang ada didekatku, kadang buahdada Erni, kadang buah dada istriku, kadang pinggul dan pantat Erni kadang pantat istriku, kini ujung dadaku dicumbu keduanya Erni menjilati dada kiriku dan istriku menjilati dada kananku, sungguh kenikmatan yang tiada tara, senjataku semakin membengkak keras, tak sabar akupun meminta Erni diatas, dan dengan lincahnya Erni menuntun senjataku, pinggulnya yang besar bergoyang seirama keluar masuknya senjataku dalam vaginanya,
meskipun kenikmatan yang aku peroleh dobel namun memang untuk orgasme yang kedua aku agak lama, Aku lihat Johan asyik menonton kami, sementara Erni akhirnya malah orgasme diatas perutku, posisinya diigantikan istriku, istriku yang termasuk lihai bergoyang, mengeluarkan seluruh kemampuannya sementara Erni mencumbu dadaku dan mengelus biji kemaluanku, Aku semakin tak kuat menahan kenikmatan yang datang, akhirnya aku semprotkan spermaku kedalam vagina istriku berbarengan dengan orgasme istriku. Kemudian kami tertidur dalam kelelahan dan kepuasan.
*****
Pengalaman kedua adalah seorang wanita setengah baya yang hanya ingin menonton kami main, katanya gairahnya hanya bisa terbakar jika menyaksikan suami-istri bersetubuh langsung didepan matanya, Karena dia yang mau membayar semuanya, ajakkannya aku terima, tentunya setelah bicara dengan istriku. Dan sungguh aku dibuat kaget saat bertemu dengannya, wajah dan bodinya bisa aku nilai 9. Tak banyak basa-basi kamipun langsung menuju hotel.
Aku sebenarnya bergairah banget melihatnya, sayang dia hanya mau menonton, aku dan istriku kini asyik bercumbu, kami saling meremas dan memberikan rangsangan, Perlahan pakaian kami berserakan, aku dan istriku sudah telanjang bulat sementara tante Henny semakin serius memperhatikan kami, aku lihat wajahnya yang putih sedikit memerah, mungkin sudah bergairah menyaksikan percumbuan kami yang semakin panas, istriku sedang mengoral senjataku, Aku hanya bisa terpejam menikmati permainan mulut istriku di senjataku, namun sungguh tidak aku duga, bibirku terasa ada yang melumat, aku membuka mata sedikit, ternyata tante Henny sedang melumat bibirku dan dalam keadaan telanjang bulat.. Aku yang dari tadi memang bergairah melihatnya semakin bergairah, aku balas melumat bibirnya, lidah kami saling mendorong, sementara jari-jariku meremas buah dadanya bergantian, istriku masih asik mengeluarkan senjataku dalam mulutnya..
tante Henny menyodorkan buah dadanya ke mukaku, langsung saja aku cium kedua buah dadanya bergantian, tak puas sampai disitu, mulutku langsung melumat putingnya, tante Henny semakin meracau tak karuan, dan tak tahan sendiri, dia menarik istriku yang sedang ayik mengoral senjataku yang kaku, dan tante Henny menggantikan istriku mengoral senjataku, istriku pun langsung berpindah mencumbu dadaku, kini aku yang berbalik tak tahan, aku tarik tubuh tante Henny yang sedang berjongkok, lalu aku bisikan supaya dia nungging, dan dengan sati sentakan saja, senjataku sudah terbenam seluruhnya ke dalam vagina tante Henny, Oh.. sungguh hangat sekali vagina tante Henny, aku menggerakkan pinggulku mengeluarmasukkan senjataku, dan istriku yang pintar mengambil inisiatif memilin buah dada tante Henny sementara tangan yang satunya menggosok lembut klitoris tante Henny, dan Tak perlu waktu lama, seluruh tubuh tante Henny mengejang dan melepaskan orgasmenya yang pertama, jelekknya tanpa ba bi Bu lagi tante Henny langsung menuju pembaringan dan tidur!!
Kini tinggal aku dan istriku yang sedang nanggung melongo!! untunglah kami cepat sadar dan meneruskan permainan menuju puncak kenikmatan, mungkin karena pemanasan sudah cukup, tak lama dengan gaya standar dia diatas aku dibawah kami berbarengan mencapai orgasme. Ketika kami bangun, tante Henny sudah tidak ada di tempat dan hanya meninggalkan amplop berisi uang, Aku jadi tambah bingung??
*****
Sejak saat itu, kami mencoba mencari pasangan2 lain yang sepaham dengan pikiran kami, lebih baik selingkuh di depan mata kan, dari pada di belakang suami/istri pada main nyeleweng semua??
TAMAT
Cerita Dewasa 17 Apr 2009 01:34 am
Cerita mesum pesta seks : Kamu pura-pura jadi suamiku ya?
Cerita mesum dari ajang pesta seks ini terjadi sekitar beberapa hari yang lalu yang dari awal aku memulai hubungan selingkuh dengan istri dari teman di kantorku. Sampai akhirnya dia memperkenalkan aku dengan teman yang suaminya orang kaya dimana dia promosi ke temanya bahwa aku memiliki kontol yang besar dan temanya itu ingin sekali bercinta rame-rame, bagaimana kisah selanjutnya ?
Continue Reading »
Cerita Dewasa 08 Apr 2009 05:06 pm
Aku Tergoda Tante Girang Mona – Cerita Dewasa
Cerita dewasa kali ini tentang pengalamanku ( kalian bisa panggil aku setio 32 tahun) selingkuh dengan wanita paruh baya bernama tante mona yang sudah berumur 42 tahun, sebenarnya saya sudah menikah namun sampai usia 4 tahun pernikahaan saya belum juga di karuniai anak.
Continue Reading »
video bokep 18 Mar 2009 02:06 am
Saat pertama kali aku selingkuh – Video bokep 3gp Free
Video bokep 3gp Free ini adalah dokumentasi video dari cerita yang sudah di posting sebelumnya tentang pertama kali aku selingkuh saya sengaja memosting ini awalnya untuk dokumentasi pribadi namun alangkah baiknya jika temen-temen yang lain bisa ikutan juga menikmati video bokep ini untuk keperluan pribadi.
Cerita Dewasa 18 Mar 2009 01:52 am
Selingkuh dengan bos di kantor yang cantik – cerita dewasa
cerita dewasa kali ini menceritakan pengalamanku pada saat aku selingkuh dengan bos di kantor sendiri dimana aku disana sudah dua tahun aku bekerja di perusahaan swasta ini. Aku bersyukur, karena prestasiku, di usia yang ke 25 ini aku sudah mendapat posisi penyelia. Atasanku seorang wanita berusia 42 tahun. Walaupun cantik, tapi banyak karyawan yang tidak menyukainya karena selain keras, sombong dan terkadang suka cuek. Namun sebagai bawahannya langsung aku cukup mengerti beban posisi yang harus dipikulnya sebagai pemimpin perusahaan. Kalau karyawan lain ketakutan dipanggil menghadap sama Bu Melly, aku malah selalu berharap dipanggil. Bahkan sering aku mencari-cari alasan untuk menghadap keruangan pribadinya.
Continue Reading »
Cerita Dewasa 18 Mar 2009 01:49 am
Saat pertama kali aku selingkuh – Cerita Dewasa
Cerita dewasa ini menceritakan kisah pengalamanku ketika pertama kali aku selingkuh dari istriku, memang kata orang itu SLI ( selingkuh itu indah ) banyak perasaan bercampur aduk disana antara perasaan bersalah, perasaan tegang, perasaan nikmat. Simak kisah ceritaku di bawah ini :
Continue Reading »

